Terjebak 17 Hari di Gua, Bagaimana Tim Moo Pa Bisa Selamat?

Minggu, 15 Juli 2018 – 10:04 WIB
Tim penyelamat mencari cara menyelamatkan anak-anak anggota tim sepak bola junior yang terjebak di Gua Tham Luang. Foto: Twitter Thai Army

jpnn.com, MAE SAI - Berpuasa dari subuh hingga magrib bukan hal baru bagi umat muslim di seluruh dunia. Setiap Ramadan, mereka tidak makan dan minum selama 13 jam. Tapi, bagaimana rasanya menahan lapar selama lebih dari dua minggu? Hanya 12 anggota klub sepak bola Moo Pa dan asisten pelatihnya yang tahu.

Meditasi dan bugar. Itulah dua kunci bertahan Ekaphol Chantawong dan 12 anak didiknya saat harus menginap di perut Tham Luang Nang Non selama 18 hari. Karena tenang dan berstamina bagus, para korban mampu bertahan dalam kondisi gelap, sempit, dingin, dan pengap. Juga lapar dan haus.

BACA JUGA: Keluar dari Gua, Dapat Status Warga Negara

’’Sebenarnya mereka membawa bekal makanan. Tapi, tidak banyak,’’ terang BBC mengutip keluarga salah seorang korban.

Pada 23 Juni, mereka sebenarnya hanya ingin merayakan ulang tahun ke-17 Peerapat Sompiangjai alias Night di gua yang memang tidak asing lagi bagi mereka tersebut.

BACA JUGA: Ditutup dengan Bir Istri Semobil

Rencananya, petualangan ke gua yang identik dengan Moo Pa itu berlangsung sejam saja. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Mereka tidak hanya sejam di Tham Luang. Tidak juga satu atau dua hari, tapi 18 hari.

Setelah makanan yang menjadi bekal mereka pada 23 Juni habis, 12 remaja yang berusia 11–17 tahun tersebut mulai dilanda lapar. Tanpa makanan sedikit pun, para korban hanya mengandalkan tetesan air dari stalaktit gua sebagai air minum.

BACA JUGA: Hollywood Lirik Kisah Penyelamatan Tim Sepak Bola Thailand

Puasa tidak makan adalah satu persoalan. Terjebak dalam gua tanpa tahu kapan bisa keluar menjadi persoalan lain. Mental 12 anak itu bisa jatuh dengan sangat mudah. Untung, mereka terjebak bersama Ekaphol. Pemuda 25 tahun tersebut menularkan ilmu meditasinya kepada 12 anak didiknya.

Beradaptasi dengan gua yang pengap, dingin, dan gelap menjadi satu-satunya cara untuk tetap hidup. Berteman dengan kesunyian sambil memelihara harapan membuat nyali anak-anak itu makin kuat.

’’Sungguh hebat, anak-anak tersebut tidak stres. Mereka bisa saling menjaga dan menguatkan saat terjebak dalam gua,’’ ujar Somroeng Sikaew, medical vice director Chiang Rai Prachanukroh Hospital, Rabu (11/7).

Dia menyatakan bahwa terjebak berhari-hari sangat berpotensi memicu stres dan keputusasaan. Kondisi itu bahkan bisa memicu orang untuk bunuh diri.

Banyak orang penasaran seperti apa Tham Luang. Namun, akses menuju ke sana masih ditutup polisi. Berdasar informasi penduduk lokal, ada gua lain yang karakteristiknya mirip Tham Luang. Meskipun, ukurannya lebih kecil.

Saya memberanikan diri mencicipi gua di kompleks Tham Pla tersebut. Lebar mulut gua sekitar 4 meter. Setelah masuk, lebar lorong rata-rata kurang dari 1 meter. Sekitar 20 meter dari mulut gua, kondisi sudah gelap gulita.

Sinar dari lampu senter kecil tak kuasa menembus kegelapan. Saya pun hanya bisa berjalan merayap perlahan-lahan. Lorong gua licin dan berlumpur. Suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar jelas. Beberapa bagian gua yang cekung digenangi air.

Kontur gua kadang menanjak terjal seperti menaiki tangga setinggi 5 meter, lalu agak landai beberapa meter, kemudian turun tajam sekitar 3 meter. Membuat gua seakan-akan tersekat menjadi ruang-ruang terpisah.

Makin masuk ke dalam, udara kian pengap dan dingin. Oksigen yang menipis juga membuat napas semakin berat. Karena itu, setelah masuk sekitar 70 meter, saya berbalik keluar. Total, saya berada dalam gua tersebut sekitar 45 menit. Tapi, rasanya seperti lama sekali karena lelah dan deg-degan.

Karena itulah, saya mengagumi daya tahan 13 korban yang terjebak 18 hari tersebut. Berada di lorong gua yang sempit, gelap, pengap, dingin. Tanpa makanan. Hanya berbekal harapan. Dan mereka bisa selamat. Hebat.

Banyak yang menganalisis, salah satu kunci hebatnya daya survival anak-anak tersebut adalah meditasi. Itu adalah spesialisasi Ekaphol. Patcharadanai Kittisophano, seorang biksu di kuil tempat Ekaphol mengabdi, menjelaskan bahwa semua biksu dilatih bermeditasi berjam-jam setiap hari. ’’Itu yang mereka lakukan sehingga tetap kuat,’’ ujarnya. (*/c22/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengorbanan Warga Desa demi 12 Remaja Dalam Gua


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler