Kereta Jarak Jauh Tidak Disubsidi

Subsidi Dialihkan ke KRL dan Komuter

Rabu, 24 September 2014 – 06:57 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pengguna jasa transportasi kereta api harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya pemerintah berencana mencabut subsidi yang selama ini diberikan pada kereta api jarak jauh. Rencana aturan baru itu akan diberlakukan tahun depan.

Kepastian itu dikatakan oleh Humas Ditjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Joyce Hutajulu. Menurut Joyce ke depannya subsidi untuk kereta api jarak jauh itu akan dihapus.

BACA JUGA: PLN Kian Bergantung Lender Asing

Bantuan anggaran dari pemerintah untuk kereta api jarak jauh itu akan dialihkan ke kereta api yang lain. "Subsidi akan dialihkan ke kereta jarak pendek dan komuter," ujarnya.

Menurut dia, pemberian Public Obligation Service (PS0) atau subsidi bagi kereta jarak jauh oleh Kemenhub selama ini tidak tepat sasaran. Karena kereta api jarak jauh tidak selalu dipadati penumpang setiap harinya.

BACA JUGA: Perkuat Gadai dan Cicil Emas

Nah, hal itu berbanding terbalik dengan kereta api jarak sedang dan komuter. Joyce memaparkan justru komuter dan KRL yang sekarang selalu ramai oleh penumpang. Dia mencontohkan KRL jurusan Bogor-Jakarta.

Saat ini jumlah kereta yang beroperasi sebanyak 89 kereta. Itu pun penumpangnya sangat ramai. Yakni mencapai 700 ribu per harinya. "Sekarang ini Basic need masyarakat ya KRL dan komuter," ucapnya.

BACA JUGA: Perkuat Pasokan Listrik, Jokowi-JK Bakal Andalkan Batubara

Dia menambahkan, menurut catatan kemenhub, banyak kereta api jarak jauh yang tidak bisa menyerap anggaran PSO itu. Misalnya saja kereta api jurusan Surabaya-Jakarta.

Seharusnya kereta itu beroperasi dengan delapan gerbong. Tapi karena sepi penumpang hanya enam gerbong saja yang beroperasi. "Jadi anggarannya sia-sia," ujarnya.

Lebih lanjut, saat ini anggaran PSO masih dibahas antara Kemenhub dan DPR RI. Joyce mengatakan jika nantinya jumlah anggaran PSO yang disepakati besar, maka penghapusan subsidi itu tidak akan dilakukan.

Namun, lanjutnya, jika anggaran PSO yang ditetapkan lebih kecil dari tahun 2013, maka mau tidak mau subsidi akan dihapus. Dari data yang dihimpun tahun lalu PSO yang disepakati oleh DPR dan Kemenhub jumlahnya mencapai Rp 1,2 triliun.

Sementara itu, Direktur Lalu-lintas Kereta Api Ditjen Perkeretapian Kemenhub Hanggoro Budi Wiryawan ketika dikonfirmasi membenarkan adanya usulan itu. Dia menyatakan usulan penghapusan subsidi itu masih dimatangkan oleh Kemenhub dan DPR RI. "Kami masih rapat membahas usulan itu," jelasnya.

Menurut Hanggoro, kereta jarak jauh bukan kebutuhan sehari-hari. Karena hanya digunakan sekali dalam satu bulan. Sehingga dia memandang subsidi itu lebih tepat digeser ke KRL dan komuter. "KRL dan komuter justru sangat membutuhkan PSO," ucapnya.

Dia mencontohkan perbandingan dari segi jumlah penumpang. Dalam tiga tahun terakhir jumlah penumpang KA jarak jauh terus menurun. Pada tahun 2011 jumlahnya Rp 10.077.917 penumpang, tahun 2012 totalnya 6.656.114 orang dan pada tahun 2013 jumlahnya 3.845.119.

Sementara itu, penumpang KRL Ekonomi terus melonjak. Tahun 2011 totalnya 55.094.836 penumpang. Tahun 2012 turun menjadi 46.511.205 orang.

Namun pada tahun 2013 kembali naik menjadi 112.840.787 penumpang. "Kenaikan penumpang itu menjadi pertimbangan kami mengalihkan PSO ke KRL," terangnya.

Hanggoro melanjutkan, dengan pemindahan PSO itu nantinya akan ada perbaikan kualitas KRL dan komuter. Menurut dia perbaikan itu tidak hanya dalam segi penambahan frekuensi kereta api, pihaknya juga akan menambah jumlah gerbong serta destinasi. "Harapan kami bisa memfasilitasi penumpang KRL dan komuter," jelasnya. (aph)

Jumlah penumpang KA Jarak Jauh:
2011 : 10.077.917
2012 : 6.656.114
2013 : 3.845.119

Jumlah penumpang KRL
2011 : 55.094.836
2012 : 46.511.205
2013 : 112.840.787

Kereta jarak jauh yaitu kereta yang jarak tempuhnya lebih dari 12 jam
Sumber : Kemenhub

BACA ARTIKEL LAINNYA... Presiden Minta Kepala Daerah Dukung Tol Trans Sumatera


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler