Julie Bishop mengecam perilaku buruk para politisi di Parlemen Australia yang menurutnya tidak akan bisa terima di lingkunga kerja lainnya.

Mantan Menlu ini menyatakan hal itu dalam penghargaan Women's Weekly di Sydney.

BACA JUGA: Apakah Kita Telah Merusak Tujuan Wisata Demi Sebuah Foto di Instagram?

Menurut dia, sungguh tidak dapat diterima bahwa anggota parlemen perempuan dari partainya, Partai Liberal, tidak sampai seperempatnya.

"Tak dapat diterima bila partai kami turut berkontribusi pada penurunan peringkat Australia dalam perwakilan perempuan di parlemen dari peringkat 15 pada 1999 jadi peringkat 50 hari ini," paparnya.

BACA JUGA: Ratusan Pekerja Bangunan China Mogok di Tasmania Karena Gaji Belum Dibayar

"Partai kami, dan juga parpol lainnya, mengakui adanya masalah dalam menarik dan mempertahankan perempuan, serta keragaman secara umum," kata Bishop.

"Sangat jelas adanya perilaku yang diterima di Canberra dan tidak akan ditoleransi di tempat kerja lainnya di seluruh Australia," ujarnya.

BACA JUGA: Butuh Kerja Keras Untuk Bisa Tinggal Lebih Lama di Australia

"Saat seorang wanita luar biasa seperti Julia Banks menyatakan lingkungan ini bukan untuk dia, jangan bilang 'tegarlah tuan putri'. Katakan 'sudah cukup'," tambahnya.

Julie Bishop belum mau mengomentari kisruh kepemimpinan Partai Liberal yang membuatnya tergeser sebagai wakil ketua.

Namun dia mengakui hal itu memicu diskusi tentang bullying, intimidasi, pelecehan dan pemaksaan serta perlakuan tidak adil terhadap politisi perempuan. Photo: Anggota DPR dari Partai Liberal Julia Banks mengaku mengalami bullying dan intimidasi. (ABC News: Nick Haggarty)

"Politik itu keras, sifatnya begitu, bukanlah untuk mereka yang lemah hati," ujarnya.

"Saya melihat, menyaksikan dan mengalami beberapa perilaku yang buruk di Parlemen," ucap Bishop.

"Jenis perilaku yang 20 tahun lalu ketika saya mengelola firma hukum dengan 200 karyawan, tidak akan pernah saya terima," katanya.

"Namun di Parlemen hal itu menjadi norma," tambah Bishop.

Wanita berusia 62 tahun, tetap menggunakan selera humornya untuk mengomentari bahwa dirinya adalah pilihan populer sebagai perdana menteri.

"Peristiwa perubahan kepemimpinan akan dibahas, diperdebatkan dan dibedah bertahun-tahun mendatang," katanya.

"Saya hanya bertanya-tanya, apa yang akan kulakukan bilan saya besar nanti?" ucapnya, merujuk pada perilaku kekanak-kanakan di seputar kisruh tersebut.Permusuhan di parlemen

Dalam posisinya sekarang sebagai anggota biasa DPR Australia, Julie Bishop bebas mengutarakan pendapatnya termasuk mengenai apa yang dilihatnya sebagai permusuhan di parlemen.

Menurut dia, hal ini memungkinkan oposisi menggunakan posisi mereka untuk memaksa pemerintah jatuh dari kekuasaan.

"Oposisi sekarang menggunakan posisinya untuk menjatuhkan pemerintah demi motif yang murni mementingkan diri sendiri," kata Bishop.

"Mereka akan menentang kebijakan, menolak demi memaksakan tekanan maksimum pada pemerintah meskipun kebijakan itu demi kepentingan nasional," paparnya.

"Bukan apa yang baik untuk Australia, tapi ini tentang godaan kekuasaan dan hak istimewa terkait jabatan menteri. Saya menyaksikan hal ini di kedua sisi politik," katanya.

Julie Bishop juga kritis terhadap perilaku anggota DPR dalam sesi Tanya Jawab (Question Time) di DPR, namun mengakui dirinya bukan berarti lebih baik.

"Saya yakin teater yang disiarkan televisi ini lebih banyak merusak Parlemen daripada masalah apa pun," katanya.

"Ini berakhir sebagai sirkus memalukan. Menteri dan menteri bayangan dinilai berdasarkan penampilan mereka di Question Time. Semakin banyak Anda menyerang, semakin mengolok-olok, semakin mendapatkan tepuk tangan," paparnya.

"Ketika kita sebagai politisi menunjukkan penghinaan satu sama lain, bukankah masyarakat dibenarkan untuk merasa jijik pada kita semua?" tambah Julie Bishop. Photo: Senator Bridget McKenzie dari Partai Nasional menyatakan politisi bisa lebih ramah satu sama lain. (ABC News: Nicholas Haggarty)

Saat dimintai komentarnya, wakil ketua Partai Nasional Bridget McKenzie mengatakan politisi dari kedua belah pihak (pemerintah dan oposisi) "bisa lebih ramah" satu sama lain di gedung parlemen.

"Saya tidak pernah merasa ditindas atau diintimidasi di Partai Nasional," ujarnya.

"Namun sangat sulit dan kami tidak terlalu baik satu sama lain dalam ruangan itu," kata senator McKenzie.

"Di semua kamar parlemen, dengan berbicara, kita mungkin bisa lebih ramah satu sama lain," tambahnya.

Senator McKenzie mengatakan intimidasi bagi seseorang, mungkin bagi yang lain dilihat sebagai "percakapan keras".

"Saya bisa cukup keras di Question Time karena saya sangat percaya dengan pendapat saya," katanya.

Menurut dia, politisi perlu memiliki ruang untuk berargumentasi dan memperdebatkan kebenaran klaim kedua pihak.

"Anda tidak ingin menghentikan kebebasan berbicara kita," paparnya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kematian Remaja Brisbane di Bali Diduga Akibat Serangan Epilepsi

Berita Terkait