Ketua Satgas Covid-19 Dapat Arahan Penting dari Pak Luhut

Jumat, 30 Oktober 2020 – 19:49 WIB
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mendapat arahan dari Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan.

Doni menemui Luhut untuk memberikan perkembangan terkait pemeriksaan spesimen Covid-19, Jumat (30/10) pagi tadi.

BACA JUGA: Pak Doni Anggap 23 Presenter TV Membela Negara karena Terbitkan Mars Ini

Menurut Doni, Menko Luhut juga memberikan arahan penting kepadanya untuk tidak hanya memerhatikan soal jumlah pemeriksaan spesimen, melainkan juga harus tepat sasaran.

"Bapak Menko mengingatkan supaya bukan hanya jumlah saja yang banyak, tetapi tepat sasaran," Doni menyampaikan hal itu dalam Seminar Nasional XVII Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Seminar Tahunan XIV Patient Safety secara virtual, Jumat (30/10).

BACA JUGA: Bicara di Seminar PERSI, Pak Doni Monardo Semangati Dokter & Nakes Pejuang Covid-19

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu menambahkan, dia juga melaporkan agar pemerintah bisa meningkatkan kemampuan tes, tracing, maupun kesejahteraan petugas laboratorium.

"Ke depan perlu dipikirkan dan pertimbangkan untuk memberikan insentif pada petugas laboratorium," jelas Doni.

BACA JUGA: Pak Doni Ingatkan Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Selama Libur Panjang

Dia menambahkan rekor tertinggi terjadi pada pekan kedua dan ketiga Oktober 2020 yang rata-rata bisa memeriksa spesimen di atas 45 per hari.

Posisi tingkat pemeriksaan spesimen pun cukup bagus yakni di angka 82,51 persen dari standar World Health Organization (WHO) yang harus memeriksa 270 ribu per minggu.

"Namun, tidak boleh puas. Mudah-mudahan ke depan bisa dipenuhi," kata Doni.

Dia mengaku agak khawatir karena terbatasnya jumlah petugas laboratorium sehingga dapat menyebabkan pemeriksaan mengalami penurunan. 

Doni berharap semoga ada strategi dari berbagai pihak untuk dapat meningkatkan jumlah tes, atau setidak-tidaknya bisa sama dan merata.

Dia menjelaskan bahwa awal Covid-19 masuk Indonesia pada Maret 2020 lalu, hanya ada satu laboratorium untuk memeriksa spesimen yakni di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbang Kemenkes).

Seiring perjalanan waktu, Doni bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto melapor kepada Presiden Jokowi terkait kondisi itu.

Presiden memberikan arahan sehingga bisa bertambah tiga laboratorium yakni di Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, dan lembaga Eijkman.

Namun, kata Doni, ternyata hal tersebut tidak cukup. Akhirnya diberikan keleluasaan kepada seluruh pihak untuk melakukan pemeriksaan, sehingga ada laboratorium milik Kemendikbud di rumah sakit perguruan tinggi, di bawah Kementerian Pertanian, Kementerian Agama, TNI Polri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), daerah maupun swasta. (boy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler