Jutaan Orang Sudah Beralih ke Vape, Ini Penyebabnya

Selasa, 30 Mei 2023 – 23:56 WIB
Ilustrasi pengguna vape. Foto: Philip FONG / AFP

jpnn.com - Setiap tanggal 30 Mei, publik merayakan hari vape sedunia. Momentum ini biasanya digunakan untuk mengingatkan kembali pentingnya pendekatan pengurangan bahaya tembakau (Tobacco Harm Reduction) melalui produk alternatif seperti vape.

Walaupun banyak diterpa misinformasi, beberapa peneliti telah memberikan pandangan objektifnya mengenai vape berdasarkan riset ilmiah.

BACA JUGA: Merokok Bisa Membatalkan Puasa, Bagaimana dengan Vape?

Informasi yang sering jadi perdebatan adalah risiko kesehatan. Menurut Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung Rahmana Emran (6/22) menyatakan produk tembakau yang dipanaskan seperti vape dan tembakau dipanaskan punya risiko yang lebih rendah.

Menurutnya, secara sederhana, produk yang dipanaskan mempunyai kandungan zat berbahaya yang lebih sedikit ketimbang rokok yang dibakar.

BACA JUGA: APVI: Liquid Narkoba Mengancam Industri Vape Legal

Keragaman produk tembakau mempunyai tingkat risiko yang berbeda. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi IX Yahya Zaini menilai, sepatutnya risiko ini dipertimbangkan dalam pembuatan aturan terpisah (14/5).

Hal itu Ia sampaikan ketika membahas poin rokok elektrik dalam diskusi mengenai RUU Omnibus Kesehatan.

BACA JUGA: Jakarta International Vape Expo 2023 Segera Digelar, Ini Jadwalnya

Tidak hanya soal risiko atau kandungan zat berbahaya, berikut adalah informasi yang membuat orang memilih vape sebagai alternatif untuk beralih dari produk rokok konvensional.

Uap Hasil Keluaran Vape Relatif Aman

Asap rokok memang berbahaya bagi orang sekitar terutama yang bukan perokok. Namun hal ini tidak berlaku untuk uap rokok elektrik. Cairan rokok elektrik biasanya terdiri dari nikotin, propilen glikol, gliserin, serta perasa.

Tidak seperti rokok, tidak ada asap yang dilepaskan oleh rokok elektrik ke atmosfer, hanya aerosol yang dihembuskan. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari salah satu peneliti dari Universitas Padjadjaran.

“Aerosol/uap yang dihasilkan vape atau rokok elektrik mengandung sedikit sekali (zat berbahaya dan karsinogen), bisa dikatakan kadarnya tidak bermakna,” kata Amaliya, Dosen FKG UNPAD pada acara daring Wednesday about Research & Innovation in the Graduate School Universitas Padajajaran (17/5).

Berhasil Tekan Perokok di Eropa

Fakta bahwa produk alternatif dapat mengurangi jumlah perokok telah terjadi di beberapa negara, seperti Belanda dan Swedia. Di Swedia bahkan angka perokoknya hampir berada di angka 5 persen, padahal negara ini memiliki 13 persen perokok dewasa pada 2010.

Menurut mantan ketua World Medical Association (WMA) Anders Milton, penurunan ini didukung oleh pemerintah yang mendukung produk tembakau alternatif seperti vape dan kantong nikotin.

“Perokok merokok karena mereka suka, jadi tidak semudah itu untuk berhenti. Oleh karena itu produk alternatif diperlukan. Dengan pemakaian produk alternatif, angka penderita kanker paru-paru Swedia menjadi yang terendah di Eropa,” kata Milton pada forum Pan American Harm Reduction Association (PAHRA) (11/5).

Kejadian serupa juga ditemui di Belanda. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Jakarta, Laifa Annisa mengatakan bahwa pemerintah Belanda mempunyai program yang terstruktur untuk mengurangi angka perokok dewasa dengan produk alternatif tembakau.

“Saya tahu di Belanda mereka punya klinik untuk mengatasi kecanduan, salah satunya untuk rokok. Jadi memang ada klinik khusus smoking cessation yang terprogram. Beberapa menggunakan produk alternatif (sebagai instrumennya),” kata Laifa (22/5).

Vape Bantu Perokok Beralih

Peneliti dari Universitas Surabaya Amelia Lorensia pada 2017 mengungkapkan perokok yang beralih ke vape dapat mengurangi konsumsi rokok serta terlepas dari rokok sepenuhnya.

Penelitian yang dilakukan di Surabaya itu mengungkapkan bahwa 75 persen responden yang ditanya mengaku berhenti total dari rokok, sedangkan 25 persen mengaku masih merokok tapi konsumsinya menurun karena vape.

Bila melihat negara lain, pendekatan untuk menjadikan vape sebagai alternatif bagi perokok mulai dilakukan di Filipina pada 2022 lalu, melalui Undang-undang vape. Regulasi itu mengakui dan memberikan standarisasi bagi produk alternatif yang rendah risiko.

Dokter Senior Filipina Lorenzo Mata mengatakan bahwa regulasi ini ditujukan untuk membantu perokok beralih.

“Dengan undang-undang ini, kami mengatur produk, kami mengatur rasa, kami mengatur pembatasan produk ke generasi muda. Ini murni untuk mereka yang ingin berhenti,” kata Mata (8/22).

Walau telah banyak penelitian dari luar negeri yang membuktikan bahwa vape dan produk alternatif tembakau lainnya lebih rendah risiko, tetap diperlukan adanya kajian dalam negeri untuk memberikan informasi yang lebih akurat kepada semua pihak, baik pemerintah, pengguna, praktisi kesehatan, serta masyarakat secara umum. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler