Kata Mbak Eva, Ada Tiga Pemicu Politikus Pindah Partai

Kamis, 19 Juli 2018 – 18:30 WIB
Eva Kusuma Sundari. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari mengatakan, konflik internal menjadi penyebab yang paling signifikan politikus pindah ke partai lain jelang Pemilu 2019.

Eva menganalogikan perpindahan partai itu dengan teori migrasi. Dalam teori itu, kata Eva, orang bermigrasi karena push factor (faktor pendorong) dan pull factor (faktor penarik).

BACA JUGA: Faktor Ideologis Penyebab Terbesar Politikus Pindah Partai

Dia menjelaskan, kalau push factor itu ada dorongan dari partai lamanya seperti konflik. “Konflik itu sebagai pemicu utama saya pikir. PDIP pernah mengalami ini, tapi kemudian mereda,” kata Eva di gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/7).

Selain itu, kata Eva, masalah parliamentary threshold (PT) 4 persen juga menjadi pemicu politisi memilih pindah partai. Eva menceritakan, berdasar realitas yang ada, banyak rekan-rekannya di Komisi XI DPR yang pengin pindah partai.

BACA JUGA: Faksi-faksi PPP Merapat ke PBB

“”Wah saya harus cabut nih mbak karena (sepertinya) partai tidak lolos (PT), aku pindah saja”. Ada yang pindah menjadi calon anggota DPD, daripada kehilangan kesempatan ke Senayan, ada yang pindah ke sana, ke sini,” katanya.

Persoalan lain, lanjut Eva, adalah alat peraga kampanye (APK). Menurut Eva, ini tidak hanya persoalan tawaran bendera, kaus, tapi uang pun disediakan. “Ini bisa menjadi alasan, dan itu tampaknya pull factor. Jadi, ketertarikan orang karena APK dan kawan-kawan tadi,” ujarnya.

BACA JUGA: Mbak Eva Sarankan Sukmawati Soekarnoputri Minta Maaf

Namun, Eva mengatakan, persoalan ideologi sudah tidak relevan menjadi faktor penyebab orang pindah partai. Menurut Eva, banyak orang pindah partai semata-mata didorong karena kebutuhan untuk bertahan di panggung berpolitik.

Eva mengatakan, perpindahan politisi ke partai lain yang menyebabkan terjadinya pergantian antarwaktu (PAW) di DPR bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan lemahnya kinerja DPR. Dia menegaskan bahwa sebelum ini memang kinerja DPR sudah tidak terlalu bagus. “Saya kok skeptis, ya. Sudah lama kinerja kita (DPR) sudah tidak terlalu bagus, ya,” katanya.

Eva mencontohkan, sebelum masuk tahun politik pun, untuk memenuhi kuorum rapat-rapat di DPR saja sudah sangat berat. Nah, lanjut dia, jika dtambah dengan migrasi yang luar biasa maka kinerja DPR tambah tidak bagus.

“Jadi, (migrasi) bukan mengganggu tapi bikin tambah tidak bagus. Sudah tidak bagus, ditambah tidak bagus kinerjanya,” katanya.

Menurut dia, jika nanti PAW dipercepat, tentu anggota baru itu perlu belajar. Terlebih bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah menjadi anggota DPR. “Jadi, menurut saya, ini situasi betul-betul seperti learning point yang terendah dalam situasi terganggunya pileg, dan tiba-tiba ada fenomena migrasi,” paparnya. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dita Indah Sari Bantah Omongan Eva Kusuma Sundari


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler