Jadi Pemimpin Harus Berani Mengambil Risiko

Rabu, 28 Maret 2018 – 03:00 WIB
Moeldoko. Foto: KSP

jpnn.com, BANDUNG - Negara maju memiliki ciri-ciri diisi oleh orang-orang yang memiliki need of achievement, kebutuhan akan prestasi yang sangat kuat.

Bukan need of affiliation, berdasar kolusi dan nepotisme. Mereka yang ada di negara maju memiliki standar keunggulan dalam bekerja, menyukai tantangan, mengambil tanggung jawab pribadi, disiplin dan berani ambil risiko.

BACA JUGA: Moeldoko Ajak Mahasiswa Ikut Genjot Pembangunan SDM

Itu disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat berbagi ilmu seni kepemimpinan di hadapan 278 Perwira Siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung.

Moeldoko menguraikan ada lima hal mengapa seseorang mau mengikuti orang lain. Pertama karena otoritas/ kekuasaan. Dasarnya perintah.

BACA JUGA: Sowan Ke Moeldoko, Tinton Tagih Janji MotoGP Indonesia

“Misalnya, seorang Jenderal pada level kepangkatan di bawah,” contohnya.

Hal kedua seseorang mau mengikuti orang lain karena rasa takut. Biasanya ini oleh mafia. Yang ketiga karena ada kharisma, misalnya dimiliki oleh para pemimpin agama.

BACA JUGA: Moeldoko Ajak Santri Tidak Meragukan Pancasila

Hal keempat seseorang mau mengikuti orang lain, karena memiliki hal atau aspirasi yang sama. Ini terjadi pada partai politik.

Namun, hal kelima mengapa seseorang mau ikut atau dipimpin orang lain, adalah karena kagum dan percaya kepada sang pemimpin.

 

“Inilah tingkatan tertinggi seseorang jadi pemimpin,” kata Panglima TNI 2013-2015 itu.

Moeldoko menegaskan, seorang pemimpin harus memberikan kebajikan kepada bawahan. Sehingga akhirnya, bawahannya akan berkata, "Tidak ada hal yang bisa saya berikan kepada Anda, kecuali kesetiaan,” ungkap pria yang pernah menjabat Panglima Kodam Tanjungpura dan Siliwangi ini.

Dipaparkannya, kepemimpinan setidaknya memiliki aspek. Aspek pertama terkait hal-hal fisik, seperti visual aspect, audio aspect dan smell aspect, terkait hal-hal fisik yang akan mempengaruhi persepsi orang lain tentang kemampuan leadership seseorang.

“Meski di bagian permukaan, aspek ini tak boleh diabaikan. Kalau kita tak rapi, orang akan dengan mudah mengartikan siapa diri kita. Aspek fisik jadi ukuran awal orang lain menilai kita,” ungkap mantan Wakil Gubernur Lemhanas itu.

Selanjutnya, aspek intelektual, mencakup logical thinking, creative thinking, dan practical thinking.

“Aspek ini lebih dari sekadar masalah nilai IQ, karena terkait kemampuan seseorang dalam mengelola cara berpikir sehingga mampu memberi pengaruh efektif kepada orang lain,” kata periah gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia yang lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Berikutnya adalah aspek kemampuan sosial, meliputi social awareness, social relationship management, dan social problem solving skill. Kepala Staf Kepresidenan menekankan, aspek ini lebih dari sekadar kecerdasan emosial karena terkait kemampuan membangun jaringan sosial sebagai modal untuik melebarkan pengaruh.

Terkait aspek kemampuan sosial, Moeldoko mengingatkan penting pemimpin yang tidak ciptakan barrier atau hambatan psikologis bagi bawahan.

"Jadi pemimpin itu harus banyak mendengar!” tegasnya.

Aspek keempat yakni aspek emosional, termasuk di antaranya recognition of emotion, expression of emotional, dan management emosi.

“Ini terkait manajemen emosi atau kemampuan mengelola emosi orang lain sehingga mampu memberikan pengaruh lebih optimal,” lanjutnya.

Aspek kelima adalah aspek personal, menyangkut self awareness, self confidence, dan self motivation.

“Inilah salah satu aspek yang menjadi fondasi kepemimpinan, karena terkait dengan kesadaran tentang hakekat diri serta visi-misi pribadi yang akan disebar dan disebarluaskan kepada orang lain,” kata Moeldoko.

Keenam yakni aspek moral, terkait integrity, responsibility, and generosity atau kemurahan hati.

“Aspek moral menjadi salah satu fondasi penting kepemimpinan terkait kemampuan seseorang menjaga integritas moral, sehingga pengaruh yang diberikan kepada orang lain menjadi sustainable atau berefek jangka panjang,” urai pemilik beberapa bintang tanda jasa tersebut.

Mantan Gubernur Lemhanas itu kemudian memaparkan tujuh hal terkait Transformasi Kepemimpinan, seperti yang sudah diterapkan di TNI. Pertama, from Honesty to Trust, dari Jujur Menjadi Dipercaya.

“Jujur memang keniscayaan, tetapi anggota TNI yang menjadi dipercaya masyarakat akan jauh lebih penting,” kata Moeldoko.

Selanjutnya From Quality to Preference. Dari Kualitas ke Pilihan. “Memiliki kualitas kemampuan memang diwajibkan, tetapi menjadi pilihan rakyat untuk berlindung lebih utama,” kata pria kelahiran Kediri pada 1957 itu.

Hal ketiga, From Notoriety to Aspiration. Dari Kemasyuran ke Aspirasi. “Memiliki kemasyuran karena memiliki prestasi memang utama, tetapi mampu menjadi aspirasi bagi rakyat untuk membantu bela negara jauh lebih bermanfaat,” jelasnya.

Hal keempat yakni From Identity to Personality. “Atribut dan senjata adalah identitas seorang anggota TNI, tetapi memiliki personalitas yang baik akan membuat institusi menjadi lebih terhormat di mata rakyat," kata alumnus Akabri tahun 1981 tersebut.

Hal kelima yakni Ubiquity to Presence. Dari Ada di Mana-mana ke Kehadiran.

“Anggota TNI memang sudah menyebar di seluruh nusantara, tetapi apakah mereka semua sudah hadir di hati rakyat?” tanyanya.

Hal keenam, From Communication to Dialogue, komunikasi menggunakan panca indera, dialog menggunakan hati.

“Saat saya jadi pemimpin di KSAD, saya biasa datangi meja bawahan saya. Duduk di kursi di depannya, mendengarkan apa keluhan dan masukannya,” kata Moeldoko yang dalam setahun pada 2013 menjabat Wakil KSAD, KSAD dan Panglima TNI.

Hal ketujuh yakni From Service to Relationship. Dari Pelayanan ke Hubungan Baik. “Melayani rakyat adalah kewajiban, menjalin hubungan baik dengan rakyat adalah hak TNI,” pungkasnya.(flo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sudah Dialokasikan Dana Beasiswa untuk 16 ribu Mahasiswa


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler