Jokowi dan AHY Bertemu, Khoirul Umam: Sinyal Soliditas Infrastruktur Pemenangan Prabowo-Gibran

Selasa, 30 Januari 2024 – 08:11 WIB
Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (INDOSTRATEGIC) A Khoirul Umam. Foto: Dokumentasi pribadi for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam merespons pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Yogyakarta pada Minggu (28/1/2024).

Menurut Umam, pertemuan tersebut menyempurnakan rangkaian pertemuan presiden ketujuh RI itu dengan para ketua umum partai-partai politik pengusung Paslon 02 Prabowo-Gibran.

BACA JUGA: Data Riset Analitika: Prabowo-Gibran 51,7%, Pilpres Selesai Satu Putaran

Sebelum melakukan lawatan ke negara-negara jiran di Asia Tenggara sekaligus mangkir dari perayaan HUT ke-51 PDIP, Jokowi telah satu per satu menemui Ketum Gerindra yang juga Capres 02 Prabowo Subianto, lalu berlanjut dengan Ketum Golkar Airlanggar Hartarto dan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Saat itu, sejumlah spekulasi bermunculan, mengapa Jokowi tidak menemui Ketum Partai Demokrat.

BACA JUGA: Forum Masyarakat Adat Buru Bersatu Siap Menangkan Prabowo-Gibran

“Maka, pertemuan Jokowi dan AHY menyempurnakan rangkaian pertemuan itu sekaligus menegaskan arah keberpihakan dan dukungan politik Jokowi untuk Paslon 02 Prabowo-Gibran,” ujar Khoirul Umam dalam keterangan tertulisnya pada Senin (29/1/2024).

Khoirul Umam yang juga Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) ini menilai pertemuan Jokowi dan AHY ini merupakan bentuk pengakuan terhadap peran Partai Demokrat dalam proses pemenangan Prabowo-Gibran.

BACA JUGA: Kaesang Minta Warga Makassar Coblos Prabowo-Gibran dan PSI

“Jokowi tampaknya ingin memastikan infrastruktur pemenangan dan mesin politik Prabowo-Gibran benar-benar berjalan optimal, menjelang Pilpres pada 14 Februari 2024 mendatang,” ujar Khoirul Umam.

Di sisi lain, kata Khoirul Umam, dalam berbagai kesempatan, AHY juga sering menyampaikan pesan bahwa partainya kali ini sangat serius dan tidak main-main dalam kerja-kerja politik pemenangan Prabowo-Gibran.

Dalam pernyataan publiknya, AHY sering menekankan pesan “gas pol” dan “Demokrat all out” untuk pemenangan Prabowo-Gibran. Hal sama juga sering disampaikan Presiden ke-6 RI SBY yang juga sesepuh di Demokrat.

Menurut Khoirul Umam, ketegasan AHY dan Demokrat untuk mendukung Prabowo-Gibran ini wajar dan cukup bisa dipahami. Pasalnya, menang atau kalahnya Prabowo-Gibran di Pemilu 2024 ini akan menjadi “pertaruhan besar” bagi Demokrat, yang selama 10 tahun ini telah memilih berpuasa dari kekuasaan.

“Menang atau kalahnya Prabowo-Gibran akan  menjawab asa Partai Demokrat, akankah Demokrat bisa kembali masuk ke pemerintahan? Sekaligus juga menjawab arah ketetapan takdir, apakah keputusan Demokrat bermanuver untuk cabut dari Koalisi Perubahan yang selama dua tahun sebelumnya ia bangun bersama Nasdem dan PKS, apakah tepat atau tidak,” ujar Khoirul Umam.

Menurut Khoirul Umam, jika Demokrat berkerja optimal, maka Paslon 02 Prabowo-Gibran akan mendapatkan insentif elektoral di basis-basis kekuatan Demokrat selama ini, terutama di wilayah Jawa Timur area Mataraman atau Selatan, lalu Jawa Barat, Banten, Aceh, Sumatera Barat, dan sejumlah titik di Sumatra secara umum.

Termasuk juga beberapa simpul kekuatan di wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua, yang mana politisi Demokrat William Wandik juga menjadi Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan juga Istri mendiang Lukas Enembe yang memiliki akar politik kuat di Papua Pegunungan juga kini menjadi Caleg Demokrat.

Artinya, dukungan Demokrat kepada Prabowo-Gibran cukup menentukan, khususnya dalam upaya penguatan target menang satu putaran.

“Jika Prabowo-Gibran bisa lebih disiplin dan menghindari blunder-blunder dalam sikap dan statemen publiknya, kemungkinan menang satu putaran cukup berpeluang diantisipasi,” ujar Khoirul Umam.

Pada sisi lain, menurut Khoirul Umam, Demokrat juga bisa mendapatkan keuntungan politik tersendiri lewat keberpihakannya pada Paslon 02 Prabowo-Gibran.

Sebab, selain memiliki magnet politik sendiri sejak Pemilu 2004, Demokrat juga bisa memperoleh efek ekor jas (coat-tail effect).

“Sebab, karakter swing voters dan DNA pemilih di Indonesia umumnya cenderung digerakkan oleh tren umum dan dinamika isu menjelang Pilpres, dimana para pemilih cenderung terbawa ikut-ikutan mendukung Paslon tertentu yang memiliki kemungkinan menang lebih besar dalam Pilpres serta Paslon yang relatif tercitrakan lebih kuat serta dekat dengan kekuasaan (the ruling power),” ujar Khoirul Umam.

Menurut Khoirul Umam, dinamika politik semacam ini sering kali terjadi dan menggeliat di akar rumput sebagai fenomena politik alamiah yang secara sosio-antropologis, terbukti terjadi di Pilpres 2009, 2014, dan juga 2019.

“Oleh karena itu, narasi Demokrat yang belakangan digemakan AHY tentang pentingnya keberlanjutan dan perbaikan, sebagai derivasi nama lain dari perubahan, cukup relevan dan bisa ia kapitalisasi untuk penambahan kekuatan suara di Pemilu 2024 ini,” ujar Khoirul Umam.(fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler