Kaus Asli Jerman dengan Harga Miring

Kamis, 08 Juli 2010 – 13:15 WIB
MIRING - Pasar loak di kawasan kumuh di daerah downtown Johannesburg. Foto: JPNN/arsip.
Event piala dunia, menjadi berkah tersendiri bagi sekelomok PKL (pedagang kaki lima) yang berjualan di Noord, kawasan "kumuh"-nya Johannesburg.  Berbagai atribut berbau World Cup bisa diperoleh di sana, dengan harga miringBenarkah karena barang yang dijual hasil curian?

Laporan KURNIAWAN MUHAMMAD, Johannesburg

SELAMA
berjalan-jalan di areal kumuhnya Johannesburg, tak sekalipun saya bertemu dengan warga lokal kulit putih

BACA JUGA: Menelusuri Sisi Kumuh Johannesburg

Kondisinya hampir tak jauh berbeda dengan kawasan kumuh yang ada di Jakarta atau Surabaya
Ada penjual yang menggelar dagangannya di emperan trotoar, ada juga beberapa pengamen yang memainkan gitarnya

BACA JUGA: Cerita di Balik Sweater Biru

Ada pula deretan pengemis yang berharap minta sedakah dari setiap orang yang lalu-lalang.

Kondisi lalu-lintasnya pun semrawut
Mobil tampak berhenti seenaknya

BACA JUGA: Fans Samurai yang Tak Kompak

Jawa Pos melihat ada beberapa polisiTapi mereka terlihat hanya duduk-duduk di pinggir jalan, lebih memilih ngobrol dengan temannya sesama polisi, ketimbang mengatur lalu-lintas yang semrawut itu.

Selama berada di Johannesburg sebulan lebih, baru siang itu Jawa Pos sempat berjalan-jalan ke areal tersebutItu pun karena sedang tidak ada pertandingan, dan karena didorong oleh rasa penasaran setelah mendapat cerita dari seorang warga lokal bernama Noah, yang mengantar Jawa Pos.

Setelah berjalan menyusuri kawasan kumuh itu sejauh kira-kira hampir 1 km, Jawa Pos akhirnya tiba di sebuah areal PKL (pedagang kaki lima)Cara mereka menggelar dagangannya tak jauh berbeda dengan PKL di SurabayaMeja tempat barang dagangan digelar terbuat dari kayuPenataannya pun terlihat sekenanyaDi tempat itu, dijual aneka macam pakaian, jaket, kaus, tas, sepatu dan berbagai peralatan olahragaMirip dengan tempat penjualan barang-barang bekas.

Yang menarik, ada satu stan khusus yang banyak menjual berbagai atribut berbau World CupMulai dari kaus, jaket, topi dan syal yang bergambar negara-negara kontestanPara pedagang itu rupanya juga menyesuaikan dengan situasi terkini PD 2010Di sana belakangan, tampak hanya dijual kaus, jaket, topi dan syal dari negara-negara yang maju ke babak semi final, yaitu Belanda, Spanyol, Uruguay dan Jerman.

"Aku akan beri Anda barang bagus dengan harga khusus," kata salah seorang dari pedagang PKL itu, lalu mengajak Jawa Pos ke stannyaTiba di stannya, dia mengeluarkan bungkusan dari dalam lemariTernyata bungkusan itu adalah sebuah jaket tim Jerman, bertanda resmi FIFA dan dari sebuah merek terkenal.

"Saya baru dapat kemarinIni harga resmi dari toko masih ada," katanya, sambil menunjuk banderol harga 966,66 Rand (sekitar Rp 1 juta)"Saya jual ke Anda 300 Rand saja," katanya.

Jawa Pos pun tak mau terkecoh begitu saja dengan omongan pedagang PKL itu"Apa sulitnya membuat banderol harga ini? Semua orang bisa melakukannya," kata Jawa Pos.

Si pedagang PKL itu membenarkan"Tolong ajak teman Anda yang tahu apakah barang ini asli atau tidakTolong Anda cek di Sandton City (mal di Sandton), berapa harga jaket seperti ini, lalu Anda kembali lagi ke sini," katanya, kali ini nadanya agak meninggi.

Noah yang mengantar Jawa Pos mengatakan, jaket itu sengaja tidak dipajang di luar bersama barang dagangan yang lain, karena didapat dengan cara khususKetika ditanya, apa maksudnya "cara khusus", Noah pun tersenyum"Itu barang curian," katanya sambil berbisik ke Jawa Pos.

Noah yakin, jaket Jerman itu asliKarena itu, dia menyarankan Jawa Pos membelinyaTapi terus terang, Jawa Pos masih belum percaya dengan keaslian dari jaket tersebut.

Tapi, setelah diteliti secara detail, wartawan Jawa Pos yang sedikit-sedikit tahu bedanya barang yang asli atau tidak dari merek itu, mulai merasa yakin bahwa jaket itu asliTapi mengapa jaket itu disembunyikan?

Noah, pemuda berusia 24 tahun ini kembali mengatakan, jika jaket itu dipajang di luar, maka akan mengundang kecurigaan dari orang yang bisa membedakan produk asli maupun tiruannya"Bagaimana menurut Anda, jika ada produk asli dijual di tempat seperti ini?" katanya.

Jawa Pos mencoba menawar dari harga 300 Rand itu menjadi 200Tapi, pedagang PKL itu menolak"Ayolah..Jaket ini akan mahal nilainya, jika Jerman juaraSaya yakin Jerman akan menjadi juara," katanya optimistis.

Karena tak juga mau melepas dari harga 200, maka Jawa Pos beranjak ke tempat lainBarang-barang yang dipajang di tempat terbuka, memang kelihatan jika produknya tidak asliMisalnya yang paling mencolok adalah kaus dari tim-tim yang masuk babak semi finalTerlihat sekali bedanya dengan yang asli.

"Rata-rata pedagang di sini punya barang-barang simpanan (jualannya tak dipajang di luar)Jika Anda ingin barang tertentu, tapi barangnya belum ada di sini, Anda bisa pesanMungkin satu hingga tiga hari lagi, barangnya akan datang," katanya.

Noah mengaku, dia banyak membeli barang-barang bermerek dari tempat itu, termasuk sepatu Nike warna putih yang dia kenakan"Ini asliTapi, harganya murah," katanya.

Melihat fenomena seperti ini, Jawa Pos langsung teringat di SurabayaModus mencari barang mahal dengan harga miring seperti itu, nyatanya juga ada di Indonesia(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Diiringi Waving Flag dan Waka Waka


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler