Ini Daerah yang Lahan Pertaniannya Paling Terimbas Kekeringan

Rabu, 29 Juli 2015 – 05:06 WIB
Foto: dok.Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA - Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, mengatakan saat ini pihaknya fokus menjaga sekitar 190.000 hektar lahan pertanian yang berada di daerah endemik kekeringan.

"Berdasar laporan di lapangan lahan pertanian di Jawa yang paling terimbas kekeringan ada di Indramayu, Cirebon, Subang, Demak dan Grobogan," ujarnya.

BACA JUGA: Hasil Operasi Ketupat Lebaran: 646 Nyawa Melayang di Jalanan

Untuk mengatasi ancaman gagal panen, lanjut Gatot, para petani padi di daerah tersebut beralih menanam semangka, melon, dan palawija, terutama kacang hijau.

Sementara untuk daerah di luar Jawa seperti di Sumatera Selatan, Lampung, Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, para petani masih bisa bertahan dengan menanam padi. "Pasokan beras masih aman," tuturnya.

BACA JUGA: Banyak yang Protes, Kenapa Bandara tidak ada Debu tapi Ditutup?

Dalam rangka mengatasi kekeringan, Kementan telah mendistribusikan 36 ribu pompa air, traktor serta membangun jaringan irigrasi tertier di berbagai daerah. Dengan bantuan pompa air, masalah kekurangan air diharapkan bisa teratasi.

"Petani bisa memanfaatkan sumber-sumber air sungai atau air tanah dangkal untuk mengairi tanaman padi mereka yang sedang kekeringan," ungkapnya.

BACA JUGA: Anak Buah Sebut Gatot Inisiator Gugatan ke PTUN

Agar penanganan masalah kekeringan berjalan efektif, Kementan membentuk tim mitigasi kekeringan. Di luar itu ada dukungan dari anggota bintara pembina desa (babinsa), dosen, mahasiswa, dan organisasi tani seperti Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

"Babinsa juga dilibatkan untuk mengatur penggunaan air irigasi secara bergiliran agar tidak ada yang kelebihan atau kekurangan," sebutnya.

Pihaknya yakin lahan pertanian yang mengalami puso pada tahun ini akan menurun. Berdasar catatan Kementan, selama periode Oktober 2013 hingga Juli 2014 lahan pertanian yang kekeringan mencapai 159.000 hektar, sementara dari Oktober 2014 hingga Juli 2015 hanya 57.000 hektar.

"Ada 102.000 hektar yang terselamatkan, dalam skala rupiah nilai produksinya Rp 2 triliun," terangnya.

Adapun solusi jangka panjang, dianggarkan dana Rp 2 triliun di tahun anggaran 2016 untuk pembangunan cekungan penampung air alias embung. Embung, kata dia, akan berguna menampung air ketika musim hujan tiba.

Ketika kemarau tiba, persedian air dalam embung bisa dipergunakan untuk mengairi persawahan."Rata-rata satu embung itu luasnya 10-15 hektar," jelasnya. (mia/owi/wir)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kejagung Tambah Tersangka Kasus Mandra


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler