Kemenko Perekonomian: Kelapa Sawit Sangat Penting untuk Negara

Kamis, 12 Mei 2022 – 06:13 WIB
Kemenko Perekonomian mengatakan pemerintah memberikan perhatian penuh pada dinamika serta situasi terkait minyak sawit dan minyak nabati. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kamenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan pemerintah memberikan perhatian penuh pada dinamika serta situasi terkait minyak sawit dan minyak nabati.

Perhatian itu, kata dia, diberikan tak hanya di dalam, tetapi juga di luar negeri serta stabilitas sawit dari hulu sampai hilir.

BACA JUGA: Pengusaha Sawit di Kalbar Minta Pemerintah Buka Kran Ekspor CPO

Hal itu disampaikan dalam opening remarks Roundtable Discussion bertajuk “Dinamika dan Perkembangan Terkini Terkait Minyak Sawit dan Minyak Nabati Lain di Uni Eropa Rabu (11/5).

“Kelapa sawit ini sangat penting untuk negara kita. Buktinya begitu harga kelapa sawit tinggi dan ada isu minyak goreng, reaksi masyarakat sedemikian besarnya. Mulai sekarang kita harus mulai membangun dari bawah. Membangun suasana yang stabil dari hulu sampai hilir,” kata Musdhalifah, di Jakarta.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Anjlok Lagi, CPO Tak Dilelang, Aduh Biyung!

Musdhalifah mengatakan perlu kesamaan narasi sawit nasional dari semua stakholder untuk menyiapkan strategi kampanye positif dan diplomasi minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan di arena internasional.

Industri kelapa sawit merupakan sektor strategis yang memiliki kontribusi yang besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 16 juta pekerja.

BACA JUGA: Aduh-Aduh, Harga TBS Sawit Melorot Terus, Petani Sedih

"Dari sisi perdagangan, sektor industri sawit juga telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dengan menghasilkan devisa nasional sebesar 35,5 miliar dolar AS pada 2021," ungkapnya.

Namun, saat ini industri sawit Indonesia menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah negative campaign dan kebijakan diskriminatif yang berasal dari luar negeri seperti yang terjadi di Uni Eropa.

Kemudian, lanjut Musdhalifah pandemi Covid-19, kegagalan panen karena faktor iklim, ditambah dengan perkembangan geopolitik yang terjadi di kawasan Eropa telah menyebabkan disrupsi di pasar minyak nabati dunia khususnya Uni Eropa.

Rusia dan Ukraina merupakan negara produsen minyak biji bunga matahari (sunflower oil), konflik diantara kedua negara tersebut menyebabkan kelangkaan pasokan sunflower oil di beberapa negara anggota Uni Eropa.

“Hal-hal tersebut merupakan tantangan dan sekaligus peluang yang harus disikapi secara tepat oleh Indonesia sebagai produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia,” tegas Musdhalifah. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler