Jarak Buffer Zone Berstandar Internasional Patut Dicontoh di Indonesia

Jumat, 24 Maret 2023 – 19:44 WIB
Kebakaran menimpa rumah warga di sekitar objek vital nasional (Obvitnas). ILUSTRASI Foto: Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Juwari mengatakan, jarak buffer zone dengan standar internasional di luar negeri bisa menjadi contoh bagi objek vital nasional (Obvitnas) di Tanah Air.

Dalam hal ini, jarak buffer zone berstandar internasional tersebut cukup jauh dan steril dari permukiman penduduk.

BACA JUGA: Kehadiran Buffer Zone Mencegah Bahaya Sampai ke Masyarakat

“Buffer zone sangat dibutuhkan untuk mencegah bahaya sampai ke masyarakat. Untuk itu, kondisi buffer zone pada industri di negara maju yang jauh dari permukiman, patut dicontoh di Indonesia,” ujar Juwari.

Juwari mengingatkan keberadaan buffer zone memang sangat penting di semua Obvitnas.

BACA JUGA: Merokok Bisa Membatalkan Puasa, Bagaimana dengan Vape?

Terutama bagi industri atau Obvitnas yang memiliki potensi bahaya, seperti kebakaran, ledakan, dan kebocoran bahan beracun.

Hanya saja, lanjutnya, sebenarnya belum ada ketentuan baku mengenai jarak buffer zone.

BACA JUGA: Berbahaya Tinggal di Sekitar Area Obvitnas, Buffer Zone Sangat Penting Diterapkan

Jarak tersebut sangat tergantung dari masing-masing potensi bahaya dari industri atau Obvitnas.

Sebagai ilustrasi, Juwari mencontohkan dua industri atau Obvitnas yang sama, yakni bahan kimia.

Meski sama-sama bahan kimia, ternyata ada perbedaan mengenai jarak buffer zone ideal. Yakni, antara bahan kimia beracun dan bahan kimia yang ‘hanya’ mudah terbakar dan meledak.

“Bahan kimia beracun membutuhkan buffer zone lebih jauh dibandingkan yang ‘hanya’ mudah terbakar dan meledak. Hal ini untuk mengantisipasi, jika terjadi kebocoran, agar tidak mengalir dan terbawa angin karena bisa meracuni warga. Sedangkan yang ‘hanya’ berpotensi meledak, buffer zone dibutuhkan untuk mencegah dari dampak ledakan saja,” urainya.

Tetapi itu tadi, kata dia, merujuk pada buffer zone berstandar internasional di luar negeri, di mana steril dari penduduk tentu bisa dijadikan contoh.

“Karena jika sangat dekat, penduduk pasti akan merasa terganggu. Apalagi bahaya fisika seperti kebisingan, getaran dan limbah industri yang perlu diolah sebelum dibuang ke lingkungan," kata Juwari.

Di sisi lain, Juwari juga menilai positif rencana Pertamina membangun kanal air di sekitar buffer zone.

“Rencana ini sangat baik dan tentu perlu dukungan semua pihak demi keselamatan semua," seru Juwari.

Mengenai kondisi buffer zone dengan standar internasional, pada Indonesia Iso Expert Association (IIEA) Forum Discussion, 9 Maret 2023.

Pada forum tersebut disampaikan, bahwa tidak ada masyarakat bermukim di Terminal BBM di negara maju.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler