'Kami Reuni di Kamar Jenazah...'

Minggu, 15 Februari 2015 – 01:12 WIB
Tim Odontologi Forensik DVI Polda Jatim mengamati struktur gigi salah seorang korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di RS Bhayangkara Surabaya (12/2). Foto: Angger Bondan/Jawa Pos

jpnn.com, SURABAYA - RUANG itu tidak besar. Di dalamnya, ada beberapa brankar dan peralatan bedah yang tertata rapi di meja-meja operasi.

Itulah ruang Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim yang setiap hari menjadi kamar operasi untuk mengungkap identitas jenazah korban pesawat AirAsia QZ8501 yang terjatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, 28 Desember 2014.
-----------
Laporan Muniroh, Surabaya
-----------
Sejak satu per satu jenazah korban ditemukan, ruangan di kompleks RS Bhayangkara Surabaya itu tak pernah sepi. Selain tim DVI yang sedang bekerja keras mengungkap identitas para korban, keluarga korban didatangkan untuk mencocokkan data.

BACA JUGA: Dari Black Box Ada Suara Tok Tok Tok, Harus Dipastikan Suara Apa Itu

Misalnya yang terlihat Kamis siang (12/2). Tujuh anggota tim DVI berdiskusi serius untuk mengungkap identitas korban dengan mencocokkan data primer maupun sekunder yang ada. Salah satu objek yang mereka jadikan bahan diskusi adalah foto panoramic gigi korban.

Itulah Tim Odontologi Forensik DVI Polda Jatim yang memang bertugas melakukan identifikasi melalui formasi gigi korban. ”Ini jenazah belum datang, tapi kami harus menyiapkan bahan-bahannya lebih dulu. Biar bisa langsung bekerja,” ujar Koordinator Tim Odontologi Forensik DVI Polda Jatim drg Astiti Handayani GDFO.

BACA JUGA: Visibility Nol, Artinya itu Sangat Buram

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Dotty itu, sejak jasad korban pesawat jurusan Surabaya–Singapura itu berdatangan, tim odontologi forensik harus siaga siang dan malam. Mereka bertugas mengidentifikasi jenazah melalui gigi.

”Dental record atau rekam medis gigi memang menjadi metode primer identifikasi jenazah selain DNA dan sidik jari,” jelasnya.

BACA JUGA: Di Tubuh dan Wajah Mama kenapa Ada Darah?

Banyak suka dan duka selama Dotty dan tim menangani jasad korban AirAsia. Misalnya, lantaran kerja mereka tak kenal waktu, dari pagi hingga malam, tidak jarang ada dokter yang tumbang. Jika sudah begitu, Dotty harus segera melakukan rolling. Dia pun mengaku sering terjaga saat tidur malam. Sebab, ada informasi data baru yang didapatkan saat itu.

”Biasanya setelah itu tidak bisa tidur lagi. Saya harus kerja, menganalisis cetakan gigi korban,” ujarnya, lantas tertawa.

Selain itu, selama bertugas, tim odontologi harus berjauhan dengan keluarga dalam waktu yang tidak terbatas. Tidak jarang, rasa kangen keluarga menyergap. Sebab, ada dokter yang meninggalkan istrinya yang tengah hamil. Dotty pun harus rela berpisah dengan anaknya yang masih berusia dua tahun.

Tim juga selalu berupaya menghindari ego pribadi dan menjaga chemistry antaranggota. Pasalnya, mereka berasal dari banyak institusi. Meski semua memiliki basic dokter gigi, kompetensinya berbeda. Ada yang ahli forensik, radiologi, dan anatomi.

Kesulitan muncul saat mereka mengumpulkan data antemortem. Yakni, data rekam gigi dari korban semasa hidup. Data itu berupa dental record, cetakan gigi, foto rontgen, atau bahkan video perawatan gigi pasien. Proses terberat, tim antemortem harus menemui keluarga korban. Mereka harus berhati-hati karena emosi keluarga belum stabil.

Bukan hanya itu. Sebab, penelusuran tidak hanya sampai pada kerabat korban. Tapi, juga teman dan dokter gigi tempat korban pernah memeriksakan diri. ”Kerjanya sudah seperti detektif,” ungkap Dotty.

Bahkan, untuk meyakinkan, tim melacak media sosial korban. Tujuannya, melihat foto korban saat tersenyum. Dotty menyebut, foto selfie pun bisa menjadi alat identifikasi. ”Jadi, kalau mau selfie yang bermanfaat, tunjukkan gigi saat foto,” ujar Dotty sembari tertawa.

Dotty menambahkan, pekerjaan identifikasi korban kecelakaan seperti kasus AirAsia QZ8501 bisa menjadi momen reuni dengan teman seprofesi se-Indonesia. Sebab, selama ini mereka baru bisa bertemu saat ada kasus besar.

”Kalau yang lain reuni di restoran, kami reuni di kamar jenazah. Meski up and down, tapi tetap saling support. Kami juga harus sersan, serius tapi santai. Psikologis harus dijaga. Ikhlas dan tidak mengeluh. Niatnya juga lurus,” ujarnya.

Menurut Dotty, selama ini banyak yang meragukan hasil identifikasi jenazah melalui gigi. Kebanyakan masyarakat lebih percaya hasil tes DNA. Padahal, data gigi terbukti tidak meleset.

Selain itu, bentuk gigi tidak akan pernah berubah dalam kondisi apa pun. Bahkan, lanjut Dotty, satu gigi yang signifikan bisa membuktikan identitas seseorang. ”Buktinya ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Karena itu, Dotty menegaskan, musibah AirAsia menjadi pengingat akan pentingnya data gigi. Dia berharap warga tidak segan ke dokter gigi. Jangan menunggu saat sakit. Kesadaran juga perlu dimiliki dokter gigi. Sebab, selama ini banyak dokter gigi yang tidak mencatat data gigi pasien dengan lengkap.

Dotty meminta keluarga korban yang jenazahnya belum teridentifikasi untuk bersabar. Sebab, kerja tim odontologi tidak mudah. Tapi, dia menjamin akan terus bekerja. Tidak ada kata berhenti.

”Kepuasan kami kalau sudah mengembalikan jenazah korban ke keluarganya. Kami tidak mau rilis identitas korban kalau belum yakin. Kami ingin jenazah dikuburkan atas nama korban yang sebenarnya,” tandasnya. (*/c11/c10/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pintu Terbuka, Artinya Air Masuk ke Dalam Pesawat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler