Kementan: Stok Daging Sapi Desember Ini Surplus

Selasa, 24 Desember 2019 – 00:30 WIB
Ilustrasi daging sapi. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan daging sapi maupun kerbau pada bulan Desember ini akan surplus, sekalipun ada peningkatan permintaan. Namun, surplusnya stok daging itu masih dipenuhi oleh pasokan impor daging sapi dari Australia maupun Brasil.

Atas hal itu, masyarakat diminta tak perlu khawatir akan kehabisan stok daging selama Natal dan Tahun Baru.

BACA JUGA: Kementan Klaim Stok Daging Sapi dan Kerbau Jelang Lebaran Surplus

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan Syamsul Ma'arif mengatakan, ketersediaan daging sapi dan kerbau pada Desember ini diperkirakan sebesar 75.735 ton.

Stok itu berasal dari ketersediaan sapi lokal sebanyak 33.332 ton, stok sapi bakalan di perusahaan penggemukan setara 22.812 ton, stok daging sapi di gudang importir 15.943 ton, stok jeroan sapi di gudang importir 697 ton. 

BACA JUGA: Stok Aman, Tak ada Alasan Harga Daging Sapi Naik

Kemudian, ada juga stok daging kerbau impor dari India di gudang Bulog sebanyak 2.642 ton serta stok daging sapi Brasil 308 ton di PT Berdikari (Persero).

“Prognosis kebutuhan daging sepanjang Desember diprekirakan sebesar 56.538 ton. Ketersediaan kita masih lebih tinggi daripada kebutuhan sehingga suprlus 19.197 ton," ujar Syamsul di kantor Kementan, Senin (23/12).

Pria berkacamata ini menambahkan, pemerintah harus membuka keran impor karena keseluruhan produksi daging sapi belum mencukupi kebutuhan.

Sesuai prognosis pemerintah, kebutuhan daging sapi sepanjang 2019 sebesar 686.271 ton atau setara 3,43 juta ekor. Angka kebutuhan itu diperoleh dari rata-rata konsumsi masyarakat terhadap daging sapi sebesar 2,56 kilogram per kapita per tahun.

Sementara itu, produksi dalam negeri baru bisa mencapai 404.590 ton atau setara 2,02 juta ekor. Dengan kata lain, kemampuan produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 58,95 persen dari total kebutuhan.

Untuk memenuhi kekurangannya, pemerintah tahun ini membuka keran impor sebesar 291.990 ton, lebih tinggi 10.299 ton dari kekurangan stok sebagai penyangga kebutuhan.

"Jadi, dikarenakan adanya defisit daging, mau tidak mau kami harus importasi. Progonosis kebutuhan ini bukan kami yang susun. Tapi berdasarkan hasi Rakortas di Kemenko Perekonomian," ujar dia.

Namun, Syamsul memastikan, sekalipun daging bulan ini surplus, harga di tingkat produsen tetap mengalami kenaikan. Dari hasil pemantauan harga pada pekan ketiga Desember, rata-rata harga sapi hidup naik 0,52 persen dibanding pekan kedua dari Rp 44.729 per kilogram menjadi Rp 44.963 per kg.

Syamsul juga mengatakan, kenaikan harga tak bisa dihindari menjelang hari raya keagamaan dan sudah menjadi tren tahunan. Hanya saja, kenaikan tersebut masih dianggap wajar karena diyakini tidak akan berdampak pada kenaikan laju inflasi pangan.

"Kenaikan yang kami takutkan jika dia naik 10 persen sampai 20 persen, itu pasti pengaruh ke inflasi. Harga ini kami yakini masih wajar," tandas dia. (cuy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler