Kemendikbudristek: Kegiatan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Vokasi Masih Rendah

Minggu, 07 November 2021 – 13:49 WIB
Sejumlah anak muda yang berhasil menjadi wirausahawan dalam webinar besutan Direktorat Mitras DUDI Kemendikbudristek. Foto tangkapan layar

jpnn.com, JAKARTA - Hasil survei nasional yang dilakukan Direktorat Mitras DUDI Kemendikbudristek terhadap perguruan tinggi penyelenggara pendidikan vokasi (PTPPV) tahun 2021 menunjukkan minimnya kegiatan kewirausahaan.

Mahasiswa tahun pertama dan terakhir memiliki persepsi kampus mereka belum banyak menyediakan berbagai aktivitas kewirausahaan.

BACA JUGA: PII Bantu 50 Mahasiswa dan Lulusan Program Vokasi Asal Indonesia Bekerja di Hungaria

Sedangkan dilihat dari minat berwirausaha, mahasiswa tahun pertama dan terakhir memiliki minat yang sama untuk menjadi seorang wirausahawan. 

Survei Kemendikbudristek ini menyebutkan, aktivitas kewirausahaan yang menjadi faktor penting dalam mendorong minat mahasiswa tahun terakhir untuk berwirausaha masih minim dilakukan PTPPV. 

BACA JUGA: Kemendikbudristek: AITEC jadi Tolok Ukur Kompetensi Mahasiswa Vokasi

Owner Nakamse Fathir Ibnu menceritakan bagaimana menjadi wirausahawan sejak lulus dari Sekolah Vokasi Universitas Brawijaya.

Saat itu Fathir, yang sempat bekerja di beberapa instansi, melihat bisnis nasi kotak memiliki potensi di Malang, Jawa Timur karena belum ada yang menggelutinya. Saat ini Nakamse sudah berbasis kemitraan dan tersedia di Bali, Surabaya, dan Malang. 

BACA JUGA: Kemendikbudristek Ungkap Kunci Keberhasilan Pendidikan Vokasi

“Ternyata bisnis F&B yang paling dilirik investor karena bentuk fisik retailnya terlihat sehingga pengembangan bisnis sekarang menjadi lebih mudah,” ujar Fathir dalam webinar besutan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Kemendikbudristek baru-baru ini.

Fathir memiliki latar belakang ilmu manajemen informasi bisnis multimedia di sekolah vokasi.

Awalnya dia tidak memiliki rencana berbisnis selepas bangku kuliah, tetapi rencananya kemudian berubah. Di bangku kuliah Fathir mendapatkan materi perkuliah kewirausahaan dan menuntut dia menjalankan proyek bsinis. 

Dari situ dia memilih di jalur bisnis. Awalnya masuk jurusan tersebut karena sudah jalur terakhir daripada tidak kuliah. 

"Aku coba kuliah di vokasi dan tidak menyesal. Banyak dosen yang sampai sekarang membantu jalannya bisnis saya. Link di vokasi bagus,” tutur Fathir. 

Pada kesempatan sama, CEO Digital Desa Sidik Permana mengungkapkan bentuk kewirausahaan makin beragam, termasuk social-entrepreneur (sociopreneur). Konsep sociopreneurship adalah menggabungkan konsep bisnis dengan isu sosial. 

Satu dari sekian contoh sociopreneurship adalah Digital Desa, sebuah platform yang membantu desa melakukan transformasi digital di desa masing-masing.

Dibangun sejak 2019, saat ini Digital Desa (Digides) memiliki pengguna aktif sebanyak 429 desa terdaftar, 78 kabupaten, dan 6598 pengguna aplikasi. 

“Digides hari ini berkutat di digitalisasi desa karena potensi yang ada adalah hampir 100 juta penduduk di desa punya literasi digital yang kurang, pelayanan publik banyak yang harus dibenahi,” ujar  Sidik Permana. 

Sementara Co-Founder & Partnership Director IDVolunteering Putri Agustina mengungkapkan untuk menemukan ide di bidang siciopreneurship, maka lulusan vokasi harus memiliki empati terhadap masyarakat dan mewujudkan empatinya. 

“Kita masuk ke masyarakat. Dari situ kita bisa dapat ide untuk membuat usaha sosial,” kata Putri. 

Dalam membangun sociopreneurship, insan vokasi harus memiliki karakter pantang menyerah karena banyak tantangannya.

Career Class Alia Noor Anoviar menuturkan saat membangun Dreamdelion, yayasan yang bergerak dalam bidang program pemberdayaan masyarakat, dia bisa saja menyerah jika mengikuti egonya.

Selain pantang menyerah, insan vokasi juga harus memiliki karakter sabar. Menurut Alia kadang ada pihak yang perlu dibantu, tetapi tidak mau dibantu. 

“Buat kami, sangat menantang untuk bisa masuk ke masyarakat di satu tahun pertama," ujar Alia. (esy/jpnn)


Redaktur : Natalia
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler