Kemenlu Harus Segera Menyelamatkan 2 WNI yang Ditahan Pasukan Revolusi Iran

Kamis, 07 Januari 2021 – 08:37 WIB
Wakil Ketua DPR M. Azis Syamsuddin. Foto: Humas DPR.

jpnn.com, JAKARTA - Dua warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi awak kapal tanker MT Hankuk Chemi berbendera Korea Selatan (Korsel) turut ditahan oleh pasukan Korps Garda Revolusi Iran, di Teluk Persia pada Senin (4/1).

Kapal tanker membawa bahan kimia itu ditahan atas dugaan pelanggaran batas wilayah dan pencemaran lingkungan.

BACA JUGA: Warga DKI Menolak Vaksinasi Covid-19 Didenda Rp 5 Juta, Ada Kekerasan Jadi Rp 7 Juta

Kapal itu sedang berlayar dari Jubail, Arab Saudi, ke Fujairah di Uni Emirat Arab.

Wakil Ketua DPR RI M. Azis Syamsuddin menyoroti langkah pasukan Korps Garda Revolusi Iran itu mengingat ada dua anak buah kapal (ABK) WNI yang turut ditahan.

BACA JUGA: Iran Kembali Berulah, Giliran Korsel Dibuat Marah

“Kementerian Luar Negeri harus aktif dalam membebaskan ABK WNI yang turut ditahan oleh Iran," kata Azis, Rabu (6/1).

Azis meminta semua jalur komunikasi agar diintensifkan dalam mengetahui keadaan para ABK WNI tersebut, dan juga memberikan mereka pendampingan.

BACA JUGA: Uang di Rekening FPI Dicurigai Hasil Pidana, Munarman: Itu Semua dari Umat

"Serta dibebaskan dengan segala kemampuan yang kita miliki," ungkapnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah mengatakan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah memerintahkan Duta Besar Indonesia untuk Iran segara membuka komunikasi dengan pihak setempat terkait nasib dua ABK WNI.

Azis menuturkan Kedutaan Besar RI di Tehran, harus proaktif dan menjadikan hal ini sebagai prioritas utama.

"Setiap WNI memiliki hak bantuan hukum, serta pendampingan agar segera dibebaskan dan dikembalikan ke Indonesia," kata pimpinan DPR bidang koordinasi politik, hukum dan keamanan itu.

Azis pun mendesak Kemenlu untuk paralel berkoordinasi melalui Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta dalam memantau perkembangan isu ini.

Seperti diketahui, pemerintah Korsel  telah mengirimkan kapal perang dan pasukan khusus ke wilayah tersebut dalam rangka mengantisipasi langkah-langkah yang dirasa perlu.

Korsel menuduh Iran menyandera kapal tanker Hankuk Chemi itu. Namun, Iran membantah dengan balik menuding Korsel sebagai penyandera laba minyak Iran USD 7 miliar di bank milik Korsel tanpa alasan. Hal ini kemudian memicu diskursus antarkedua negara.

Azis menegaskan sekarang bukan saatnya berbicara politik, namun bagaimana keselamatan ABK yang disandera menjadi prioritas.

Menurutnya, Indonesia memiliki hubungan baik dengan Iran. Karena itu, dia berharap semoga persoalan ini bisa segera teratasi.

"Saya juga berharap Iran dan Korea Selatan bisa saling menghargai dan segera menuntaskan persoalan ini agar tidak berkelanjutan dan tidak terulang di masa mendatang," paparnya.

Azis juga mengharapkan kondisi seperti ini tidak terulang, khususnya saat dunia sedang berjuang melawan pandemi Covid-19.

Dia berharap negara-negara di dunia dapat menahan diri dan mengedepankan diplomasi yang konstruktif dan positif dalam menjaga perdamaian.

“Kami harapkan semua negara menahan diri, mengedepankan diplomasi. Kita semua harus bahu-membahu melawan pandemi Covid-19 baik secara kesehatan dan juga roda perekonomian global," katanya.

Menurutnya, jalur pelayaran menjadi sangat penting dalam meningkatkan perekonomian. Oleh sebab itu, Azis mengajak untuk saling membantu dan mempermudah.

"Jangan dipersulit. Keberatan bisa disampaikan melalui nota diplomatik maupun instrumen-instrumen hukum internasional," tutupnya.(boy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler