Ketua DPR Puan Dengar Keluh Kesah Petani di Nganjuk, Curhatnya Begini

Selasa, 21 Desember 2021 – 22:27 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani mendapat keluhan dari para petani di Nganjuk. Foto: Humas DPR RI

jpnn.com, NGANJUK - Ketua DPR RI Puan Maharani mendapat banyak keluhan dari petani Nganjuk, Jawa Timur.

Mulai harga pupuk mahal hingga hasil panen yang jatuh.

BACA JUGA: DPR Tinjau Pengungsi Erupsi Semeru, Puan Dorong Perbaikan Infrastruktur

Puan ikut menanam bawang merah bersama petani di Kecamatan Mojorembug, Nganjuk, Selasa (21/12).

Harga bawang merah bibit jauh lebih murah daripada bawang merah sayur.

BACA JUGA: Komisi IX DPR Respons Positif Seruan Kiai Said Soal Penggunaan Vaksin Halal

Lahan pertanian di lokasi ini sendiri ditanami empat tanaman secara bergantian sepanjang tahun.

Petani bergantian menanam padi, kedelai lokal, dan dua kali bawang merah (diversikasi tanam).

BACA JUGA: Varian Omicron Terdeteksi di Indonesia, DPR Minta Masyarakat Tidak Panik

Setelah menanam bawang merah, Puan berdialog dengan petani.

Rata-rata petani mengeluhkan kurangnya stok pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi.

“Masalah pupuk, pada waktu tanam langka. Pengalokasian kurang, tidak mencukupi kebutuhan petani. Pengurangan pupuk subsidi membut harga pupuk nonsubsidi naik tinggi. Harganya mahal sekali, Bu,” kata seorang petani bernama Wakidi.

Kemudian, harga hasil panen bawang merah yang rendah disebut membuat petani kewalahan.

Bahkan, harganya bisa anjlok sampai Rp 7 ribu per kilogram.

Wakidi berharap pemerintah memberikan solusi.

“Pemerintah diam saja, tidak memberikan solusi yang baik. Petani tidak ada hasil apa pun, malah rugi. Mohon untuk pemerintah, dibantu DPR, masalah harga dan pupuk untuk segera diselesaikan,” ujarnya.

Petani lain bernama Wiji menceritakan, banyak petani yang menggadaikan sertifikat tanahnya untuk modal saat musim tanam.

Belum lagi nasib petani sewa yang kesulitan karena harga panen rendah.

“Keadaan petani sangat memprihatinkan. Sertifikat (tanah) digadai semua sama petani di BRI. Petani tidak dikasih bantuan tidak apa-apa. Yang penting harganya bisa stabil. Pemerintah harusnya ikut mengawasi,” ucap Wiji.

Regulasi impor baru yang mengakibatkan tingginya suplai bawang merah dari luar disebut makin merusak harga bawang lokal.

Petani di Nganjuk juga berharap ada investor yang membangun pabrik pengolahan bawang merah agar akses lebih dekat.

Jadi, harganya bisa lebih stabil.

Puan siap membawa persoalan tersebut untuk dicarikan solusi bersama pemerintah.

“Soal pupuk subsidi, saya akan koordinasi dengan pemerintah pusat bagaimana caranya supaya alokasinya di Nganjuk bisa ditambah,” sebut Puan.

Puan mengatakan, persoalan harga hasil panen yang jatuh membutuhkan solusi yang terintegrasi. Mulai menanam bibit, panen, penyimpanan, distribusi, dan penjualan.

“DPR RI akan berbicara dengan pemerintah agar ada solusi yang tepat dan cepat untuk persoalan harga bawang merah untuk menjaga stabilitas harga bawang merah,” sambung mantan Menko PMK ini.

Puan menilai, perlu kerja sama antardaerah untuk menjaga stabilitas harga.

Misalnya, kerja sama dalam menjaga inflasi.

“Bulog juga perlu berperan aktif dalam menjaga ketersediaan stok,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Puan memberikan bantuan kepada kelompok petani di Mojorembug.

Bantuan yang diberikan berupa 30 pompa air, 20 unit handsprayer, 10 Ha benih bawang merah, 1 ton pupuk NPK, 20 traktor roda dua, dan 10 cultivator. (mrk/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler