Kekeringan Parah, Siapkan Dana Rp 75 Miliar

Rabu, 29 Juli 2015 – 05:38 WIB
Sutopo Purwo Nugroho. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - JAKARTA - Sejumlah daerah dilanda kekeringan. Tercatat, ada 526 Kecamatan di Indonesia yang sudah kekurangan air bersih akibat kekeringan. Kabar buruknya, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang di banding 2014.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, hal ini disebabkan pengaruh El Nino Moderate di bagian selatan katulistiwa. Pengaruh tersebut, kata dia, telah memberikan efek pada tingkat intensitas dan frekuensi curah hujan.

BACA JUGA: Capim KPK Ini Ingin Genjot Pencegahan Korupsi

Karenanya, curah hujan semakin berkurang bahkan kemungkinan awal musim penghujan di beberapa wilayah akan mengalami kemunduran. Jika normalnya musim hujan Oktober, dengan el nino, awal musim hujan mundur hingga sebulan ke depan.

Fenomena El Nino sendiri merupakan perubahan suhu permukaan laut Samudera Pasifik bagian timur dan tengah dari suhu rata-rata. Di wilayah Indonesia, suhu permukaan lautnya yang dingin, sebagian bergerak ke timur dan tengah dan mengakibatkan pengurangan curah hujan. Fenomena el nino ini sering muncul berkala, setidaknya tiga hingga tujuh tahun sekali.

BACA JUGA: Polri Ingin Brimob Punya Kemampuan Bertahan di Hutan

"Musim kemarau diprediksi hingga November. Puncaknya antara Oktober-November," tutur Sutopo dalam temu media, kemarin (28/7).

Dia melanjutkan, tahun ini kekeringan diprediksi jauh lebih parah dibanding tahun lalu. Gejalanya terlihat dari kekeringan ekstrim yang telah terjadi di beberapa daerah. Seperti di Kabupaten Cirebon, Majalengka (Jawa Barat), Kabupaten Madiun, Lamongan, Gresik, Malang, Pasuruan dan Bondowoso (Jatim), Kabupaten Buleleng dan Bangli (Bali), Pulau Lombok, Sumbawa Besar dan Bima (Nusa Tenggara Barat) serta Pulau Sumab dan Timor (Nusa Tenggara Timur).

BACA JUGA: Jika Kekeringan Hingga September, JK: Kita Harus Hati-hati

"Daerah-daerah tersebut sudah lebih dari 2 bulan hujan tidak turun. Tapi secara keseluruhan, berdasarkan BPBD saat ini terdapat 12 provinsi, 77 kabupaten/kota, dan 536 kecamatan yang telah mengalami kekeringan," papar Alumni Universitas Gajah Mada itu. Akibatnya, sambung dia, 25.000 hektar sawah harus gagal panen dan 200.000 hektar lainnya terancam kekeringan.

Melihat kondisi ini, pemerintah tidak tinggal diam. Menurut Sutopo, pemerintah telah menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, pemerintah melalui BNPB telah menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 75 Miliar untuk penanggulangan.

Penanggulangan sendiri berupa penyaluran air bersih ke daerah-daerah kekeringan dengan menggunakan mobil tangki air. "Lebih dari 50 persen untuk distribusi. Sementara, sisanya untuk perbaikan penampungan dan tangki air yang ada," katanya.

Diakuinya, hanya upaya itu yang bisa dilakukan saat ini. Sebab, upaya membuat hujan buatan masih tidak memungkinkan untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan minimnya keberadaan awan di wilayah Indonesia. "Pemda masih mampu mengatasi kekeringan  di wilayahnya dengan menggunakan APBD," ujarnya.

Sementara untuk jangka panjang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) tengah membangun 49 unit waduk dan 33 Pembangkit Listrik Tenaga Air. Selain itu, kementerian asuhan Basuki Hadimuldjono itu juga tengah meningkatkan jaringan irigasi 1 Juta hektar (Ha), dan Rehabilitasi 3 Juta Ha Jaringan Irigasi selama tahun 2015-2019. "Sementara, Kementerian Pertanian sudah membagikan 20.000 unit pompa air dan akan membangun 1.000 unit tendon air," jelasnya.

Menurutnya, pembangunan waduk ini berkaitan dengan defisit air beberapa wilayah Indonesia sejak tahun 1995. Dia mengatakan, ketersediaan air yang ada saat ini sudah tidak mampu memenuhi semua kebutuhan air tiap tahunnya.

Untuk daerah Jawa-Bali misalnya, defisit air mencapai 13,1 milyar meter kubik. Tidak heran, hampir 50 persen lebih penduduk Indonesia tinggal di Jawa. Sehingga saat kemarau, kekeringan sulit dihindarkan. Hal itu diperburuk dengan tata kelolah lahan yang kini telah berubah, dari lahan pertanian atau area hutan kota menjadi bangunan pencakar langit.

"Sesungguhnya fenomena kekeringan sudah berlangsung lama. Masyarakat juga sudah adaptasi. Namun seiring berkembangnya informasi dan media massa, masalah kekeringan banyak dimediakan setiap tahun sehingga seolah masalah yang baru," ujar pria kelahiran Boyolali itu.  (mia/owi/wir)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Daerah yang Lahan Pertaniannya Paling Terimbas Kekeringan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler