Ketua Komisi X Minta Menteri Wishnutama Segera Siapkan Destinasi Desa Wisata

Kamis, 19 November 2020 – 08:48 WIB
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. Foto: M. Kusdharmadi/JPNN.com.

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda meminta semua pihak terkait mengantisipasi klaster baru penularan Covid-19 dari momen libur dan cuti bersama Natal 2020 dan Tahun Baru 2021.

Huda mengatakan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama seharusnya sudah mempersiapkan destinasi wisata dengan baik pada momen libur dan cuti bersama akhir tahun yang direncanakan mulai 21 Desember 2020 sampai 3 Januari 2021 itu.

BACA JUGA: Pariwisata Bangkit dengan Cepat di Daerah yang Disiplin Menerapkan Protokol Kesehatan

Selain penerapan protokol kesehatan Covid-19, Kemenparekraf perlu menyiapkan destinasi desa wisata, agar wisatawan tidak hanya berkunjung ke lokasi pariwisata-pariwisata besar yang dapat menyebabkan kerumunan dan risiko terjadinya penularan corona.

"Saya sudah berpesan ke (Menparekraf) Mas Tama supaya semua destinasi wisata menyiapkan diri dengan baik. Destinasi desa wisata terdekat menjadi alternatif supaya tidak ada klaster baru penularan Covid-19," kata Huda kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/11).

BACA JUGA: Program Dana Hibah Percepat Pemulihan Pariwisata di Kala Pandemi

Huda memprediksi bahwa hampir pasti pada liburan dan cuti bersama nanti akan terjadi mobilisasi wisatawan domestik ke lokasi-lokasi pariwisata.

Terlebih lagi, kata dia, tingkat kejenuhan masyarakat, terutama anak-anak yang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19, cukup tinggi.

BACA JUGA: Ratusan Komunitas Pajero Touring dan Mempromosikan Pariwisata Bali

Huda menegaskan bahwa memang dalam kenyataannya di beberapa daerah luar Pulau Jawa, ada berbagai kejadian yang menimpa anak-anak terkait PJJ itu.

"Bahkan kami banyak mendapatkan isu terjadinya siswa yang depresi," ungkap politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Karena itu, kata Huda, dengan berbagai kondisi kejenuhan dan persoalan itu hampir pasti menyebabkan terjadi mobilisasi orang-orang berkunjung ke tempat wisata pada libur panjang akhir tahun.

Huda menegaskan, Kemenparekraf harus memastikan penerapan protokol kesehatan Covid-19 secara baik di destinasi-destinasi wisata. 

"Itu yang paling mungkin. Mau tidak mau Kemenparekraf harus menyiapkan destinasi wisata dan protokolnya yang sesuai dengan standar protokol kesehatan Covid-19," papar Huda.

Huda menjelaskan, untuk menghindari kerumunan di lokasi pariwisata dan berisiko terjadinya penularan Covid-19, masyarakat bisa memilih alternatif destinasi desa wisata terdekat. 

"Saya mengajurkan tidak usah ke destinasi wisata besar. Saya mendorong cukup selfie di spot-spot destinasi desa wisata saja," kata Huda.

Dia mengatakan Komisi X DPR bersama Menparekraf Wishnutama berkomitmen destinasi desa wisata menjadi penyangga destinasi-destinasi pariwisata yang prioritas dan superprioritas 2021.

"Ini bisa menjadi alternatif sekaligus bisa menghindari crowded, atau kerumunan besar di destinasi wisata yang besar-besar itu," paparnya.

Menurut Huda, destinasi desa wisata terdekat tidak memerlukan biaya besar. Tidak perlu hotel untuk menginap, karena bisa pulang pergi.

"Jadi cukup ke destinasi desa wisata sehari penuh kemudian pulang. Karena yang dituju destinasi desa wisata terdekat," ungkapnya.

Menurutnya pula, dalam kenyataannya destinasi desa wisata dapat melibatkan langsung pemberdayaan masyarakat, dan mengatasi pengangguran terutama anak-anak muda. "Yang direct income juga ya destinasi desa wisata. Jadi, paling konkret ya desa wisata," kata dia.

Karena itu, Huda sekali lagi mengimbau dan mengajak calon wisatawan termasuk dari  keluarga pra sejahtera dalam menghadapi libur panjang nanti bisa memilih mendatangi destinasi desa wisata.

Menurut dia, pertumbuhan destinasi desa wisata sangat tinggi sekali. Dia menjelaskan satu kabupaten bisa terdapat tujuh hingga delapan destinasi desa wisata. "Artinya sudah bisa berwisata di kabupaten kotanya masing-masing," katanya.

Huda juga mengingatkan pemerintah perlu bersiap dari sekarang menjelang libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, termasuk mempersiapkan destinasi wisata sebagus mungkin. "Protokol kesehatan sesuai standar harus betul-betul diterapkan di semua destinasi wisata," jelasnya.

Menurut Huda, tidak dapat dipungkiri adanya liburan panjang seperti yang terakhir pada Oktober 2020 lalu menyebabkan penambahan suspect Covid-19.

Sebab, pada liburan kemarin mobilisasi manusia sangat tinggi. Selain ke tempat wisata, ada pula yang pulang kampung.

"Artinya, bisa disimpulkan bahwa setiap ada libur, tingkat mobilitas masyarakat tinggi dan risiko penularan suspect baru Covid-19 meningkat," katanya.

Karena itu, Huda meminta persoalan seperti ini harus diantisipasi dalam rangka menyambut libur dan cuti bersama akhir tahun yang mencapai 13 hari. (boy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler