Ketika Rusia - Amerika Jadikan Suriah Ajang Unjuk Kekuatan

Minggu, 04 Oktober 2015 – 15:32 WIB
Rusia melancarkan serangan pertama kali di Kota Homs, Suriah baru-baru ini. Foto: Reuters

jpnn.com - BELAKANGAN, krisis Syria mempertemukan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di palagan yang sama. Sekali lagi, dua negara yang terlibat Perang Dingin itu harus berhadapan meski tidak frontal. Sebelumnya, AS dan Rusia bertarung di Amerika Tengah, Afrika, dan Afghanistan dalam bentuk ideologi.

-----------JAWAPOS, Washington-----------

BACA JUGA: Putra Teknisi Twin Otter Aviastar yang Hilang Kontak: Jumat, Papa Pamit Berangkat Kerja

Kritikan dan tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan para sekutu tidak menyurutkan niat Rusia untuk membantu Presiden Syria Bashar Al Assad. Kemarin (3/10) serangan udara oleh Moskow memasuki hari keempat. Puluhan serangan udara juga telah diluncurkan ke markas-markas Islamic State (IS) atau yang lebih dikenal dengan ISIS.

Kantor berita Tass di Rusia melaporkan, pada Jumat (2/10), ada lebih dari 20 serangan udara yang dilancarkan. Serangan tersebut menyasar 9 lokasi dan fasilitas milik ISIS. Salah satunya adalah pos komando ISIS di dekat Raqqa dan bungker bawah tanah.

BACA JUGA: Duka Menjelang Subuh, Kisah Kematian Aldi yang Misterius

''Selama 24 jam lalu, jet tempur SU-34 dan SU-24M milik Rusia di Syria membuat lebih dari 20 serangan di lebih dari 9 fasilitas serta infrastruktur milik ISIS,'' kata Kementerian Pertahanan Rusia kemarin. Selain di Raqqa, serangan dilakukan di utara Provinsi Aleppo, sekitar Provinsi Idlib, dan Kota Hama.

Pernyataan itu dibenarkan pengamat HAM Syria. Mereka menegaskan bahwa serangan Rusia memang mengenai markas ISIS di sebelah barat Raqqa. Suara ledakan bahkan terdengar sangat keras di Kota Raqqa. Serangan jet tempur Rusia sepanjang minggu ini telah menewaskan setidaknya 12 anggota ISIS. Sejak 2013, Kota Raqqa memang diklaim sebagai ibu kota ISIS di Syria.

BACA JUGA: Kejadian Aneh Sebelum Pesawat Aviastar Take Off

Meski begitu, serangan udara Rusia tersebut juga mengenai markas para pemberontak yang telah dilatih AS. Selain itu, beberapa penduduk sipil tewas. Dalam serangan di rumah sakit Kota Hama, beberapa dokter terluka. Hal itu tentu saja makin menguatkan tudingan Negeri Paman Sam dan sekutunya bahwa serangan Negeri Beruang Merah tersebut sejatinya menarget para pemberontak yang ingin menggulingkan Assad.

''Kami prihatin atas pembangunan pangkalan militer Rusia di Syria serta serangan pasukan angkatan udara mereka di Hama, Homs, dan Idlib yang mengakibatkan korban penduduk sipil dan tidak menyasar ISIS,'' ujar pernyataan bersama yang dikeluarkan AS, Inggris, Turki, Prancis, Jerman, Qatar, dan Arab Saudi.

Di tempat terpisah, Presiden AS Barack Obama mengadakan konferensi pers di Gedung Putih untuk menanggapi serangan Rusia. Dia menyatakan bahwa Rusia tidak bisa membedakan antara pasukan ISIS dan oposisi Sunni yang ingin Assad lengser.

''Dari perspektif mereka (Rusia, Red), semua adalah teroris. Itulah resep untuk sebuah bencana,'' tegas Obama. Serangan Rusia diperkirakan hanya membuat ekstremisme di Syria kian menguat. AS menolak bekerja sama dengan Rusia jika Putin terus mendukung Assad. ''Usaha Rusia dan Iran untuk mendukung Assad dan menenangkan penduduk hanya akan membuat mereka terjebak di kubangan dan itu tidak akan bekerja,'' tambah Obama.

Saat ini, di dalam negeri, Obama juga mendapat kritikan tajam dan sorotan lantaran serangan Rusia tersebut. Sebab, Rusia dinilai bisa unjuk kekuatan di Syria akibat Obama ogah-ogahan mengerahkan segenap kekuatan di Damaskus.

Program pelatihan yang gagal juga menjadi kritik tersendiri. Bukannya berhasil menumpas ISIS, pasukan pemberontak yang mereka latih justru memberikan senjata bantuan dari AS ke Front Al Nusra, organisasi di bawah Al Qaeda. Artinya, AS malah mempersenjatai militan lain dan tambah memperkeruh suasana. Padahal, selama ini pasukan AS turut memerangi Al Qaeda dan organisasi-organisasi di bawahnya.

Serangan Rusia yang banyak mbleset itu juga dikemukakan Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon. Dia menyebutkan bahwa hanya satu di antara 20 serangan udara Rusia yang mengenai markas ISIS. Selebihnya adalah serangan terhadap markas pasukan oposisi yang memberontak ke Assad. Selama empat hari ini, serangan Rusia dilakukan setiap pagi hari.

''Rusia hanya berusaha memperkuat Assad dan mengabadikan penderitaan (penduduk Syria, Red),'' tutur Fallon kepada The Sun. Menurut Fallon, banyak serangan yang menyasar penduduk sipil karena tidak adanya panduan bagi pilot-pilot jet tempur Rusia.

Kritikan senada diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin mempertimbangkan kembali strategi serangan di Syria. Dia memperoleh informasi bahwa Rusia telah menewaskan 65 orang di Syria. Tidak diketahui apakah jumlah tersebut penduduk sipil saja ataukah termasuk militan ISIS dan para pemberontak. Erdogan bahkan berencana berbicara langsung dengan Putin terkait dengan hal itu.

Gencar dikecam, pemerintah Rusia membela diri. ''Saya ingin menegaskan bahwa tidak ada serangan ke infrastruktur milik penduduk, terutama bangunan yang dihuni,'' jelas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.

Namun, aktivis di Homs Khdaier Khushfa membantahnya. Menurut dia, serangan udara Rusia sudah menewaskan 17 penduduk sipil di Talbiseh dan 11 warga lain di Zafaraniya. Selain itu, 46 orang lain menderita luka parah. ''Kami sangat khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya. Para penduduk sipil yang saya ajak bicara sangat ketakutan. Rasanya seperti kami kembali ke titik nol setelah lima tahun revolusi Syria dimulai,'' ungkapnya. (AFP/Reuters/BBC/CNN/sha/c14/ami)

BACA ARTIKEL LAINNYA... MENGHARUKAN, Penumpang Aviastar Itu sempat Telepon Ayahnya, Pesan Begini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler