Kerusuhan Mereda, Rupiah Menguat, Investor Masuk Lagi

Jumat, 24 Mei 2019 – 10:51 WIB
Kondisi depan Gedung Bawaslu, Jakarta Pusat, Kamis (23/5) siang. Foto: Fathan Sinaga/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kerusuhan 22 Mei di depan markas Bawaslu RI dan sekitarnya sempat membuat rupiah jatuh terperosok. Mengacu data Bloomberg, saat kerusuhan terjadi rupiah berada di posisi yang menggenaskan. Yakni, Rp 14.525 per dolar AS. Koreksi rupiah tersebut merupakan yang terdalam di Asia.

Setelah kerusuhan mereda kemarin (23/5), nilai tukar rupiah mulai menguat. Pada pasar spot, rupiah bertengger di level Rp 14.480 per dolar AS atau terapresiasi 45 poin (0,31 persen). Rupiah juga mengalami penguatan terhadap beberapa mata uang asing.

BACA JUGA: Kabar Terbaru soal Status Ambulans Gerindra yang Kedapatan Membawa Batu

’’Alhamdulillah, nilai tukar rupiah menguat,’’ papar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam rapat koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung Kemenkeu kemarin.

Dia menuturkan, kerusuhan 22 Mei lalu memang sempat memberikan tekanan terhadap rupiah. Namun, faktor global, yakni eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok, lebih memberikan pengaruh besar terhadap anjloknya kurs rupiah. ’’Faktor global lebih dominan,’’ tuturnya.

BACA JUGA: Pelaku Usaha Beber Dampak Negatif Kegaduhan Politik

Perry mengungkapkan, kegiatan jual beli kemarin kembali lancar. Hal tersebut disertai upaya eksporter menjual hasil ekspornya ke pasar valas sehingga mendorong rupiah ke level yang lebih tinggi. Pihaknya memperkirakan, rupiah tetap bergerak stabil dan cenderung menguat hingga Lebaran nanti. ’’Terima kasih kepada para eksporter dan perbankan yang turut menjaga stabilitas rupiah,’’ tambahnya.

(Baca Juga: Begini Penampakan Situasi di Depan Bawaslu Setelah Kerusuhan 22 Mei)

BACA JUGA: Pembakar Pos Polisi Sabang Ditangkap

Perry menuturkan, aksi kerusuhan 22 Mei ternyata tidak melunturkan kepercayaan investor terhadap Indonesia. Investor asing masih mengalirkan dananya pada pasar sekunder surat berharga negara (SBN). BI mencatat, inflow yang masuk dalam dua hari terakhir mencapai Rp 1,7 triliun.

Pihaknya melihat hal itu sebagai tanda positif. Sebab, pada 13–17 Mei lalu, terjadi penarikan dana asing di SBN sekitar Rp 7,3 triliun. ’’Inflow tersebut menunjukkan confidence investor asing masih tinggi,’’ katanya.

Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin (23/5) rebound dan kembali ke level psikologis 6.000. IHSG berhasil naik 93,06 poin atau 1,57 persen ke level 6.032,70. Aksi beli didominasi investor domestik karena asing mencatat net sell Rp 614,58 miliar.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, sentimen negatif dari perang dagang telah membuat indeks saham turun secara gradual. ’’Tetapi, itu tidak akan lama karena dana asing itu kalau dikirim ke luar justru hanya akan mendapatkan yield yang lebih kecil,’’ jelasnya.

Sejak awal Mei, IHSG telah menurun 8 persen. Sepanjang Mei, investor asing mencatat net sell Rp 10,6 triliun. Namun, jika dilihat sejak awal 2019, secara year to date (ytd) asing mencatat net buy Rp 56,4 triliun. Masuknya dana asing tersebut disebabkan Indonesia masih dipandang menarik dari segi imbal hasil, baik di SBN maupun saham.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, para pembuat kebijakan di berbagai negara kurang mengantisipasi kemungkinan terburuk dari eskalasi perang dagang. Sebab, pada IMF-World Bank Spring Meetings di AS April lalu, para peserta masih melihat adanya kemungkinan negosiasi antara AS dan Tiongkok. ’’Ternyata kemudian AS justru menaikkan tarif untuk barang-barang Tiongkok,’’ ujarnya.

Dari sisi domestik, perempuan yang akrab disapa Ani itu menyayangkan tindakan anarkistis yang terjadi pada 22 Mei lalu. Sebab, sebelumnya, beberapa pimpinan negara dan tokoh dunia telah memberikan ucapan selamat kepada Indonesia karena telah mampu menyelenggarakan pemilu yang tertib dan aman. Kemudian, para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga sengaja menyelenggarakan buka puasa bersama pada 22 Mei.

Menurut Ani, hal-hal tersebut sebenarnya menunjukkan kepercayaan pengusaha, investor, dan negara-negara mitra dagang kepada Indonesia. Ani pun menegaskan bahwa pemerintah dan kepolisian akan semaksimal-maksimalnya menyelesaikan permasalahan yang ada serta berusaha menjaga keamanan. ’’Sikap itu yang mendasari penyelenggaraan negara dan kemudian tecermin dalam indikator ekonomi Indonesia,’’ jelasnya. (ken/rin/c22/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Catat ! Ini Adalah Demo Paling Brutal Setelah Reformasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler