Jelang Ramadan, Kementan Pastikan Produksi Bawang Merah di Bantaeng Melimpah

Minggu, 26 Februari 2023 – 13:27 WIB
Tanaman bawang merah yang tumbuh subur di wilayah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Selama ini Bantaeng juga menyuplai kebutuhan bawang merah di Sultra, Sulteng, Maluku, Papua Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Foto: Dokumentasi Humas Kementan

jpnn.com, BANTAENG - Produksi bawang merah di Sulawesi Selatan meningkat drastis setiap tahunnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri telah melakukan beberapa langka preventif untuk menekan seluruh komoditas yang berpotensi mempengaruhi inflasi, di antaranya bawang merah.

BACA JUGA: Panen Cabai Rawit di Mojokerto Melimpah Hingga Lebaran, Kementan Amankan Pasokan

Untuk mengantisipasi ketersediaan stok dan anomali harga, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah memerintahkan seluruh jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura untuk mengawal dan melakukan pendampingan ketersediaan bahan pokok penting, terutama cabai, bawang merah, dan bawang putih dalam menyambut Ramadan dan Lebaran 2023.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto bergerak cepat menindaklanjuti arahan Mentan Syahrul dengan memerintahkan jajarannya untuk memastikan ketersediaan dan kondisi di lapangan, terutama di lokasi sentra atau kawasan penyangga cabai dan bawang merah nasional.

BACA JUGA: Bawang Merah Asal Cimenyan Bandung Bakal Membanjiri Pasar Jelang Lebaran

Dirjen Prihasto membeberkan beberapa langkah strategis yang sudah dilakukan, mulai dari menyampaikan early worning system (peringatan dini) untuk menjaga ketersediaan 3 bulan ke depan di wilayah kampung hortikultura seluruh Indonesia.

"Kami harus mengantisipasi segala kemungkinan untuk menjaga stabilitas harga, Pak Menteri telah menginstruksikan kepada saya untuk melakukan segala upaya agar ketersedian produksi subsektor hortikultura ini tercukupi, dipastikan aman dan tidak bersoal," kata Dirjen Prihasto melalui keterangan, Minggu (26/2).

Berdasarkan data dari dinas pertanian setempat menguraikan bahwa jadwal musim tanam pada lokasi tadah hujan pada Oktober-November (musim tanam pertama), Februari-Maret (musim tanam kedua), April-Mei (musim tanam ketiga).

Kemudian untuk lokasi yang memiliki irigasi teknis bisa mencapai empat kali musim tanam, yaitu Juli-Agustus.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng Suryani Samun menyampaikan realisasi luas tanam Januari sampai dengan Februari 2023 mencapai kurang lebih 600 hektare.

Sementara itu, perkiraan panen pada April sampai Mei mencapai 6 ribu ton atau provitas 10 ton per hektare.

Lahan ini tersebar di 4 kecamatan, yaitu 581 hektare di Uluere , 7 hektare di Sinoa, Bantaeng dan Eremerasa masing-masing 2 hektare.

Total luas tanam dalam 1 tahun mencapai 1.821 hektare, dengan 3 sampai 4 kali musim tanam.

Dalam keterangannya, Suryani tak menampik jika bawang merah Bantaeng kini menyuplai Sultra, Sulteng, Maluku, Papua Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.

Suryani juga menegaskan perlunya upaya optimal dan terkoordinir antara pemerintah pusat dan daerah.

"Kalau produksi hortikultura mulai berkurang di Bantaeng, maka akan terjadi inflasi. Nah, Bawang merah ini kan salah satu penyebab inflasi, makanya kami apresiasi Kementan yang terus memantau kami," bebernya.

Suryani menyampaikan tim dari Ditjen Hortikultura sudah datang ke daerahnya dan pihaknya terus melakukan koordinasi di lapangan.

"Kami ingin agar stok bawang merah ini selalu tersedia, apalagi menjelang HBKN (Hari Besar Keagamaan dan Nasional)," ujarnya.

Perwakilan Ditjen Hortikultura Kementan Muhammad Agung Sunusi juga membenarkan sejauh ini Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng cepat dan tanggap dalam mengantisipasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan penanganan dampak perubahan iklim (DPI).

Hal ini terlihat pertanaman bawang merah tumbuh subur, sehingga diharapkan produksi dan provitas tanamannya tinggi.

"Bantaeng ini bisa dipastikan dapat menjadi penyangga pasokan bawang merah wilayah timur dan nasional secara umum," kata Agung Sunusi.

Agung melihat di lapangan petani sudah bergerak menuju budidaya ramah lingkungan yang ditandai dengan masifnya penggunaan agens hayati dan pestisida nabati di lapangan.

Lebih lanjut Agung menyebutkan kebutuhan benih bawang merah di lokasi ini mencapai 1,5 sampai dengan 2 ton per hektare, dengan umur panen tiga bulan di dataran tinggi dan 70 hari untuk dataran rendah.

Saat ini yang dominan adalah pertanaman di lokasi dataran tinggi dengan puncak di musim panen pada April.

Ketua Kelompok Tani Lannying Rusdi menambahkan pemenuhan kebutuhan benih di Bantaeng cukup maksimal.

Di lain hal, Lannying juga mengakui kualitas pestisida nabati bantuan Ditjen Hortikultura Kementan,

"Alhamdulilah sejak pakai pestisida nabati dari Kementan, itu hasilnya memang beda, daya simpan bawang merah bisa mencapai enam bulan. Bila dibandingkan dengan budidaya konvensional, hanya bisa maksimal bertahan sampai dua bulan," pungkasnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler