Jangan Konsumsi Olahan Kerang Hijau

Senin, 09 Januari 2017 – 07:59 WIB
Kerang hijau. Ilustrasi Foto: Radar Cirebon/dok.JPNN.com

jpnn.com - jpnn.com - Tujuh warga Cirebon, Jawa Barat, keracunan makanan olahan kerang hijau. Mereka sempat dievakuasi ke RS Gunung Jati dan kini kondisinya berangsur membaik.

Minggu (8/1), satu persatu korban keracunan kerang hijau ditempat hajat tersebut sudah diperbolehkan pulang.

BACA JUGA: Terjebak di Restoran Saat Diet? Ini Triknya

Keterangan tersebut disampaikan Deni, Kepala Dusun Desa Keraton yang ditemui Radar Cirebon (Jawa Pos Group) di kantornya Minggu (8/1).

Dikatakan Deni, sudah sejak Sabtu malam sebenarnya kondisi korban membaik. Setelah dari IGD, para korban kemudian dievakuasi ke ruang perawatan.

BACA JUGA: Suka Makan Pizza? Baca ini deh

“Dari malam kondisinya sudah membaik, tapi kan harus nunggu dokter dulu, jadi siang ini (Minggu) sudah pada pulang setelah ada pemeriksaan terakhir dari dokter,”ujarnya.

Dikatakan Deni, hanya enam pasien yang dirawat di RS Gunung Jati karena satu warga lainnya setelah diperiksa di IGD, kondisinya masih baik dan tidak sampai dirawat.

BACA JUGA: Makan di Atas Jam 7 Malam Bikin Gemuk?

Namun, menurutnya, jumlah korban bisa saja bertambah jika melihat warga yang hadir di hajatan pernikahan anak dari Casmuna dan Saodah tersebut.

Pasalnya, hampir seluruh warga yang hadir memakan hidangan olahan kerang hijau yang disajikan oleh tuan rumah.

“Hampir semuanya makan, mungkin yang keracunan itu makan kerangnya banyak dan kondisinya kurang fit,”imbuhnya.

Dijelaskan Deni, dari cerita tuan hajat, saat itu pihak tuan rumah membeli sekitar 9 Kg kerang hijau dari seorang penjual kerang.

Namun pihak desa tidak mengetahui asal – usul kerang yang dibeli tuan hajat tersebut apakah memang berasal dari perairan Cirebon atau dari luar kota.

“Kerangnya dari pengepul sekitar sini juga, kalau pengepulnya dari mana saya juga belum tanya, apakah dari sini atau dari tempat lainnya,”paparnya.

Padahal menurut Deni, sudah semenjak ada warga Suranenggala yang tewas karena keracunan kerang pada akhir tahun lalu, ia sudah memberikan imbauan kepada warga desanya untuk sementara waktu menghindari makanan olahan dari kerang hijau.

“Saya bahkan siarkan di masjid dan musala agar tidak mengonsumsi ijoan, tapi ya susah, karena barangnya melimpah dan sudah terbiasa jadi masih saja ada yang makan,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Cirebon AKP Galih Wardani SIK didampingi KBO Reskrim Iptu Abdul Majid SH mengatakan bahwa hasil test uji laboratorium atas sample-sample dari kasus pertama yang terjadi akhir tahun lalu sudah diterima pihak kepolisian.

Dalam laporan hasil uji lab yang dikeluarkan oleh Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Banten tersebut, daging kerang hijau yang samplenya dikirimkan beberapa waktu lalu positif mengandung PSP (Paralytik Shellfish Poisioning) dari Phytoplankton Pyrodinium Bahamense.

“Hasilnya sudah kita terima, tentunya akan ada pertemuan dengan dinas terkait untuk sosialisasinya dan tindak lanjut dari hasil uji lab ini,”ungkapnya.

Pihaknya pun meminta agar masyarakat untuk sementara waktu tidak untuk mengonsumsi olahan kerang hijau agar tidak ada lagi korban yang jatuh akibat keracunan kerang hijau. (dri)

Kesimpulan Hasil Uji Lab

- Sample yang diuji ada tiga yakni meliputi kualitas air, sedimentasi dan fisik kerang hijau

- Penyebab racun dalam kerang hijau salah satunya adalah akibat PSP (Paralytik Shellfish Poisioning) dari Phytoplankton Pyrodinium Bahamense.

- Pengujian lainnya dengan menggunakan parameter berbeda yakni menguji kandungan Timbal (Pb), Cadnium (Cd), Mercury (Hg) masih dibawah ambang batas normal.

- Pengujian dilakukan oleh Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Tanggerang.

Sumber: Polres Cirebon Kota

PARALYTIC SHELLFISH POISON (saxitoxin)

Senyawa toksik utama dari paralytic shellfish poison adalah saxitoxin yang bersifat neurotoxin. Keracunan toksin ini dikenal dengan istilah “Paralytic shellfish poisoning” (PSP).

Keracunan ini disebabkan karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang memakan dinoflagelata yang beracun. Dinoflagelata sebagai agen saxitoxin dimana zat terkonsentrasi di dalamnya. Kerang-kerangan menjadi beracun di saat kondisi lingkungan sedang melimpah dinoflagelata yang beracun yang disebut pasang merah atau ‘red tide’.

Keracunan Saxitoxin menimbulkan gejala keracunan seperti rasa terbakar pada lidah, bibir dan mulut yang selanjutnya merambat ke leher, lengan dan kaki.

Kemudian berlanjut menjadi mati rasa sehingga gerakan menjadi sulit. Dalam kasus yang hebat diikuti oleh perasaan melayang-layang, mengeluarkan air liur, pusing dan muntah.

Toksin memblokir susunan saraf pusat, menurunkan fungsi pusat pengatur pernafasan dan cardiovasculer di otak, dan kematian biasanya disebabkan karena kerusakan pada sistem pernafasan.

sementara dosis mematikan untuk manusia adalah sekitar 1 – 4 mg. Sebagai control terhadap pemasaran jenis kerang-kerang didasarkan pada acuan yang dianjurkan oleh WHO yaitu bagian yang dapat dimakan dari kerang-kerangan mengandung 3 MU/g toksin PSP. Di Jepang jenis kerang-kerang komersial toksisitasnya selalu dimonitor secara periodik untuk mencegah keracunan.

Beberapa cara pengolahan yang sudah dilakukan untuk mengurangi racun saxitoxin:

1. Jay (1978): toksin saxitoxin dapat diturun dengan pemanasan di atas 100°C.

2. Stewart (1978): ozon dapat menurunkan keracunan saxitoxin pada kerang-kerangan yang terkontaminasi racun tersebut, demikian pula perlakuan panas dapat menurunkan daya racun di dalam kerang-kerangan.

3. Noguchi et al. (1980): menurunnya toksisistas pada remis Patinopecten yessoensin terjadi selama proses “retorting” dan pada toksin yang tersisa terjadi penurunan kadar nya selama proses penyimpan.

4. Nagashima et al. (1991): kadar toksin saxitoxin menurun dengan semakin lamanya waktu pemanasan. Semakin tinggi suhu pemanasan maka waktu yang diperlukan untuk mengurangi kadar toksin semakin cepat, dapat dilihat pada Gambar 8. Pemanasan pada suhu 100°C selama 30 menit atau 60 menit, kandungan toksin meningkat dari 15 MU/gr homogenate menjadi 30 MU/gr homogenate, tetapi menurun secara linier pada waktu pemanasan selanjutnya. Pola perubahan yang sama terhadap kadar toksin terjadi pada pemanasan 110 dan 120°C. Pada pemanasan suhu 110 dan 120°C terlihat pola perubahan toksisitas lebih cepat dari pada pemanasan suhu 100°C.

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Khusus 17 Tahun+: Ini Risiko Bercinta saat Datang Bulan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler