Kementan Mengajak Petani & Penyuluh Kenali Pupuk Asli dan Palsu

Rabu, 17 Januari 2024 – 10:48 WIB
Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 02, Selasa (16/1), yang bertemakan “Pentingnya Uji Mutu dan Uji Efektivitas Pupuk”. Foto: tangkapanlayardokkementan

jpnn.com - JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa kurangnya pasokan pupuk bersubsidi berdampak pada menurunya jumlah produksi hingga empat juta ton pada 2023.

Para petani yang bertempat tinggal di wilayah pegunungan dan hutan pun tak punya peluang mendapatkan pupuk bersubsidi.

BACA JUGA: Pakar Dukung Langkah Kementan Mempermudah Regulasi Terkait Pengambilan Pupuk Subsidi

“Untuk tahun ini ada penambahan anggaran pupuk subsidi sebesar Rp 14 triliun. Ini dilakukan agar pemerintah dapat bergerak cepat untuk menambah pasokan pupuk petani guna mengantisipasi fenomena El Nino,” kata Mentan Amran.

Menurut Amran, pemerintahan Presiden Jokowi telah berkomitmen untuk memperkuat kemampuan produksi petani, apalagi saat ini tengah terjadi krisis pangan di banyak negara dunia.

BACA JUGA: Ditreskrimsus Polda Riau Ungkap Peredaran Pupuk Palsu, 2 Tersangka Ditangkap

Amran meminta semua bekerja sama untuk bisa meningkatkan produksi. "Semua sedang dihadapkan pada krisis pangan dunia. Jadi, kita harus bisa meningkatkan kemandirian," ujarnya.

Senada dengan Mentan Amran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa alokasi pupuk subsidi pad 2024 ditambah Rp 14 triliun atau setara dengan 2,5 juta ton urea ditambah NPK.

BACA JUGA: Pabrik Pupuk Palsu di Lampung Selatan Digerebek Polisi, Barang Buktinya Banyak Banget

“Pak Mentan sudah merevisi bahwa menebus pupuk boleh memakai Kartu Tani ataupun KTP, sehingga lebih mudah dan petani dapat langsung menebus pupuk bersubsidi,” ujar Dedi.

Dia mengimbau kepada para penyuluh untuk dapat mengawal petani supaya bijak dalam penggunakan pupuk berimbang, menggunakan bibit dan benih yang berkualitas, serta memperhatikan nutrisi tanaman atau pakan ternak untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 02, Selasa (16/1), yang bertemakan “Pentingnya Uji Mutu dan Uji Efektivitas Pupuk”, selaku narasumber Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Tanah dan Pupuk, Ladiyani Retno Widyawati menjelaskan tentang proses cara uji pupuk, dengan mengajukan analisa uji mutu berkala ke dinas jika mau dijual di luar kabupaten. Sehingga tidak hanya terdaftar pupuk dan pembenah tanahnya, tetapi juga termonitor kualitasnya.

Uji efektivitas dilakukan oleh Lembaga Uji yang terkreditasi dan tercantum pada Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan), sedangkan untuk perlakuan dan pelaporan mengikuti perlakuan yang terdapat dalam Kepmentan tersebur, ini untuk menentukan lulus atau tidaknya suatu pupuk serta nilai beda nyata respon pupuk terhadap standar dan atau nilai RAE (Relative Agronomy Effectiviness).

"Saat ini terdapat pupuk asli dan pupuk tiruan atau palsu beredar dipasaran, petani harus jeli agar tidak tertukar,” kata Ladiyani.

Untuk membedakan pupuk asli atau palsu bisa dilihat dari ciri kemasannya.

Kemasan pupuk asli, di antaranya berlogo jelas dan rapi, nama produk, produsen dan izin edar.

Bentuk visual kompak, tidak berdebu, rasa asam dengan bau menyengat serta warna butiran seragam di bagian luar dan dalam.

Sedangkan ciri pupuk tiruan atau palsu ialah logo tidak jelas dan tidak rapi.

Selain nama produk, produsen dan izin edarnya tidak lengkap, juga bentuk visual tidak kompak, berdebu dan mudah hancur.

"Rasanya asin. Pahit dan baunya tidak menyengat serta warna butiran tidak seragam di bagian luar dan dalam," ujar Ladiyani. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler