Kerahkan Tim Spiderman Bernyali Tinggi untuk Selesaikan GWK

Minggu, 15 Juli 2018 – 18:42 WIB
KEBUT PENGERJAAN: Pekerja dengan alat berat memasang bagian-bagian patung Garda Wisnu Kencana (GWK) di tengah terpaan angin kencang dan duhu dingin. Foto: Miftahuddin Halim/Radar Bali

jpnn.com, BADUNG - Ratusan pekerja proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali harus berjibaku melawan terpaan angin kencang dan udara dingin. Suhu dingin dan angin kencang belakangan ini memang berpengaruh kepada 200 pekerja proyek GWK.

Para pekerja itu harus bekerja di atas ketinggian 271 mdpl. Padahal, mereka harus menyelesaikan pemasangan modul atau bidang yang luas karena angin terlalu kencang.

BACA JUGA: Padi hingga Limp Bizkit Bakal Ramaikan Soundrenaline 2018

Untuk menyiasati itu, pemasangan modul harus dilakukan subuh ketika angin belum terlalu kencang. Arsitek GWK Nyoman Nuarta menyebut hal itu sebagai hambatan alam.

“Anak-anak (pekerja) ada saja yang sakit. Entah itu flu, masuk angin dan lainnya karena cuaca seperti sekarang. Tapi, semoga semua selamat sampai selesai,” ujarnya. 

BACA JUGA: Anggarkan Rp 801 M untuk Acara IMF, Ini Penjelasan Luhut

Nah, para pekerja di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu harus menyelesaikan pengerjaan bagian ekor GWK. Menurut Nuarta, bagian ekor itu merupakan yang terberat.

Bagian ekor itu memiliki lebar 40 meter yang menjuntai sepanjang 30 meter. Pekerja harus menyambung bidang atau modul tembaga secara hati-hati.

BACA JUGA: Delegasi 10 Negara Akan Mendarat di Bandara Banyuwangi

Hari Senin besok (16/7) proses pemasangan ekor bagian depan atas bakal dimulai. Nuarta melibatkan tim khusus untuk penyambungan modul itu. Namanya tim laba-laba atau spiderman.

Nuarta mengatakan, tim itu bergerak menyelesaikan bidang luar. “Tim laba-laba ini harus punya nyali dan posisinya harus prima,” ungkapnya.

Para pekerja juga harus memasang pipa khusus untuk memperkuat bagian sayap burung supaya tahan terhadap embusan angin kencang. Sejauh ini progresnya sudah sekitar 91 persen.

Hal itu merujuk pada kulit patung yang telah terpasang. Dari luas total kulit patung 2,5 hektare 25.000 meter persegi, masih ada 1.500 meter yang belum terpasang.

Tantangan lain yaitu kecepatan angin rata-rata 12 km/jam. Sementara crane atau alat yang digunakan memasang modul tidak bisa beroperasi ketika kecepatan angin lebih dari 10 km/jam.

Ketika melebihi 10 km/jam, maka crane otomatis berhenti. “Makanya menaikkan modul harus subuh-subuh. Kalau tidak angin sudah kencang,” beber pria 66 tahun itu.

Apakah GWK akan selesai saat pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bali pada Oktober mendatang? Nuarta menjawanya dengan nada datar.

“GWK sudah tidak milik saya lagi. Mungkin, Oktober mau buat acara IMF saya tidak diperlukan lagi,” pungkasnya.(rb/san/mus/mus/JPR)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Patung GWK Hampir Jadi, Bali Bakal Semakin Memikat Hati


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler