Kenali Gejala Stres Pada Anak Sejak Dini, Jangan Abai

Minggu, 25 Juli 2021 – 15:30 WIB
Ilustrasi anak sekolah. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Psikolog klinis anak dan keluarga Samanta Elsener menyatakan pentingnya orang tua mengenali gejala stres pada anak sejak dini.

Menurutnya, anak tidak seperti orang dewasa yang dapat mengungkapkan perasaannya dengan mudah.

BACA JUGA: Orang tua Penting Antisipasi 3 Masalah Kesehatan Pada Anak di Masa Pandemi

Karena itu, orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak.

"Harus benar-benar bisa melihat dari perilakunya, apa yang berubah dari anak," ujar Samanta dalam webinar 'Healthy Kids Healthy Family' belum lama ini.

BACA JUGA: RS Polri Raih Presisi Award Atas Dedikasi Tangani Covid-19

Gejala umum yang menunjukkan anak mengalami gangguan kesehatan mental di antaranya adalah emosi naik-turun, tidak mau sekolah (jika sudah usia sekolah), demotivasi, pola tidur berubah dan tiba-tiba pilih-pilih makanan.

Peran orang tua dalam hal ini memastikan kebutuhan anak bisa terpenuhi dan emosinya tersalurkan.

BACA JUGA: Rencana Moeldoko Memerkarakan ICW Disebut Respons yang Tepat

Orang tua juga harus bisa berkomunikasi dengan anak dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.

"Mau enggak mau ya orang tua harus jeli melihat kebutuhan anak, anak butuhnya apa sih."

"Apakah kalau cranky saja sudah bisa diklasifikasikan sebagai anak yang lagi stres atau dia mengalami fase-fase sensory meltdown (tantrum) atau kelebihan informasi-informasi yang diproses di otak tengah," kata Samanta.

Samanta juga menyebutkan beberapa gejala lain yang lebih berat saat anak mengalami gangguan kesehatan mental.

Seperti, mulai ngompol padahal sudah lulus toilet training sehingga melakukan sleep walking atau tidur berjalan.

"Itu indikasi ada kecemasan yang dirasakan oleh anak dan mengganggu dirinya."

"Lalu ada juga kondisi-kondisi yang mereka banting-banting barang, biasanya enggak pernah terus sekarang banting barang," ujar Samanta.

Jika beberapa gejala di atas dialami oleh anak, orang tua disarankan melakukan konsultasi ke psikolog atau psikiater.

"Tantangan-tantangan ini tidak hanya dialami oleh para orang tua di situasi pandemi COVID-19."

"Orang tua sebaiknya mencari informasi terus, jangan yang enggak akurat tetapi yang valid."

"Kalau dirasa informasinya kurang, tolong dijadwalkan dengan ahlinya agar bisa mendapatkan penanganan yang sesuai," kata Samanta.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler