Julukan Hujjatul Islam untuk Rocky Gerung

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Kamis, 03 Agustus 2023 – 19:19 WIB
Pegiat media sosial Rocky Gerung menjadi pihak terlapor dari aduan BBHAR DPP PDIP yang diwakili oleh Johannes Oberlin L. Tobing. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Rocky Gerung sedang diburu oleh banyak orang karena pernyataannya yang menyebut Presiden Jokowi sebagai bajingan tolol dan pengecut.

Bagi banyak orang -terutama sukarelawan pendukung Jokowi- ungkapan itu bukan sekadar offside, tetapi sudah melewati garis batas permainan.

BACA JUGA: Rocky Gerung, dari Ucapan Dungu ke Bajingan Tolol

Gerakan memburu Rocky bermunculan di mana-mana. Rocky menjadi sasaran kemarahan dan menjadi target ‘witch hunt’ atau perburuan tukang tenung.

Sebuah video yang beredar menunjukkan sekelompok orang menyembelih seekor kambing bertuliskan ’Rocky Gerung’.

BACA JUGA: False Flag Rocky Gerung

Seseorang menghunus pedang, menggorok leher kambing, menadahi darahnya dengan gelas, kemudian meminumnya, lantas meneriakkan ancaman terhadap Rocky Gerung.

Pemburu lainnya, Benny Rhamdani, melaporkan Rocky ke polisi dan mengatakan akan menggerakkan banyak orang untuk memburu ahli filsafat itu pada 10 Agustus.

BACA JUGA: Corpu Inspirasi

Mungkin tanggal itu dipilih karena berbarengan dengan rencana para buruh melakukan demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. PDIP sebagai partai pengusung Jokowi juga sudah melaporkan Rocky ke polisi, bahkan pelapor lainnya meminta tokoh yang kerap melontarkan kata 'dungu' itu dilarang bicara seumur hidup.

Di tengah gencarnya perburuan tukang tenung itu muncul beberapa pembelaan. Fahri Hamzah menyebut kritik, makian, dan serangan sudah menjadi risiko jabatan bagi seorang presiden.

Pekerjaan sehari-hari presiden harus dikritik. Bagi Fahri, kritik terhadap presiden semestinya dibiarkan dan didengarkan.

Oleh karena itu, Fahri tidak setuju undang-undang digunakan untuk menjerat orang yang mengkritik.

Pembelaan juga datang dari Fachry Ali. Pengamat politik dan sosial itu menggunakan analogi menggelitik untuk 'membela' Rocky Gerung.

Fachry menyebut Rocky Gerung sebagai ’Hujjatul Islam’. Dalam sejarah peradaban Islam yang sudah berumur 15 abad, satu-satunya tokoh yang memperoleh label itu ialah Imam Al-Ghazali (1058-1111), filsuf dan teolog terkemuka Islam.

Pada masa hidup Al-Ghazali, pemikiran ilmu kalam yang berbasis pada filsafat Yunani kuno mulai marak. Tokoh-tokoh utamanya, antara lain, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.

Pemikiran mereka didasarkan pada teori helenisme filsafat Yunani yang berdasarkan pada rasionalisme dan kebebasan akal. Pandangan para filsuf ini menjadi kontroversial karena dianggap bertentangan dengan Islam.

Salah satu pandangan kontroversial ialah bahwa Allah tidak mengetahi secara detail apa yang terjadi di dunia. Allah menciptakan sistem sunatullah yang kemudian berjalan sendiri sesuai dengan hukum alam.

Hal yang diserang oleh Al-Ghazali adalah pendapat yang menyatakan bahwa alam itu qadim, tidak mempunyai permulaan dan tidak berakhir, kebangkitan yang terjadi di akhirat bersifat rohani bukan jasmani, serta Allah tidak mengetahui yang juz'iyah, detail yang ada di alam ini.

Imam Al-Ghazali menganggap filsuf yang mengusung tiga pernyataan tersebut telah keluar dari ajaran Islam atau kafir.

Istilah 'Hujjatul Islam' di kalangan Islam diberikan kepada ulama yang berjasa mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran Islam dengan argumen yang sulit dipatahkan oleh lawan.

Sesuai dengan kata yang dipakai, hujah (argumen), maka ulama yang diberi gelar Hujjatul Islam telah berhasil bertindak sebagai penyanggah dari serangan-serangan yang ingin merancukan ajaran Islam. Salah satu ulama pasca-Al-Ghazali yang masuk kategori ini ialah Ibnu Taimiyyah (1263-1328).

Al-Ghazali tidak hanya mengajukan argumentasi-argumentasi Al-Qu'ran dan sunah, tetapi juga dengan argumen logika yang konsepsional, sistematis, dan ilmiah.

Pembelaan terhadap ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Qu'ran dan sunah ini membuat Imam Al-Ghazali menjadi seorang 'Hujjatul Islam yang tiada tandingannya di kalangan para ulama sezamannya.

Dengan argumennya yang kuat, Al-Ghazali melalui karyanya Tahafut al-Falasifah (Kerancauan Para Filsuf) menunjukkan kesesatan kaum filsuf.

Dalam buku itu, Al-Ghazali berargumen berdasarkan Al Qur'an, sunah, dan juga metode logika sebagaimana yang dilakukan oleh kaum filsuf sendiri. Dari pembelaannya tentang kesesatan kaum filsuf itulah Al-Ghazali diberi gelar 'Hujjatul Islam'.

Namun, kali ini label itu disematkan kepada Rocky Gerung. Tentu itu bukan perbandingan apple to apple.

Fachry ingin menunjukkan bahwa Rocky mempunyai kekuatan intelektual dan logika yang kukuh sehingga bisa mememenangkan berbagai perdebatan.

Fachry mengaku sudah mengenal Rocky sejak 1980-an ketika masih muda dan sama-sama bergelut di lingkar intelektual kampus masing-masing. Rocky di Universitas Indonesia, sedangkan Fachry di IAIN Syarif Hidayatullah.

Dalam sebuah seminar, Rocky melontarkan kritik keras terhadap orang-orang Partai Sosialis Indonesia (PSI). Kritik itu dianggap sangat berani karena PSI adalah partai yang didirikan oleh Sutan Sjahrir dan kemudian menjadi avant-garde intelektual Indonesia.

Partai itu menjadi ‘intellectual powerhouse’ atau pusat kekuatan intelektual tempat berkumpulnya orang-orang terdidik dari generasi pertama Indonesia.

Keberanian Rocky itu menunjukkan kuatnya fundamental intelektual yang dimilikinya sejak muda. Dalam perjalanan intelektualnya, Rocky tidak pernah secara khusus masuk dalam jalur intelektual Islam.

Bagaimana kemudian Rocky bisa dianggap sebagai Hujjatul Islam?

Eksistensi Jokowi selama 10 tahun terakhir memunculkan keresahan di kalangan Muslim kelas kota yang tidak mempunyai tokoh berkaliber yang bisa ditandingkan dengan tokoh nasionalis.

Di saat vakum itulah Rocky muncul mengisi kekosongan. Kritiknya yang keras dan konsisten terhadap kebijakan Jokowi menjadikan kelompok Muslim kota merasa mendapatkan hero dan idola dari kalangan non-muslim.

Rocky seolah-olah terintegrasi menjadi bagian Muslim kota. Mereka menemukan Rocky Gerung sebagai spokeperson atau juru bicara. Bukan juru bicara biasa, melainkan outspoken spokeperson alias jubir yang lantang.

Julukan Hujjatul Islam kepada Rocky bisa saja memancing pro dan kontra. Akan tetapi, Fachry hanya ingin membuat analogi sosiologis yang sederhana supaya mudah dipahami.

Beberapa tahun lalu, Kwik Kian Gie menjuluki Prof. Soemitro Djojohadikusumo sebagai Ayatullah Ekonomi Indonesia. Di dunia ini yang punya gelar ayatullah hanya pemimpin Iran yang punya otoritas keagamaan sekaligus politik.

Bagi Kwik, pengaruh keilmuan dan otoritas profesional Sumitro di bidang ekonomi sejajar denga otoritas ayatullah dalam politik Iran. Sampai sekarang julukan itu masih tetap melekat, meskipun sudah jarang disebut.

Julukan Hujjatul Islam untuk Rocky yang dilontarkan oleh Fachry Ali ini, tampaknya, akan terus melekat kepada Rocky Gerung, terlepas ada yang suka atau tidak.(***)

Video Terpopuler Hari ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rocky


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler