Jual Harta, Menuntut Ilmu di Pedepokan Dimas Kanjeng

Selasa, 04 Oktober 2016 – 00:52 WIB
Barang bukti aksi penipuan Dimas Kanjeng. Foto: Angger Bondan/dok.JPNN.com

jpnn.com - WARGA Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalbar, ada yang menjadi pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Namun, jumlahnya belum bisa dipastikan oleh Lurah Sungai Pinyuh.

Ari Sandy & Isfiansyah

BACA JUGA: Pare Memang Pahit tapi Khasiatnya Luar Biasa, Pak Dahlan Sudah Membuktikan

“Saya memang mendengar adanya kasus pengikut Dimas Kanjeng tersebut. Jumlah pengikutnya belum bisa kita pastikan berapa orang. Saat ini pihak kita belum melakukan pendataan, berapa warga Pinyuh yang mengikuti jejak Dimas Kanjeng,” kata Agus Suhaini, Lurah Sungai Pinyuh, kemarin. 

Agus mengaku segera melakukan pendataan agar diketahui siapa saja warganya yang menjadi pengikut Dimas Kanjeng. Dipastikannya, saat ini masih ada beberapa warganya yang berada di padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo. 

BACA JUGA: Kisah Mengharukan Safrina, Penderita Cerebral Palsy, Kuliah Hingga S-2

“Mereka masih bertahan, meskipun Dimas Kanjeng telah ditangkap dan padepokannya ditutup. Alasan warga Sungai Pinyuh tetap bertahan di padepokan, karena ingin mendapat kepastian terkait nasib mereka. Alhamdulillah kondisi warga kita dalam keadaan baik semua,” katanya.

Agus membenarkan, banyak warganya yang menjual dan menggadai barang-barang berharganya. Tujuannya agar bisa berangkat ke padepokan Dimas Kanjeng. 

BACA JUGA: Jual Nasi Rp 2.000 Sebungkus, Jangan Tanya Untung Berapa

“Mereka menjual dan menggadaikan tanah, perhiasan dan rumah. Uang itu juga digunakan sebagai modal agar bisa digandakan,” ungkap Agus.

Kapolsek Sungai Pinyuh, Kompol Agus  Dwi Cahyono mengatakan, berdasarkan pendataan sementara, ada 16 warga yang diduga berada di padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo.

“Pendataan ini akan terus dilakukan, memastikan kembali berapa jumlah warga kita yang ikut Dimas Kanjeng di Probolinggo,” ujarnya.

Kompol Agus  Dwi Cahyono berharap, warga yang masih bertahan di Probolinggo agar segera pulang ke Sungai Pinyuh. Dia akan menjamin keamanan bagi mereka yang ingin kembali ke kampung halamannya.

“Kami kasihan kepada keluarga dan saudara yang ditinggalnya, hanya untuk mengikuti Dimas Kanjeng di Probolinggo. Kami akan menerima mereka untuk kembali di kampung halaman. Demi keselamatan mereka, kami jamin 100 persen,” tegasnya.

Menurut Kusnadi, warga Gang Masjid Khairiah, salah seorang pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Sungai Pinyuh, awal mula dirinya menjadi pengikut karena diajak oleh rekannya.

Sebelumnya dia sempat tidak percaya. Kemudian menjadi percaya, setelah menyaksikan sendiri di padepokan Dimas Kanjeng. 

“Saya mengikuti Dimas Kanjeng ini sudah tujuh tahun dengan niat sendiri. Saya ingin menuntut ilmu di sana. Ini semua tidak ada unsur paksaan, Alhamdulillah banyak yang saya dapat selama belajar disana. Seperti berzikir, istiqosah setiap malam dan salat lima waktu,” ujarnya.

Kusnadi membantah terkait informasi yang dia dapat, seperti menggandakan uang. Semuanya itu tidak benar, yang ada hanya bantuan untuk umat-umat yang tidak mampu secara sukarela.

“Apa yang diajarkan di sana itu semuanya betul dan benar, menurut saya. Kalau persoalan rumah warga yang sudah disegel itu benar sekali. Bahkan mereka rela menjual dan menggadaikan barang-barang berharga. Ada juga rumah yang sudah disegel oleh CU (Credit Union), itu semua bukan untuk mahar tapi kemungkinan untuk biaya pergi ke sana selama berbulan-bulan,” ungkap Kusnadi.

Senada juga diungkapkan Asni Jais, Warga Gang Masjid Khairiah, Sungai Pinyuh. 

Dia baru pulang dari padepokan Dimas Kanjeng. Di sana dia mengaku berzikir, istiqosah setiap malam dan salat lima waktu. 

Asni Jais ikut bergabung di padepokan Dimas Kanjeng berawal dari ajakan temannya yang lebih dulu menimba ilmu di sana. Kemudian dia dan beberapa warga lainnya ikut serta pergi ke padepokan tersebut.

“Kita berangkat ke sana benar-benar untuk menuntut ilmu, seperti pengajian atau istiqosah,” jelas Asni Jais.

Dia juga membantah pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan ajaran Dimas Kanjeng tersebut sesat.

“Semua ajarannya tidak ada yang menyesatkan. Karena semua yang diajarkan sesuai syariat Islam,” katanya.

Asni Jais membeberkan, masih ada beberapa warga Sungai Pinyuh yang masih bertahan untuk memastikan nasibnya. Ada sekitar 40 yang ikut Dimas Kanjeng. 

Masih ada sekitar 11 warga yang masih bertahan di sana seperti, Karno, Slamet, Basren, Muin, Hartono, Helmi, Ibu Non, Darmadi, Hj. Saroi, Bujang serta Mazad. 

“Bahkan ada juga warga kita yang meninggal di sana, dikarenakan sakit, seperti Pak Waris. Hanya kita belum tahu perkembangannya saat ini, tapi mereka belum ada yang pulang,” ungkapnya. (*/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 79 Tahun Masih Energik, Eyang Titiek Puspa: Saya Ingin Peluk Anak-anak Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler