KLHK Menggugah Kepedulian Generasi Muda untuk Melestarikan Satwa Langka

Selasa, 31 Mei 2022 – 18:57 WIB
Sosialisasi pendidikan konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda yang dilaksanakan KLHK, BBTNGGP bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia PT Smelting, dan Filantra di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi, Jumat (27/5). Foto: Dokumentasi KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus melakukan sosialisasi pendidikan konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Eksploitasia tersebut diharapkan menjadi sarana pendidikan sekaligus pemahaman untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian semua pihak terhadap pentingnya melestarikan satwa langka tersebut agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang secara berkelanjutan.

BACA JUGA: Ada Sosok Luar Biasa di Balik Konservasi Penyu Lekang di Pantai Marekisi, Siapa Dia?

Kegiatan tersebut seperti dilaksanakan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi, Jumat (27/5).

Sosialisasi pendidikan konservasi elang jawa dan habitatnya itu dilaksanakan bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI), PT Smelting, dan Filantra.

Elang jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan satu dari empat jenis elang yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

BACA JUGA: Begini Cara KLHK Kampanyekan Pelestarian Lingkungan, Keren

Jenis elang lain, yaitu elang brontok (Nisaetus cirrhatus), elang ular bido (Spilornis cheela), dan elang hitam (Ictinaetus malayensis) dengan keberadaan di alam masih relatif terjaga.

Indra menyampaikan kondisi alam TNGGP secara umum cukup mendukung kehidupan elang pada habitat aslinya dengan bentang alam yang sesuai, seperti lembah tempat berburu, bukit, pohon yang tinggi tempat mengincar mangsa, kelimpahan pakan, serta aktivitas manusia yang masih tergolong tidak terlalu tinggi.

BACA JUGA: Menteri Siti Ingatkan 3 Hal Penting Kepada Jajaran KLHK

Terlebih dengan terus dilakukan upaya restorasi pada kawasan yang terdegradasi atau eks hutan produksi yang beralih fungsi menjadi kawasan konservasi.

"Kondisi ekosistem di TNGGP diharapkan dapat kian mendukung kehidupan berbagai satwa," kata Indra.

Keberadaan Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad dibangun pada 2020 melalui sumber dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, karena sejarah lantaran terdapat beberapa peninggalan keluarga Bartels sebagai penemu elang jawa, berupa makam dan tapak rumah tinggal yang saat ini difungsikan menjadi museum.

Kemuadian juga karena telah banyak upaya-upaya pelestarian elang jawa sebagai penguatan fungsi pengelolaan taman nasional, khususnya tentang konservasi elang jawa, yang terintegrasi dengan pelayanan kepada pengunjung terutama wisatawan minat khusus, sehingga memberikan kesan tersendiri ketika berwisata ke Cimungkad.

Namun, yang juga menjadi alasan dibangun di Cimungkad adalah bertujuan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat tentang keberadaan, proses penyelamatan serta rehabilitasi satwa elang jawa, yang diupayakan terus terintegrasi dengan beberapa pihak pengelola.

Ada Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) TNGHS di Loji, Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) BBKSDA Jawa Barat, Taman Safari Indonesia (TSI).

Hal ini penting agar tumbuh kepedulian di masyarakat sekitar terkait keberadaan elang jawa di sekitar tempat tinggal mereka.

Sejak 2018, TSI yang merupakan lembaga konservasi bekerja sama dengan PT Smelting serta dukungan dari KLHK untuk melaksanakan program pengembangbiakan elang jawa secara ex-situ.

Saat ini TSI memiliki elang jawa sebanyak 14 individu yang berasal dari 3 pasang indukan dan berhasil mengembangbiakan anakan sebanyak 8 individu.

Dari anakan hasil breeding ini sebagian sudah dipersiapkan sebagai kandidat program pelepasliaran sebagai upaya mendukung pelestarian berkelanjutan spesies tersebut.

Turut hadir dalam sosialisasi ini, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Kepala BBTNGGP, Perwakilan TSI, PT. Smelting, Filantara, serta komunitas pecinta alam, masyarakat dan murid SD di sekitar lokasi. (mrk/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler