Kebijakan Selektif, Impor Komoditas Sayuran Masih Wajar

Senin, 24 Desember 2018 – 01:05 WIB
Sayuran. Foto Yessy Artada/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Kebijakan mengimpor komoditas sayuran sering masih bisa dianggap sebagai keharusan karena tidak seluruh produk pertanian yang dibutuhkan masyarakat dapat diproduksi.

Meski demikian, kebijakan impor terhadap komoditas sayuran tetap harus selektif dan mendukung kebutuhan peningkatan produksi ekspor.

BACA JUGA: Jokowi: Negara Kita Punya Problem Besar

"Jadi, impor itu hanya benar-benar kepada yang tidak bisa dihasilkan dalam negeri. Misalnya jagung, kacang kedelai, gula, beras, dengan kebijakan khusus bisa kita tingkatkan produksinya," ujar Guru Besar Pertanian Universitas Hasanuddin Profesor Christianto Lopulisa, Minggu (23/12).

Menurut Christianto, kebijakan menyesuaikan kebutuhan impor komoditas sayuran dinilai tidak akan sampai berdampak negatif terhadap pendapatan devisa negara.

BACA JUGA: Catat! Prabowo Presiden, Indonesia Tidak Akan Impor Apa pun

"Kecuali impor komoditas sayuran itu menekan produk ekspor, jelas akan berpengaruh," ujar Christianto.

Christianto mengatakan, memberlakukan impor komoditas sayuran secara selektif juga akan ikut menjaga neraca perdagangan tetap surplus.

BACA JUGA: Produk Impor Marak, Kebijakan Post Border Harus Dievaluasi

"Pembatasan impor komoditas sayuran (yang) selektif dengan tarif masuk, jenis, maupun jumlahnya," ucap Christianto.

Christianto mencontohkan kebijakan Kementerian Pertanian tentang kewajiban tanam bibit bawang putih sebesar lima persen kepada importir telah cukup bagus.

Menurut Christianto, ke depannya tinggal semakin dikembangkan wilayah sentra dan kerja sama dengan petani.

Dengan demikian, akhirnya tak lagi menerapkan kebijakan khusus wajib tanam kepada importir seperti saat ini.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia periode Januari hingga November 2018 mengalami defisit sebesar USD 7,52 miliar.

BPS menyebut impor sayuran per November merupakan salah satu penyumbang defisit hingga USD 57 juta atau melonjak 140 persen dibandingkan September. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Online Booking Bikin Ekspor dan Impor Kian Mudah


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler