Jangan Sampai Matahari Kembar Model Pemerintahan SBY-JK Muncul Lagi

Kamis, 11 Mei 2023 – 15:16 WIB
Direktur Eksekutif Voxpol Indonesia Pangi Syarwi Chaniago menjadi pembicara pada diskusi Empat Pilar dengan tema PPHN Tanpa Amendemen di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyatakan capres maupun partai pengusungnya harus cermat dalam menentukan calon wakil presiden atau cawapres untuk Pilpres 2024.

Direktur eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu menegaskan cawapres dari partai politik yang memiliki basis dukungan kuat akan dapat membantu mengangkat elektabilitas capres. ?

BACA JUGA: Elektabilitas & Isi Tas Cawapres akan Menentukan Kemenangan Capres di Pilpres 2024

"Memilih calon wakil presiden yang dapat menjaga stabilitas politik dan meredam potensi konflik di dalam pemerintahan dapat memberikan keyakinan kepada pemilih bahwa pasangan tersebut mampu menghadapi tantangan dan dinamika politik dengan baik," ujar Pangi melalui layanan pesan, Kamis (11/5).

Ipang -panggilan akrabnya- menambahkan ada kemungkinan cawapres digandeng karena kebutuhan tertentu capres sebagai user.

BACA JUGA: Hasil Survei Terbaru: Elektabilitas Anies Baswedan di Jatim Mengenaskan

Dia memerinci kebutuhan tertentu itu bisa berupa representasi basis segmen pemilih yang tidak beririsan. Artinya, capres dan cawapres memiliki segmen pendukung berbeda.

Kebutuhan tertentu itu juga bisa berupa irisan representasi wilayah, misalnya Jawa dengan non-Jawa. Bisa juga kebutuhan capres akan cawapres didasarkan pada konteks blok ideologis.

BACA JUGA: 13 Nama di Bursa Cawapres, 6 untuk Anies Baswedan

“Pertimbangan lainnya ialah representasi kebutuhan pemilih Gen Z dan milenial,” ulasannya.

Walakin, Pangi mencurigai adanya desain tentang membisiki capres tertentu untuk menggandeng figur cawapres yang kurang tepat.

“Ada skenario pembusukkan dari dalam, membisikkan cawapres yang salah kepada kingmaker atau veto players dalam hal konteks mengandeng cawapres, sehingga makin menyulitkan kans kemenangan," katanya.

Pangi menegaskan capres dan cawapres harus saling melengkapi, masing-masing memiliki keahlian dan pengalaman yang komplementer sehingga bisa memberikan keuntungan tambahan dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan jika kelak terpilih. 

Dia juga menyebut chemistry antara capres dengan cawapres merupakan hal penting. Pangi mencontohkan duet Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla (SBY-JK) yang memimpin Indonesia pada 2004-2009.

"Jangan sampai matahari kembar seperti SBY-JK tempo dulu, apalagi pada periode berikutnya ada potensi persaingan elektoral antara capres dengan cawapresnya untuk merebut RI 1 pada periode kedua masa jabatan," ucap Pangi.(mcr8/JPNN.com)

Yuk, Simak Juga Video ini!

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hasto PDIP Sebut Inisial SBY saat Lepas Bus Pemudik Tujuan Pacitan


Redaktur : Antoni
Reporter : Kenny Kurnia Putra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler