Karhutla di Riau Capai 27.683 Hektare, Terluas Sepanjang 2019

Jumat, 19 Juli 2019 – 03:45 WIB
Tim Manggala Agni berjibaku memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Dayun, Kecamatan Dayun, Siak, baru-baru ini. Foto: riaupos/jpg

jpnn.com, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di tanah air sepanjang 2019 sudah mencapai 30.477 hektare. Dari total keseluruhan yang terbakar tersebut, ternyata 27.683 di antaranya terjadi di Riau.

Dengan kondisi cuaca panas ekstrem hingga September, kondisi ini jadi pembahasan dalam rapat di istana Kepresidenan awal pekan kemarin.

BACA JUGA: Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk Tanggulangi Karhutla

Sebab potensi cuaca kering di beberapa wilayah Indonesia hingga September diprediksi bakal terus terjadi.

BACA JUGA: Karyawan Tahan Aset PT Unisem: Periksa Setiap Kendaraan yang Keluar Perusahaan

BACA JUGA: KLHK Bantu Peralatan untuk Damkar Swasta Kalbar

Bahkan, Presiden RI Joko Widodo langsung melakukan rapat terbatas guna mengantisipasi kekeringan, termasuk Karhutla.

Kepala BNPB RI Doni Monardo mengingatkan kepada seluruh daerah perihal Karhutla ini agar sedapat mungkin melakukan langkah cepat sebelum api meluas.

BACA JUGA: Polisi Tangkap Satu Pelaku Pembakaran Lahan di Dumai

Di sisi lain, potensi cuaca kering di beberapa wilayah lain dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Titik api harus dipadamkan sejak dini,” tegasnya awal pekan kemarin dalam rapat antisipasi potensi cuaca kering.

Diceritakan Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB RI Agus Wibowo. Memang berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 8 Juli 2019. Total luas Kathutla 2019 mencapai 30.477 ha.

“Luasan terbesar teridentifikasi di Riau dengan 27.683 hektar, juga beberapa daerah lain yang sudah menetaskan status Siaga Bencana Karhutla,” kata Agus.

BACA JUGA: PT Unisem Tutup Total 30 September, Bagaimana Uang Pesangon 1.500 Karyawan?

Selain Riau, daerah yang juga menyumbang luasan lahan terbakar adalah Kalimantan Barat 2.274 hektar, Sumatera Selatan 236 hektar, Aceh 142 hektar, Kalimantan Timur 53 hektar, Kalimantan Tengah 27 hektar dan Jambi 4 hektar.

Sementara lima provinsi yang sudah menetapkan status siaga bencana Karhutla adalah Riau, Sumsel, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Terkait dengan potensi Karhutla, lanjutnya, BNPB mendorong BPBD dan berbagai pihak untuk melakukan upaya pencegahan. Seperti peningkatan kesejahteraan kepada satuan tugas yang bekerja di lapangan.

“Juga pengembangan potensi ekonomi lokal, pengembangan kapasitas dalam mengelola hutan dan lahan, serta pengolahan hasil produksi hutan dan lahan menjadi nilai tambah,” harap BNPB RI sebagai upaya pencegahan bersama.

Selain itu BNPB dijelaskannya juga sudah menyiagakan upaya langkah penanganan dengan personel satuan tugas darat dan udara. BNPB mengerahkan 14 helikopter untuk Water Bombing, 1 pesawat untuk hujan buatan dan 2 heli TNI AU.

Sementara itu Kepala BPBD Riau Edwar Sanger ketika dikonfirmasi perihal luasan lahan terbakar seperti data yang diekspos BNPB RI, mengaku belum mengetahui. Bahkan BPBD Riau memiliki data berbeda dengan yang dimiliki di tim Satgas Siaga Karhutla Provinsi.

“Saya belum baca infonya itu (27.683 hektar lahan terbakar sepanjang 2019 di Riau, red). Tapi dari catatan kami, Satgas Karhutla Riau luas lahan yang terbakar sejak Januari sampai hari ini berjumlah 3.533,09 hektar,” kata Edwar Sanger.

Di daerah, salah satu areal terbakar di Riau adalah di Desa Dayun KM 79, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Kawasan ini berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Zamrud. Luas areal terbakar diperkirakan mencapai 15 Hektar dengan tutupan lahan semak belukar dan akasia.

Lokasi terbakar merupakan gambut dengan ketebalan mencapai 3 meter. Lahan terbakar merupakan lahan tidur milik masyarakat. Indikasi penyebab Karhutla sampai saat ini masih diselidiki oleh pihak Polsek Dayun. Informasi kejadian kebakaran awalnya dilaporkan oleh masyarakat pada hari 12 Juli lalu.

Alhasil, sebanyak 80 personel gabungan terdiri dari Manggala Agni, TNI, POLRI dan pihak perusahaan diturunkan untuk memadamkan kebakaran melalui pemadaman darat. Sementara itu 2 helikopter BNPB juga dikerahkan untuk melakukan pemadaman udara melalui water bombing.

BACA JUGA: Bulu Tangkis Targetkan Dua Medali Emas ASEAN Schools Games 2019

“Jarak sumber air hingga areal terbakar mencapai 500 meter sehingga tim kesulitan dalam melaksanakan pemadaman darat. Untuk mencegah luas areal terbakar bertambah, alat berat berupa eskavator juga diturunkan untuk membuat sekat bakar dengan lebar 3 meter,” ungkap Kepala Mangga Agni Daerah Operasional (Daops) Siak Ihsan Abdillah kepada Riau Pos, Selasa (16/7) sore.

Dijelaskannya hingga sore kemarin, pemadaman masih terus dilaksanakan mengingat areal kejadian berdekatan dengan Taman Nasional Zamrud yang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi. Menurutnya lokasi ini kedepannya akan diprioritaskan untuk dilaksanakannya kegiatan patroli terpadu.

“Karena dari pengalaman Mei kemarin, dilaksanakan patroli terpadu dan tidak ada terjadi kebakaran. Tapi pada bulan Juli ini kita laksanakan patroli terpadu di lokasi lain, malah Dayun terbakar kembali,” ungkapnya.

Atas kondisi cuaca kering kedepan, Manggala Agni Daops Siak menghimbau kepada Masyarakat untuk berhenti membuka lahan dengan cara membakar. Karena memang penyebab utama Karhutla, 90 persen merupakan akibat ulah manusia atau dibakar.(egp)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Strategi KLHK Cegah Karhutla Saat Puncak Kemarau


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler