Kasus Century: Rizal Ramli Minta Pak Boediono Mengaku Saja

Rabu, 11 April 2018 – 12:52 WIB
Rizal Ramli. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom senior Rizal Ramli merespons hasil putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait praperadilan kasus Century yang diajukan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).

Dalam putusan itu, hakim memerintahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono sebagai tersangka kasus Century.

BACA JUGA: Demokrat Minta Pak Boediono Tabah

Rizal memaparkan bahwa dalam persidangan Century sebelumnya, jawaban Boediono masih berputar-putar.

Padahal, kata dia, masalah Century itu sangat sederhana. "Bank ini (Century) tidak pantas untuk di bailout karena dari dahulu sudah bermasalah," kata Rizal, Rabu (11/4).

BACA JUGA: Respons KPK soal Perintah Pengadilan untuk Jerat Boediono

Menurut Rizal, Century adalah bank kecil. Jika ditutup, dampaknya nyaris tidak ada apa-apa. Karena itu, Rizal menegaskan bahwa argumen Bank Century berdampak sistemik sangat menyesatkan.

"Karena, saya pernah sebagai Menko Perekomonian menyelamatkan BII yang enam sampai tujuh kali lebih besar dari Bank Century tanpa melakukan bailout sama sekali,” katanya.

Mantan menteri keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menjelaskan, saat itu cara penyelamatannya adalah dengan mengambil Bank Mandiri.

BACA JUGA: Kasus Century: KPK Diminta Segera Jadikan Boediono Tersangka

"Caranya Bank Mandiri kami buat ambil over supaya ada umbrella of confiden ganti manajemen dan take over sementara dan membuat uang kembali ke dalam sistem bank BII yang pada waktu itu jauh lebih besar dari pada Bank Century," paparnya.

Dia menambahkan dua tahun lalu, Rizal mengunjungi mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang menjalani pidana di penjara. Menurut Ramli, Antasari kala itu bercerita. Suatu hari Boediono sebagai gubernur BI datang meminta izin bailout untuk Bank Indover di negeri Belanda sebesar Rp 5 triliun.

"Antasari ditakut-takuti kalau tidak dilakukan maka kepercayaan terhadap Indonesia rusak, rupiah anjlok, investor bisa tidak percaya," katanya.

Namun, lanjut Rizal, Boediono tidak tahu kalau Antasari adalah asisten Jaksa Agung Marzuki Darusman.

"Pada saat saya jadi menko, kami utus dia ke Belanda dan diberitahu Bank Central Belanda tidak usah khawatir kalau terjadi sesuatu akan dijamin oleh Bank Central Belanda dan tidak menimbulkan apa-apa," katanya.

“Begitu Pak Boediono meminta izin ini, Antasari mengatakan, "bapak lakukan bailout Bank Indover Rp 5 triliun, sorenya bapak saya tangkap. Jadi Boediono ketakutan,” kata Rizal menirukan ucapan Antasari pada waktu itu.

Dia melanjutkan, selang beberapa hari kemudian, dicari ember kosong lain yaitu Bank Century. Sebetulnya kebutuhan dananya hanya kebutuhan dana pihak ketiga sebesar Rp 2 triliun. "Kok bisa di-bailout sampai Rp 6,7 triliun? Pasti ada yang bocor," katanya.

Nah, kata Rizal, dari situ sudah sangat jelas bahwa ini ada upaya untuk membobol bank. Karena itu Rizal minta Boediono bersikap kesatria, karena kasihan anak buah harus masuk penjara dan ditangkap. “Mengaku sajalah, jadi kesatria, karena tanggung jawab itu ada di tangan pemimpin,” imbau Rizal.

Menurut Rizal, sebenarnya kalau audit kebijakan, Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, saat pasti kena. "Yang sengaja tidak dilakukan oleh BPK adalah audit aliran dana. Padahal kalau ikut kasus Bank Bali diaudit aliran dana dalam waktu enam minggu akan ketahuan uang itu ke mana,” bebernya. (boy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rizal Ramli dan Nufransa Ibarat Berbalas Pantun


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler