Kisah 2 PNS Jadi Detektif untuk Ungkap Praktik Dokter Gadungan

Selasa, 08 November 2016 – 19:22 WIB
Ilustrasi. Foto: AFP

jpnn.com - PONTIANAK – Kisah penangkapan dokter gadungan bernama Junaidi oleh Kodam XII Tanjung Pura di Desa Sungai Rengas, Kubu Raya sangat menarik.

Kodam tak sendirian menangkap pria 41 tahun tersebut.

BACA JUGA: Ribuan Wisatawan Malaysia Padati Festival Border Aruk-Kalbar

Sebab, ada campur tangan dari dua pegawai Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Keduanya ialah Rudi Effendi dan Ade M. Yusuf yang pertama menjadi pengungkap kisah awal praktik Junaidi. Bagaimana ceritanya?

BACA JUGA: Ya Ampun, Belasan Pelajar dan Mahasiswa Ketahuan Begituan

“Sudah tahunan, Junaidi menjadi dokter gadungan. Saya sendiri saja sudah menjadi korban sejak tahun 2013,” kata Ade seperti dilansir Rakyat Kalbar, Selasa (7/11).

Ade datang tak sendirian menceritakan kisahnya.

BACA JUGA: Meski Kontroversi, Wacana Perda Poligami tak akan Terhenti

Masih Kasubag TU UP3 LB Entikong Badan Perbatasan Kalbar Rudi Effendi yang juga menjadi korban.

Kisahnya keduanya dimulai dari Rudi. Beberapa waktu lalu, Menteri Dalam Negeri Tjhahjo Kumolo akan bertandang ke Perbatasan Entikong, Sanggau.

Kala itu, Rudi merasakan sakit yang teramat di sekujur tubuhnya. “Saya izin ke Pak Ade, akan berobat dulu dan izin tidak masuk,” kata Rudi.

Merasa sudah diizinkan, Rudi mencari dokter. Tetangga sebelah rumahnya di kawasan Kota Baru, Pontianak merekomendasikan berobat ke dokter Junaidi. 

Kebetulan, dokter yang tinggal di Jalan Raya Sungai Berembang, Desa Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya  bersedia datang dipanggil dengan kendaraan roda empatnya.

 Karena tidak ingin repot, akhirnya Rudi mengiyakan dan dokter tersebut datang.

Selama berobat, Rudi tak mencurigai keanehan pada Junaidi.

Sebab, Junaidi mengaku memiliki banyak gelar dokter spesialis dan sengaja dikirimkan dari Mabes TNI di Jakarta ke Kalbar.

Namun, ketika akan membayar, Rudi merasakan kejanggalan. Sebab, tarifnya di luar kewajaran.

“Saya harus bayar Rp1,6 juta, hanya untuk obat dua macam. Itu pun seperti obat herbal saja yang banyak dijual di pasar. Saya juga berobat hanya ditepuk-tepuk dan perlakuannya hampir sama diterima semua pasien,” tuturnya.

Ternyata, pembayaran sebesar Rp 1 juta ke atas untuk sekali berobat juga dirasakan pasien lainnya.

Waktu berobat, setidaknya ada enam pasien serupa di dekatnya. Mereka juga dikenakan tarif rata-rata di atas Rp 1 juta.

“Bahkan ada yang bayar Rp 1,8 juta. Rata-rata para pasien harus bayar di atas Rp 1 juta. Mau saja mengeluarkan duit besar, seperti disirep (hipnotis) kami. Curiga kami, Junaidi punya ilmu hipnotis,” tuturnya.  

Dalam keadaan curiga tersebut, Rudi akhirnya berinisiatif menelepon Ade. Koleganya tersebut masih berada di kantor Perbatasan Entikong, Sanggau.

Tanpa dikomando, Ade langsung bertanya apakah dokternya bernama Junaidi tinggal di Sungai Rengas, Kubu Raya.

Sebab, Ade juga menjadi korban dari praktik Junaidi bahkan sakitnya makin bertambah parah.

“Saya mengiyakan saja. Pak Ade langsung menyuruh saya jangan berobat lagi. Junaidi itu dokter gadungan. Pendidikannya tidak ada ke dokter. Kalau tak salah hanya tamat SMP. Bahkan Junaidi pernah bekerja sebagai penjaga sekolah,” ceritanya.

Geram mendengar kisah tersebut, akhirnya Rudi dan Ade bersepakat mengusut. Keduanya bertemu di Pontianak.

Keduanya juga yang pertama bertindak sebagai detektif swasta mengintai rumah Junaidi yang terletak di pinggir Jalan Berembang, Desa Sungai Rengas, Kubu Raya.

Dari sana, Rudi dan Ade melakukan wawancara ke tetangga, kepala dusun termasuk kepala desa.

Untuk mengecek lebih lanjut, mereka memeriksa arsip warga Sungai Rengas ini  di kantor desa.

Junaidi ternyata tak lulus SMP. Dia juga tak berstatus PNS.

“Nah di situ saya langsung shocok. Sudah makan obatnya, uang juga melayang banyak,” tuturnya.

Tak ingin yang lain jadi korban, Rudi mengontak salah satu kawannya dari bagian Intel yang bertugas di Singkawang.

Informasi berlanjut hingga sampai ke Kodam XII Tangjungpura.

 Lalu disepakati melakukan penjebakan ke Junaidi di Puskesmas Sungai Rengas. Kebetulan kepala puskesmas di sana juga cukup geram dengan ulahnya.

Rupanya, di sana sudah ada satuan anggota TNI, kades, kadus, termasuk dirinya dan Ade sebagai korban. Mereka bersepakat menyanjung Junaidi untuk berbicara lantang.

”Junaidi dipuji-puji dan disanjung. Rupanya masuk omongannya, yakni mengaku dokter dari Mabes TNI. Akhirnya petugas TNI langsung memborgol dan membawanya ke markas. Sebab sebelumnya sudah diperiksa ke IDI, dinas kesehatan hingga lembaga lain. Tak ada Dokter Junaidi,” tuturnya. (rk/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Golkar Tunjuk Ade Barkah Gantikan Yance di DPRD Jabar


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler