Ke Mana Warga Muhammadiyah? Banyak Usaha, Tetapi Suara Terus Menurun

Minggu, 24 September 2023 – 14:26 WIB
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan jumlah masyarakat yang merasa menjadi bagian dari warga Muhammadiyah mengalami penurunan. Foto: dokumentasi pribadi for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan jumlah suara warga Muhammadiyah mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, amal usaha Muhammadiyah terus bertambah.

Muhammadiyah tercatat mengelola 163 universitas, 23.000 TK dan PAUD, 348 pesantren, 117 rumah sakit, serta ribuan sekolah dasar dan menengah.

BACA JUGA: Isyarat Dukungan Politik Muncul di Apel Akbar KOKAM Pemuda Muhammadiyah Solo

Hal itu diungkapkan Denny melalui video yang diunggah akun media sosial resminya, @DennyJA_World di Instagram, Sabtu (23/9).

LSI Denny JA melakukan survei kepada responden dengan pertanyaan apakah merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah pada Agustus 2023. Survei itu diperkaya oleh riset sebelumnya pada 2014 dan 2005.

BACA JUGA: Survei LSI Denny JA, Prabowo Mengungguli Ganjar di Pemilih NU dan Muhammadiyah

Dia mengungkapkan pada 2005, responden yang merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah jumlahnya sebanyak 9,4 persen. Lalu, pada 2014, persentase itu menurun menjadi 7,8 persen. Kini, pada 2023, persentasenya semakin menurun di angka 5,7 persen.

"Selama 18 tahun, warga yang merasa bagian dari Muhammadiyah menurun hampir separuhnya," ungkap Denny JA dikutip JPNN.com, Minggu (24/9).

BACA JUGA: Tolak PSN di Rempang, HNW Singgung Sikap Muhammadiyah dan NU

Menurut Denny, dari sisi aspirasi politik, pada 2004, warga Muhammadiyah yang menyatakan bagian dari Partai Amanat Nasional (PAN) di atas 50 persen.

Namun, saat ini, mereka yang menyatakan bagian dari PAN menurun hanya 17,5 persen. Sisanya menyebar ke berbagai partai lainnya.

Denny menyebutkan berbeda dengan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang lebih banyak lulusan SMP ke bawah, basis demografi Muhammadiyah lebih menyerap kalangan terpelajar.

"Sebanyak 30 persen warga Muhammadiyah adalah tamatan SMA," ujarnya.

Denny menambahkan dari sisi ekonomi, jika di NU kebanyakan warganya berpenghasilan Rp 2 juta ke bawah, 40 persen warga Muhammadiyah sudah berpenghasilan antara Rp2-4 juta.

"Segmen mayoritas pemilih di Muhammadiyah secara pendidikan dan ekonomi lebih tinggi dibandingkan mayoritas warga NU," kata Denny.

Sementara itu, dari sisi teritori, 77 persen warga NU menetap di Pulau Jawa, sedangkan warga Muhammadiyah yang menetap di Jawa hanya 60 persen.

Denny juga menjelaskan sebanyak 67,5 persen warga Muhammadiyah menyatakan agama dan politik tak bisa dipisahkan.

"Persentase ini lebih banyak dibandingkan warga NU yang sebanyak 50 persen," jelasnya.

Namun, 95 persen warga Muhammadiyah setuju Pancasila menjadi asas tunggal negara Indonesia.

Tak hanya itu, dia menjelaskan sebanyak 82,5 persen warga Muhammadiyah juga menyatakan syariat Islam jangan menjadi basis pemerintahan.

Dalam survei LSI Denny JA juga ditemukan persentase warga Muhammadiyah di dunia media sosial lebih tinggi dibandingkan nahdiyin dan rata rata rakyat Indonesia.

Mayoritas warga Muhammadiyah yang memiliki handphone sebanyak 90 persen.

"Namun, pertanyaannya, mengapa persentase mereka yang mengaku warga Muhammadiyah menurun dari waktu ke waktu? Ini pekerjaan rumah tak hanya bagi pengurus Muhammadiyah. Ini juga bahan renungan bagi kita yang peduli dengan ormas yang sangat modern, sangat prokemajuan, seperti Muhammadiyah," pungkas Denny JA. (mcr8/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dikukuhkan jadi Penasehat PD Muhammadiyah Jaksel, HNW Ceritakan Sosok Ki Bagus Hadikusumo


Redaktur : Fathan Sinaga
Reporter : Kenny Kurnia Putra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Muhammadiyah   Indonesia   Denny Ja   Survei   NU  

Terpopuler