Jeritan Tak Terdengar Penguasa: 'Kami Belum Merdeka'

Senin, 14 Desember 2015 – 11:20 WIB
Tampak dua siswa menyeberangi pulau Gile Re dengan berjalan kaki melewati laut di Provinsi NTB. Siswa terpaksa melakukan hal bisa yang membahayakan nyawa itu karena sulitnya transportasi. FOTO: Lombok Post/JPNN.com

jpnn.com - Gili Re, salah satu pulau kecil di ujung selatan Lombok Timur (Lotim). Kondisi geografis yang terisolir oleh lautan membuat warga hidup dalam ragam keterbatasan.

Debur ombak laut selatan seolah membuat jeritan mereka tak terdengar oleh penguasa baik di Selong maupun Mataram. Berikut catatan wartawan Lombok Post (Grup JPNN.com), Wahyu Prihadi tentang perjuangan hidup masyarakat pulau mungil itu.

BACA JUGA: Pengusaha Reklame Jangan Nakal Ya, Nasibnya Bisa Seperti Ini

“Kami Belum Merdeka,” sebuah kalimat penuh arti yang dilontrakan Kadus Gili Re, Desa Pare Mas, Jerowaru Lombok Timur (Lotim), Abdurrahman. Sempat terpikir, mungkin itu dilontarkan karena ia sedang menghadapi masalah, atau karena banyak pikiran. Pria berbadan kurus itu lantas membawa kami menuju sudut lain di pulau kecil berpenduduk 400 jiwa tersebut.

Di sana tampak sejumlah anak asyik bermain di pinggir pantai. Berseragam lengkap warna coklat khas pakaian Pramuka yang digunakan untuk hari Sabtu, anak-anak itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bermain pasing, ada yang berkejaran ke sana ke mari, ada juga yang duduk-duduk santai. Beberapa abang-abang mereka yang juga berseragam terlihat serius bermain takraw.

BACA JUGA: PARAH: Pencurian Kayu di Kawasan Hutan Lindung Tak Terbendung

Bukan sedang bermalas apa lagi membolos. Mereka sebenarnya hendak berangkat ke sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 Wita. Namun belum ada satupun perahu yang bisa ditumpangi untuk menuju pulau seberang. Ya, untuk menuntut ilmu, puluhan anak pulau itu harus menyebrang lautan. Sekolah satu atap mereka SD dan SMP ada di Gili Beleq. Jaraknya kedua pulau itu sebenarnya tak jauh. Kurang dari 300 meter saja. Namun lautlah yang membuat perjalanan itu terasa berat.

Pagi itu perahu tak kunjung datang. Semua perahu di pulau sudah keluar untuk melaut, menjual hasil tangkapan, ataupun mengambil air ke Lombok. Bosan menunggu, Ilham, seorang siswa SMP yang paling besar memutuskan berenang ke seberang.

BACA JUGA: Money Politic Tapi Uang tak Kunjung Diberikan, CM Nyaris Digebuk Warga

“Ayo, nanti terlambat,” teriaknya pada teman-temannya yang lain.

Langkah beraninya itu lantas diikuti siswa SMP lainnya. Tak berselang lama, sejumlah siswa SD juga mengikuti jejak kakak-kakak mereka. sepatu yang dikenakan terpaksa harus dibuka. Beberapa memasukkannya ke dalam tas yang kemudian diangkat tinggi di atas kepala agar tak basah.

“Kalau tak ada perahu kita memang seperti ini,” kata Putri, seorang siswa kelas V SD.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Atlet Kalteng Masuk Cipayung, Jadi Andalan di PON Jabar


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler