Kenapa Militer Rusia yang Perkasa Gagal Kuasai Langit Ukraina? Ini Kata Para Analis

Rabu, 02 Maret 2022 – 21:53 WIB
Pesawat Sukhoi Su-27 tim akrobatik Angkatan Udara Rusia melakukan atraksi di langit Dubai pada 14 November 2021. Foto: GIUSEPPE CACACE / AFP

jpnn.com - Sebelum invasi terjadi, intelijen AS memperkirakan Rusia bakal memaksimalkan kekuatan udaranya yang besar untuk mendominasi langit Ukraina, yang berujung pada takluknya negara tersebut dalam waktu singkat.

Namun, enam hari pertama pertempuran telah membuyarkan analisis tersebut. Moskow kini justru bertindak sangat hati-hati dengan kekuatan udaranya, bahkan pejabat AS sampai terheran-heran melihat strategi cari aman tersebut.

BACA JUGA: Imbas Konflik Rusia-Ukraina, Harga Komoditas Ini Berpotensi Naik

“Mereka belum tentu mau mengambil risiko tinggi dengan pesawat mereka sendiri dan pilot mereka sendiri,” kata seorang pejabat senior pertahanan AS, yang menolak disebut namanya kepada Reuters.

Kalah segala-galanya dari armada Rusia, angkatan udara Ukraina sampai sekarang masih terbang dan pertahanan udara negara itu masih dianggap layak. Sebuah fakta yang membingungkan para ahli militer.

BACA JUGA: Awas! Jangan Sepelekan Dampak Perang Rusia-Ukraina Bagi Indonesia

Setelah serangan pembuka perang pada 24 Februari, para analis memperkirakan militer Rusia akan menjadikan kehancuran kekuatan udara Ukraina sebagai prioritas utama.

"Itu adalah langkah yang logis dan diperkirakan secara luas, seperti yang terlihat di hampir setiap konflik militer sejak 1938," tulis think-tank RUSI di London, dalam sebuah artikel berjudul "Kasus Misterius Angkatan Udara Rusia yang Hilang."

BACA JUGA: Ulas Rusia Vs Ukraina, Pak SBY Khawatir soal Perang Nuklir

Sebaliknya, jet tempur Ukraina masih melakukan serangan udara dan serangan darat tingkat rendah. Pesawat Rusia sendiri masih terbang melalui wilayah udara yang diperebutkan.

Pasukan Ukraina dengan roket permukaan-ke-udara mampu mengancam pesawat Rusia dan menciptakan risiko bagi pilotnya yang mencoba mendukung pasukan darat.

“Ada banyak hal yang mereka lakukan yang membingungkan,” kata Rob Lee, seorang spesialis militer Rusia dari Foreign Policy Research Institute.

Dia pikir awal perang akan menjadi ajang pengerahan kekuatan maksimum.

"Karena setiap hari biaya dan risikonya terus naik. Dan mereka tidak melakukannya dan itu sangat sulit untuk dijelaskan menggunakan argumen realitis."

Kebingungan tentang bagaimana Rusia menggunakan angkatan udaranya muncul ketika pemerintahan Presiden Joe Biden menolak seruan Kyiv untuk zona larangan terbang yang dapat menarik Amerika Serikat secara langsung ke dalam konflik dengan Rusia.

Pakar militer telah melihat bukti kurangnya koordinasi angkatan udara Rusia dengan formasi pasukan darat, dengan beberapa kolom pasukan Rusia dikirim ke depan di luar jangkauan pertahanan udara mereka sendiri.

Itu membuat tentara Rusia rentan terhadap serangan dari pasukan Ukraina, termasuk yang baru dilengkapi dengan drone Turki dan rudal anti-tank AS dan Inggris.

David Deptula, pensiunan jenderal bintang tiga Angkatan Udara AS yang pernah memimpin zona larangan terbang di Irak utara, mengatakan dia terkejut bahwa Rusia tidak bekerja lebih keras untuk membangun dominasi udara sejak awal.

"Rusia menemukan bahwa mengoordinasikan operasi multi-domain tidak mudah," kata Deptula kepada Reuters. "Dan bahwa mereka tidak sebaik yang mereka duga."

Sementara Rusia berkinerja buruk, militer Ukraina sejauh ini melebihi harapan.

Pengalaman Ukraina dari delapan tahun terakhir pertempuran dengan pasukan separatis yang didukung Rusia di timur didominasi oleh perang parit gaya Perang Dunia Pertama.

Sebaliknya pasukan Rusia mendapat pengalaman tempur di Suriah, di mana mereka melakukan intervensi di pihak Presiden Bashar al-Assad, dan menunjukkan beberapa kemampuan untuk menyinkronkan manuver darat dengan serangan udara dan pesawat tak berawak.

Kemampuan Ukraina untuk terus menerbangkan jet angkatan udara adalah demonstrasi nyata dari ketahanan negara dalam menghadapi serangan dan telah menjadi pendorong moral, baik untuk militernya sendiri dan rakyat Ukraina, kata para ahli.

Hal ini juga menyebabkan mitologi angkatan udara Ukraina, termasuk kisah tentang jet tempur Ukraina yang konon seorang diri menjatuhkan enam pesawat Rusia, dijuluki online sebagai "The Ghost of Kyiv."

Pemeriksaan Fakta Reuters menunjukkan bagaimana klip dari videogame Digital Combat Simulator disalahartikan secara online untuk mengklaim bahwa itu adalah jet tempur Ukraina yang sebenarnya menembak jatuh sebuah pesawat Rusia.

Biden memimpin tepuk tangan meriah untuk mendukung Ukraina dalam pidato kenegaraannya pada hari Selasa, memuji tekad mereka dan mengejek Putin karena berpikir dia bisa saja "masuk ke Ukraina" tanpa perlawanan. Baca selengkapnya

“Sebaliknya dia bertemu dengan tembok kekuatan yang tidak pernah dia bayangkan. Dia bertemu dengan orang-orang Ukraina,” kata Biden.

Amerika Serikat memperkirakan bahwa Rusia menggunakan lebih dari 75 pesawat dalam invasi Ukraina, kata pejabat senior AS.

Menjelang invasi, para pejabat memperkirakan bahwa Rusia berpotensi menyiapkan ratusan ribu pesawat di angkatan udaranya untuk misi Ukraina.

Namun, pejabat senior AS pada Selasa menolak untuk memperkirakan berapa banyak pesawat tempur Rusia, termasuk helikopter serang, yang mungkin masih tersedia dan di luar Ukraina.

"Kami memang memiliki indikasi bahwa mereka kehilangan beberapa (pesawat), tetapi begitu juga dengan Ukraina," kata pejabat itu.

"Wilayah udara aktif terus diperebutkan setiap hari." (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler