Kampus Merdeka: 9 Rektor Perempuan Berkolaborasi Majukan Seni Budaya

Jumat, 30 April 2021 – 07:46 WIB
Rektor UIN Raden Fatah Palembang Prof Dr Nyanyu Khodijah S.Ag M.Si dan Rektor ISBI Bandung Prof Dr Een Herdiani SSen MHum dalam peringatan Hari Kartini secara daring. Foto: tangkapan layar zoom

jpnn.com, JAKARTA - Sembilan rektor perguruan tinggi negeri dan swasta berkolaborasi dalam bidang seni budaya. Menariknya, para sembilan rektor tersebut semuanya perempuan.

Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Prof Dr Een Herdiani S.Sen M.Hum sebagai penggagas, mengungkapkan, kolaborasi yang diperkuat dengan penandatangan nota kesepahaman sembilan rektor perempuan tersebut sebagai langkah aksi untuk mengimplementasikan program Mendikbud Nadiem Makarim yaitu Kampus Merdeka, Merdeka belajar.

BACA JUGA: Kampus Merdeka: Kemendikbud Bekerja Sama dengan University of Waterloo

"Seni budaya adalah bidang yang universal, ilmu apa pun sangat berkaitan dengan bidang kami sehingga saya menganggp penting untuk melakukan program ini," kata Prof Een Herdiani saat memberikan sambutan dalam rangkaian peringatan Hari Kartini secara virtual, baru-baru ini.

Kesepakatan ini, lanjutnya, karena para rektor perempuan Indonesia merasa perlu mengembangkan ilmu seni dengan berbagai disiplin ilmu yang lain dan belum tersentuh oleh mereka. 

BACA JUGA: Program Mas Nadiem Ini Berhasil Menarik Puluhan Ribu Guru PNS dan Honorer

Kegiatan ini pun, kata Prof Een, sangat relevan dengan program yang diluncurkan Kemendikbud mencapai indikator kinerja utama. Dari mulai kewirausahaan mahasiswa, magang, pertukaran mahasiswa, pelatihanan-pelatihan, peneltian, pengabdian bersama, dan lain-lain. 

"Kami sangat membutuhkan bantuan dan bimbingan dari perguruan tinggi besar yang sudah menjadi BLU, PTNBH, yang tentu dapat menjadi tempat belajar bagi kami," paparnya. 

BACA JUGA: Fajar Mudik Malam Hari, Lewat Jalan Tikus, Lolos Sampai Kampung, Dimasukkan di Rumah Angker

Lebih lanjut dikatakan, para perempuan Indonesia bisa menjadi rektor berkat perjuangan Raden Ajeng Kartini dan pahlawan-pahlawan perempuan terdahulu yang terus berjuang untuk menjunjung tinggi kaum perempuan. Sosok RA Kartini yang inspiratif, perempuan kuat, tidak pernah lelah berjuang, gigih, tak pernah takut melakukan kebenaran walau harus berkorban.

"Saya yakin para rektor perempuan adalah sosok yang kuat, gigih seperti Kartini," tandasnya.

Kendati memiliki posisi penting di perguruan tinggi, Prof Een berharap rekan-rekannya sesama rektor perempuan tidak lupa diri bahwa mereka memiliki kewajiban dalam lingkungan keluarga, yaitu menjadi seorang istri dan ibu. Semua peran harus dilakoninya dengan seimbang. 

"Menjadi pemimpin bukanlah berarti mengabaikan perannya dalam keluarga," tegasnya.

Dia berharap kepada para para rektor perempuan yang sepakat melakukan kolaborasi, bisa langsung aksi, bukan sekadar MoU. (esy/jpnn)

 

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler