Kementan Berharap Penangkar Benih di Jatim dan Jateng Penuhi Produksi Kedelai Lokal

Minggu, 27 Februari 2022 – 19:20 WIB
Kementan optimistis para penangkar benih di Jateng dan Jatim bisa memenuhi kebutuhan kedelai lokal. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, BLITAR - Beberapa penangkar kedelai di Jawa Tengah dan Jawa Timur mendukung program pemerintah dalam memenuhi produksi 200 ribu ton kedelai.

Mereka mengaku optimistis masa tanam tahun ini bisa memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri.

BACA JUGA: Kementan Gerak Cepat Kucurkan Alsintan untuk Dukung Kemajuan Pertanian di Sini

Apalagi, bibit yang digunakan merupakan unggul hasil penelitian Kementan.

"Kami baru klik katalog pengadaan benih 31 ton. Nanti, april kami siapkan lagi 150 ton. Kemudian, Mei 100 ton. Kami optimistis bisa memenuhi kedelai lokal,'' ujar Hamdan, salah seorang penangkar di Kabupaten Grobogan dan Kendal, Sabtu (26/2).

BACA JUGA: Kementan Siapkan Benih Kedelai yang Bisa Disesuaikan di Iklim Tropis

Pokoknya, pihaknya menukung penuh pemerintah.

Hamdan mengatakan, saat ini, kondisi pertanaman di Kendal memasuki masa bunga dan sebagainya lain masuk masa pengiaian polong.

BACA JUGA: Kementan Tuntaskan Persoalan Administrasi KUR Taxi Alsintan dalam Sehari

Diperkirakan, potensi panen tahun ini rata-rata 2,5 ton per hektare.

"Tanaman kami alhamdulillah dalam kondisi baik dan cuacanya juga pas. Jadi, sangat tepat sekali penanaman kedelai. Apalagi, kami pakai bibit jenis var grobogan,'' katanya.

Penangkar lainnya dari Kabupaten Blitar, Gito Suyanto, mengatakan bahwa penanaman kedelai tahun ini bisa mencapai hasil maksimal karena dukungan pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang terus mendampingi petani lokal.

"Panen kami akan berlangsung di sekitar akhir Maret mendatang. Saat ini, perkembangan kedelai kami sangat bagus. Apalagi, tanaman kami ditumpangsarikan dengan cabai. Alhamdulillah per hektare berkisar 1,5 ton," katanya.

Di Kabupaten Kendal, Darmawan, salah satu penangkar dari kelompok tani karya jaya, mengatakan bahwa kondisi kedelai saat ini memasuki masa tanam dua pekan dengan cuaca dan pertumbuhan yang sangat baik.

"Pertanaman ini bisa mencapai 2 ton per hektare. Alhamdulillah dalam kondisi yang baik dan kami siap membantu pemerintah menyediakan kebutuhan kedelai lokal," katanya.

Sebab, Kementerian Pertanian menyiapkan benih kedelai sumber yang sudah adaptif terhadap berbagai kondisi agroklimat di lingkungan tropis.

Hal ini seperti yang dikatakan Peneliti ahli utama Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Balitbang Kementan M. Muchlish Adie saat ditemui di kawasan Malang, Jawa Timur.

Menurut Muchlish, benih sumber hasil penelitian Balitbangtan memiliki keunggulan yang sangat luar biasa dan mampu menghasilkan produk di atas rata-rata.

Secara hitung-hitungan, 1 ton benih sumber kedelai untuk 20 hektare atau *lper hektarnya membutuhkan 50 kg.

"Selama ini, setiap tahun, kami menyebarkan 30 ton benih sumber kedelai berbagai varietas untuk dikembangkan kembali para penangkar benih sebelum menjadi benih siap tanam untuk kedelai konsumsi," katanya.

Muchlish mengaku optimistis bahwa target pemerintah dalam memenuhi kebutuhan kedelai lokal dapat diwujudkan secara cepat, tetapi tetap bertahap.

Asalkan, kata dia, semua pihak ikut terlibat dan mendukung kemampuan bangsa sendiri dalam menghasilkan produksi berkualitas.

"Kedelai itu asal usulnya memang dari daerah subtropis. Dari semua tanaman pangan, yang pertama dilepas itu kedelai pada 1918. sampai sekarang hampir 100 tahun dan sudah cocok sekali dengan kondisi Indonesia. Kami sudah mengembangkan 114 varietas kedelai yang cocok dengan kondisi iklim kami," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Muchlish optimistis dengan pemetaan lokasi penangkar benih yang tersebar di beberapa provinsi mampu menyuplai benih.

Biasanya, puncak pertanaman kedelai pada Juni atau Juli adalah masa optimal pertanaman. Januari hingga Maret biasanya masa penyiapan benih.

''Sentra kedelai di 10 provinsi saya yakin bisa bagus produksinya,” tambahnya.

Mendapatkan produksi kedelai yang optimal, menurut Muchlish terletak pada strategi populasi benih yang ditanam pada 1 hektare lahan.

Idealnya, petani menanam 250 ribu tanaman dalam 1 hektare di Kendal dan Nganjuk.

“Yang sering terjadi, populasinya hanya 150 ribu tanaman dan akhirnya tidak maksimal. Karena itu, kami dari Balitbangtan perlu mendampingi petani,” tandasnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler