Ketenaran Berpotensi Petaka bagi Bocah-Bocah Moo Pa

Minggu, 15 Juli 2018 – 13:26 WIB
Anggota tim sepak bola junior Moo Pa yang sempat terjebak selama dua pekan di dalam gua menjalani karantina di rumah sakit Chiang Rai, Thailand. Foto: Reuters

jpnn.com, MAE SAI - Misi penyelamatan tim sepak bola Moo Pa dan pelatihnya menjadi sorotan dunia. Kini, setelah nyawa mereka tak lagi terancam, faktor psikologis harus menjadi perhatian. Entah itu trauma karena berhari-hari terpendam 500 meter di bawah permukaan tanah maupun ketenaran yang datang tiba-tiba.

Dua belas remaja lelaki itu terlihat begitu ceria. Mimpi buruk yang baru saja mereka alami lenyap tak berbekas. Pengalaman dramatis yang menempatkan mereka di ambang hidup dan mati tidak berjejak lagi.

BACA JUGA: Terjebak 17 Hari di Gua, Bagaimana Tim Moo Pa Bisa Selamat?

Anak-anak itu adalah anggota tim sepak bola Moo Pa yang terjebak di dalam Thum Luang Nang Non, Chiang Rai, sejak 23 Juni. Kini mereka terlihat segar. Dalam ruang isolasi Chiang Rai Prachanukroh Hospital itu, mereka saling goda dan bercanda. Sang asisten pelatih, Ekaphol Chantawong, yang terperangkap di perut gua bersama mereka pun tampak lega.

"Saya sudah sehat sekarang. Terima kasih telah menyelamatkan kami," ujar Prajak Sutham alias Note di video yang diputar dalam konferensi pers kemarin (14/7). Kondisi bocah 11 tahun itu jauh lebih baik sekarang. Demikian juga teman-temannya dan Ekaphol.

BACA JUGA: Keluar dari Gua, Dapat Status Warga Negara

Dalam jumpa pers, Menteri Kesehatan Thailand Piyasakol Sakolsatayadorn mengatakan, ketika baru keluar dari gua, beberapa korban menunjukkan gejala pneumonia ringan. Tapi, kini kondisi mereka telah membaik. Jika tak ada perubahan rencana, mereka meninggalkan Chiang Rai Prachanukroh Hospital pada Kamis mendatang (19/7).

Dilansir Reuters, bobot para korban turun sekitar 2 kilogram setelah 18 hari terperangkap di perut gua. Beberapa di antara mereka bahkan berkurang hingga 5 kilogram. Tapi, kini berat badan mereka berangsur naik. Selera makannya juga mulai kembali normal.

BACA JUGA: Ditutup dengan Bir Istri Semobil

"Saya ingin makan nasi dengan daging babi krispi dan nasi dengan lauk daging babi bumbu barbecue," kata Phiphat Photi, salah seorang korban. Beberapa lainnya mengatakan ingin makan sushi.

Mereka kini memang mulai boleh mengonsumsi makanan normal. Saat kali pertama tiba di RS, tim dokter membatasi dan mengontrol asupan nutrisi mereka. Mereka juga tidak boleh mengonsumsi makanan yang bertekstur kasar.

Tim dokter khawatir perut mereka kaget. Sebab, selama 18 hari mereka tidak makan.

Kini, setelah kondisi fisik para korban berangsur pulih dan siap meninggalkan RS pekan depan, ada tantangan baru yang menghadang. Bukan pertandingan sepak bola, tentu saja. Melainkan ketenaran.

Belasan bahkan puluhan jurnalis yang ancang-ancang sejak hari evakuasi pertama Minggu (8/7) pasti akan menyerbu mereka. Permintaan wawancara tak akan terhitung banyaknya.

Selain media, Hollywood sudah siap menjemput ketenaran mereka. Sedikitnya dua rumah produksi Amerika Serikat (AS) siap memfilmkan kisah penyelamatan anak-anak tersebut.

Tapi, pemerintah Thailand sejak jauh-jauh hari memperkirakan semua itu. Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-o-cha pun mengimbau media dan publik tidak mengganggu 12 remaja dan seorang pemuda yang sudah sangat rindu keluarga mereka tersebut. Prayuth meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada para korban untuk menikmati hari-hari bersama keluarga.

"Kami harus mempersiapkan para korban dan keluarganya untuk menyikapi perhatian publik yang akan langsung membanjiri mereka saat keluar (RS) nanti," tegas Piyasakol. Dia juga meminta keluarga tim sepak bola itu tidak mudah menerima permintaan wawancara media.

Andrea Danese, dokter di Institute of Psychiatry, Psychology and Neuroscience, mendukung kebijakan Prayuth. Pakar ilmu kejiwaan pada King's College, London, Inggris, itu mengatakan bahwa para korban tidak akan mudah menghalau trauma terjebak di dalam gua. "Anak-anak itu harus dikembalikan ke kehidupan normal," ujar Danese.

Kasus 33 penambang yang terjebak 69 hari di penambangan San Jose, Cile, pada 2010 bisa menjadi contoh. Jorge Galleguillos, salah seorang korban, menyarankan orang tua para bocah Thailand terus mendampingi.

Galleguillos yakin, dalam waktu dekat, banyak pihak yang meminta anak-anak tersebut menandatangani kontrak buku maupun film. "Itu berbahaya."

Itu mungkin merujuk pada pengalaman Galleguillos sendiri. Insiden di Cile tersebut diadaptasi menjadi film berjudul The 33 yang dibintangi Antonio Banderas. Tapi film itu itu berujung gugatan karena pembagian keuntungan yang tidak adil.

Sosok lain yang juga menjadi sorotan adalah Kepala Tim Penyelamatan Narongsak Osatanakorn. Saat bocah-bocah itu hilang, dia masih menjabat gubernur Chiang Rai. Tapi, di tengah misi penyelamatan, surat mutasi tiba. Dia dipindah ke Provinsi Phayao yang jauh lebih kecil.

Narongsak diperbolehkan tetap memimpin misi penyelamatan karena kemampuan dan latar belakang pendidikannya. Pada 1985, dia lulus dari jurusan teknik sipil Kasetsart University. Dia juga mendapat gelar sarjana hukum, sarjana teknologi, serta sarjana administrasi publik dari Universitas Terbuka Sukhothai Thammathirat.

Dia juga mendapat gelar master di bidang teknik survei dan informasi geografis dari Ohio State University (OSU). Pihak OSU bahkan menyatakan luar biasa bangga alumnus mereka memimpin misi penyelamatan di Thailand. (sha/c19/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hollywood Lirik Kisah Penyelamatan Tim Sepak Bola Thailand


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler