Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia Salip Singapura

Rabu, 11 April 2018 – 17:10 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (29/1). Foto: Humas Kemensristekdikti

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus menggenjot peningkatan jumlah publikasi ilmiah Indonesia. Hasilnya, publikasi ilmiah Indonesia dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan

Publikasi ilmiah penting, bukan hanya sebagai tugas dan kewajiban semata tapi menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah riset.

BACA JUGA: PTN Badan Hukum Jangan Kalah dengan Kampus Asing

Kebijakan Kemenristekdikti mendongkrak publikasi ilmiah Indonesia seperti mengeluarkan aturan melalui Permenristekdikti No. 20/2017 tentang Pemberian Tunjungan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

Kemenristekdikti pada 2017 juga meluncurkan Science and Technology Index (SINTA), pengindeks publikasi dan sitasi jurnal ilmiah untuk mendorong kultur publikasi bagi dosen dan peneliti di Indonesia.

BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Skema Subsidi Bunga Pinjaman Mahasiswa

Ikhtiar itu pun akhirnya mulai berbuah. Setelah melampaui Thailand sampai akhir 2017 dengan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia mencapai angka 18.500, pada triwulan pertama 2018 Indonesia berhasil menggeser Singapura, menempati urutan ke-2 di ASEAN setelah Malaysia.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus per 6 April 2018 berhasil melampaui Singapura dan Thailand.

BACA JUGA: 4.974 Mahasiswa Ikut Seleksi ONMIPA-PT 2018 Tahap II

Adapun jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia sebanyak 5.125, Singapura dan Thailand sebanyak 4.948 dan 3.741. Sementara Malaysia sebanyak 5.999.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya.

"Ini merupakan pencapaian yang sangat bagus bagi Indonesia. Namun permasalahannya jumlah publikasinya meningkat drastis, tapi sitasinya menurun. Untuk itu kualitas dari jurnal-jurnal yang ada di Indonesia harus didorong terus agar makin baik," ungkap Nasir, Rabu (11/4).

Kualitas dari sebuah riset dapat dilihat dari kualitas publikasi ilmiahnya. Salah satu indikator dari kualitas publikasi yaitu indeks sitasi atau banyak tidaknya oeneliti lain yang mengutip publikasi ilmiah tersebut. Indeks sitasi yang tinggi mencerminkan tingkat kualitas dari sebuah riset yang tinggi pula.

Dengan adanya momentum ini, Nasir mengingatkan agar para akademisi dan peneliti tidak hanya mengejar kuantitas namun juga diharapkan dapat menjaga kualitas publikasi ilmiahnya.

Tentu publikasi bukan merupakan satu satunya ukuran riset, tetapi kemanfaatan kepada masyarakat lah yang menjadi acuan utamanya. Untuk itu, program untuk mendorong agar hasil riset dimanfaatkan oleh masyarakat juga terus didorong, antara lain melalui pengabdian kepada masyarakat.

"Tahun ini program-program seperti itu dilakukan di berbagai tempat dengan berbagai skema sebanyak dua ribuan lebih. Semoga program-program tersebut semakin mendapat perhatian kami bersama," pungkas Nasir. (esy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Paling Banter 30% Dosen Politeknik dari Dunia Industri


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler