Kisah Manis Petani Transmigran, Sekali Panen Rp 100 Juta

Selasa, 22 November 2016 – 00:07 WIB
Supriyitno (celana pendek) petani cabe bimbingan BI Malut yang sukses di Halmahera Utara. Foto: Samsir Hamajen/Malut Post/JPNN.com

jpnn.com - SUPRAYITNO warga asli Jawa Timur, merantau ke Maluku Utara. Kini dia bertani di daerah transmigran, Desa Sukamaju, Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Malut.

Pendapatan yang hanya Rp 10 juta sekali panen, naik pesat 10 kali lipat berkat dorongan dan bimbingan dari Bank BI Cabang Perwakilan Maluku Utara.

BACA JUGA: Peserta Nikah Massal dapat Bonus Bulan Madu di Hotel Berbintang

Samsir Hamajen - Tobelo

Dari namanya, Desa Sukamaju sudah pasti bisa ditebak. Penduduknya adalah mayoritas dari Jawa.

BACA JUGA: Air Mata Menetes Melihat Ibu-Ibu Berhijab Mengepel Lantai Altar Gereja

Desa Sukamaju yang merupakan bagian dari Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera Utara, berpenduduk kurang lebih 100 kepala keluarga.  

Di desa ini, warga hidup dari lahan pertanian. Salah satunya, Suprayitno (44).

BACA JUGA: Hana, Hobinya Bantu Memberi Mahar Pasangan Pengantin

Pria kelahiran 4 Juni 1972,  Munjar, Banyuwangi, Jawa Timur ini hidup bersama istrinya Yati dan tiga anak mereka; Nuryanda Pacarsari, Ilham Leo Wisantoso dan Iman Asrawi.

Migrasi dari Jawa sejak 2012 lalu, Suprayitno menekuni pekerjaan sebagai petani dengan bercocok tanam dengan lahan pinjaman warga di Desa Sukamaju.

Mulai menanam cabe, tomat, bawang, ketimun. Hasil panen itu kemudian dijual di pasar Tobelo.

”Sekali panen kami bisa dapat Rp 10 juta. Ini sudah dipotong biaya transportasi yang agak mahal karena jalan  rusak,” katanya.

Karena hasil panen tidak maksimal, mereka kemudian membentuk kelompok tani.

Namanya kelompok tani Mega Makmur, Desa Sukamaju. Dia menjadi Sekertaris Kelompok. Gayung pun bersambut.

Awal tahun 2015,  tepatnya sekitar bulan Mei, Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara datang ke lokasi pertanian mereka.

Kelompok mereka langsung mendapat bimbingan dari BI. Selain bimbingan mereka juga mendapatkan peralatan bantuan untuk meningkatkan hasil pertanian serta bantuan mobil operasional dari Bank BI untuk tujuannya menjual hasil panen mereka.

Berkat bantuan itu, mereka berhasil memangkas ongkos transportasi.

Hasilnya, sejak saat itu, hasil panen cabe mereka meningkat hingga 10 kali lipat.

Sekali panen bisa menghasilkan pendapatan Rp 100 juta. Hasil panen tak hanya dijual di Tobole.

Tapi juga sampai di Ternate dengan bantuan mobil Bank Indonesia.

“Biaya sewa mobil membawa hasil panen cabe tidak lagi dikeluarkan. Dengan mobil operasional dari BI, biaya yang dikeluarkan hanya Rp 100 ribu untuk membeli bahan bakar minyak. Pendapatan langsung meningkat dari Rp 10 juta menjadi Rp 100 juta sekali panen,” ujarnya.

”Terima kasih Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara. Atas bimbingan dan bantuan peralatan serta mobil operasional, kami bangkit dan hasil jualan pertanian sekali panen mencapai Rp 100 juta,” tutup Suprayitno diamini rekan anggota kelompok lainya. (sam/pn/kox/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Saya Bangga jadi Polisi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler