Kisah Manusia Rakit, Tetap Bertahan Meski Bahaya Selalu Mengancam

Senin, 26 September 2016 – 00:09 WIB
Rumah rakit di Sungai Musi, Palembang, Sumsel. FOTO: BUDIMAN/SUMATERA EKSPRES

jpnn.com - PALEMBANG sempat dijuluki Venesia dari Timur lantaran geliat perekonomian rakyatnya yang semarak di tepi Sungai Musi. 

Zaman dahulu, memang masyarakat Palembang lebih memilih tinggal di tepi Sungai Musi dan menghuni rumah-rumah rakit.

BACA JUGA: Mata Langsung Terasa Segar Begitu Menatapnya, Wouw Banget!

Namun kini, kondisinya berbeda. sebagian besar penghuni rakit bergeser dan memilih menetap di daratan dengan ragam alasan hingga mengakibatkan rumah rakit kini terancam punah.

KMS ACHMAD  RIVAI - Palembang

BACA JUGA: Mbak Eni asal Kediri Pidato di PBB, Tepuk Tangan Bergema

DI era tahun 1990-an saat menyusuri aliran Sungai Musi pastinya bagi kita yang lahir dan dibesarkan di Kota Empek-empek ini tidak akan pernah melupakan betapa gegap gempitanya kehidupan masyarakat di sepanjang tepian Musi.

Ya, di tahun tersebut masyarakat Palembang masih begitu mengandalkan Sungai Musi baik sebagai jalur perdagangan, sehingga perputaran roda perekonomian dari Sungai Musi begitu terasa. 

BACA JUGA: Oh...Ibu Guru Sukini, Hatimu Mulia Sekali

Mulai dari penjual sayur-mayur, lauk-pauk hingga ragam kebutuhan masyarakat selain di pasar tradisional, juga kita dapatkan dari para penjual keliling yang hilir mudik di Sungai Musi, yang dengan menggunakan perahu sampan tanpa mesin menawarkan barang dagangannya.

Tapi kini, seiring dengan perkembangan Kota Palembang yang kian pesat, perlahan tapi pasti denyut nadi perekonomian warga di tepian Sungai Musi pun kian tergerus.

“Kami tinggal di rakit ini baru sekitar tiga tahun yang lalu, sebelumnya tinggal di Bangka nambang (menambang,red) timah. Tapi setelah suami saya meninggal saya sekitar empat tahun lalu dan ketiga anak saya tinggal di rumah rakit ini,” jelas Sulistiyati, salah seorang warga Palembang yang memilih bertahan tinggal di rumah rakit miliknya di Jl H Faqih Usman Lrg H Ujang Kecamatan Seberang Ulu (SU) I saat dibincangi Sumatera Ekspress (Jawa Pos Group) kemarin (25/9).

Bagi Sulis- sapaan karib Sulistiyati -memilih bertahan hidup di rumah rakit berukuran sekitar 4 x 10 meter persegi bersama ketiga anaknya awalnya memang diakui terasa berat. 

Karena sebelumnya tak terbiasa tinggal di rumah rakit yang bagi sebagian orang yang tak terbiasa, akan terasa menakutkan lantaran ancaman bahaya yang senantiasa mengintai.

“Begitu pindah dari Bangka saya membeli rumah rakit dari salah seorang kerabat dengan harga Rp12 juta tapi dengan kondisi seadanya dan perlu perbaikan di sana-sini. Uang itu merupakan sisa dari hasil tambang TI di Bangka peninggalan almarhum suami saya, sisanya saya buat untuk dagang warung kelontongan juga di sini,” ungkap Sulis memulai ceritanya.

Wanita berusia 42 tahun asal Kecamatan Rantau Alai Kabupaten Ogan Ilir (OI) ini cerita suka duka yang harus dirasakan selama kurun waktu tiga tahun tinggal di rumah rakit.

Kalau sukanya, selain mudah untuk bisa mendapatkan pasokan air karena untuk kebutuhan mandi, mencuci dan keperluan lain tinggal mengambil langsung dari Sungai Musi. 

Sementara, untuk kebutuhan air minum biasanya Suli membeli air minum isi ulang seharga Rp 4 ribu per galon yang diantarkan langsung oleh penjualnya.

“Dukanya terkadang waktu air laut pasang rakit ini tenggelam sehingga saya dan anak-anak terpaksa harus memindahkan barang-barang kami dan barang dagangan ke daratan. Belum lagi kalau dihantam hempasan ombak yang terkadang keras, ikatan bambu yang membuat rakit terapung kerap kali terlepas,” keluhnya.

Selain itu, untuk urusan perbaikan rakit sendiri diakuinya juga kerap menimbulkan persoalan karena hampir pasti setiap satu tahun sekali dia harus menyewa tukang khusus untuk memperbaiki rakitnya.

“Kalau diperbaiki atau ganti bambu yang ada di bawah rakit hampir setahun sekali, belinya di bawah Jembatan Kertapati tapi sekarang ini nyari bambunya agak susah,” ungkap Apriyadi, putra sulung Suli yang ikut menimpali.

Rumah rakit ini sendiri aku Suli juga menumpang di atas tanah warga yang disewanya sebesar Rp400 ribu per tahun yang terkadang dia bayar secara mencicil selama dua kali.

Ditanya soal keberadaan WC apung yang hingga kini tetap dia pergunakannya bersama seluruh anggota keluarganya, Suli mengaku lantaran dia tak punya pilihan lain untuk membangun WC permanen di daratan.

“Kalau ada bantuan untuk WC yang layak kami mau juga. Karena memang dari segi kesehatan WC terapung ini tidak sehat juga, kami akui itu. Tapi mau gimana lagi hanya ini yang kami mampu buat. Kalaupun ada bantuan pemerintah untuk membuat WC yang lebih layak kami mau,” pungkasnya.

Saat ini, keberadaan rumah sakit tidaklah sebanyak sebelumnya. Hal ini  lantaran banyak diantara pemilik rumah rakit yang memilih untuk tinggal di daratan.

Terbanyak terdapat di wilayah Seberang Ulu mulai dari 1 Ulu hingga 7 Ulu. Sementara, di Seberang Ilir keberadaan rumah rakit saat ini tinggal hitungan jari. (*/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Batu Akik Memang Redup tapi Masih Laku Ratusan Juta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler