Jatim Masih Kebingungan dengan Instruksi Presiden

Kamis, 26 Mei 2016 – 06:42 WIB
Ilustrasi. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com - SURABAYA - Pemerintah provinsi Jawa Timur (Jatim) kebingungan dengan instruksi presiden untuk menekan harga daging sapi ke sekitar Rp 80 ribu per kilogran sebelum Lebaran.

Dengan kekuatan stok saat ini, harga paling mungkin adalah Rp 90 ribu hingga Rp 95 ribu. Kepala Disperindag Provinsi Jatim M. Ardi Prasetiawan tampak pusing dengan instruksi presiden ini. ”Saya rasa itu (80 ribu rupiah per kilogram) ndak mungkin terpenuhi,” ujarnya, seperti dikutip dari JawaPos.com, Kamis (26/5).

BACA JUGA: Siapa Bilang Polisi Larang Pakai Baju Ini? Dapat Pujian kok...

Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Ardi tentang instruksi tersebut. Pertama, instruksi itu tidak spesifik menyebutkan daging apa yang harus ditekan pada harga tersebut.

Ada beberapa jenis daging di pasaran, mulai kualitas biasa hingga yang terbaik. Harga untuk masing-masing jenis daging itu pun berbeda. ”Apa ini daging biasa, daging wagyu, atau daging lemur, kita kan tidak tahu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Hukuman Mati Tidak Berlaku untuk Anak yang Cabul

Yang kedua adalah instruksi tersebut belum diikuti dengan strategi khusus bagaimana mengendalikan harga di pasaran. Pernyataan presiden hingga saat ini belum diikuti dengan aturan dan petunjuk teknis. ”Ini kan baru sebatas statement. Jadi, kita tunggu pusat punya strategi apa,” katanya.

Sebelum Ramadan tahun ini, Ardi optimistis stok kebutuhan daging untuk Jatim masih aman. Hanya, harganya tidak bisa dipatok serendah instruksi presiden.

BACA JUGA: Jenderal Bintang Dua Ini Dinilai Pantas jadi Kabareskrim

”Harga pasaran daging di Jatim 90, 95, maksimal 100 ribu. Kalau kita patok di bawah 90, kasihan para peternak,” ujarnya.

Mantan kepala Biro Perekonomian Pemprov Jatim tersebut menuturkan, Jatim selama ini merupakan sentra pemasok kebutuhan daging sapi nasional. Kebutuhan tersebut dipasok dari 300 rumah pemotongan hewan (RPH) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Dengan demikian, Jatim hampir tidak membutuhkan daging impor. Namun, jika harga dipaksakan hingga Rp 80 ribu per kilogram, otomatis Jatim harus membuka keran impor. ”Kalau daging impor masuk, para peternak lokal bisa marah,” ungkapnya.

Menurut Ardi, jika presiden memang menginginkan harga tersebut, Jatim harus dimasukkan dalam rencana impor pemerintah. Padahal, impor daging seharusnya lebih dikhususkan pada daerah-daerah yang bukan penghasil daging sapi.

Saat ini harga daging sapi di Jatim memang masih relatif tinggi, berkisar Rp 103 ribu hingga Rp 105 ribu per kilogram. Untuk itulah, petugas dari Disperindag Jatim tengah disebar ke pasar-pasar untuk menyosialisasikan kisaran harga yang ditetapkan pemprov.

Sidak ke pasar juga terus digiatkan. ”Harga tinggi ini cuma faktor psikologis masyarakat. Mereka khawatir stoknya tidak cukup,” ujar Ardi. (dio/jpg/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Megawati di Mata Yusril Ihza Mahendra


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler