Komentar Sosiolog UI Soal Wacana Larangan Cadar dan Celana Cingkrang

Minggu, 10 November 2019 – 21:37 WIB
Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola. Foto: Fathan Sinaga/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola mengatakan, pemerintah terkesan terlalu khawatir dengan isu radikalisme sampai mencoba mengatur cara berpakaian umat di tempat tertentu.

Thamrin mencontohkan kebijakan melarang penggunaan dan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah, sangat tidak bermanfaat bahkan disebut kebijakan yang konyol.

BACA JUGA: Soal Wacana Larangan Bercadar untuk ASN, Syamsi Sarman Beri Reaksi Begini

"Tidak boleh bercelana cingkrang, ngapain itu. Menurut saya itu kebijakan konyol," ujar Thamrin pada acara 'Kupas Tuntas Gerakan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme di Jakarta, Minggu (10/11).

Menurut Thamrin, seharusnya langkah paling mendasar yang dilakukan pemerintah, merancang kebijakan agar kelompok tertentu tidak terus menyebarkan paham khilafah, terutama di kalangan generasi penerus.

BACA JUGA: Menko PMK Dukung Menag Soal Larangan Bercadar untuk ASN

"Jadi, bagaimana caranya agar kelompok-kelompok tertentu tidak menyebarkan paham khilafah lewat paud (pendidikan anak usia dini) lewat SD, SMP, itu yang lebih substansif," ujar Thamrin pada seminar yang digelar Haidar Alwi Institut tersebut.

Sementara itu, pendiri Haidar Alwi Institut, Haidar Alwi mengingatkan, bahaya radikalisme ada di depan mata. Bentuknya bahkan sangat nyata, tidak lagi samar-samar.

BACA JUGA: Reaksi Tegas Wagub Kalteng Soal Larangan Cadar dan Celana Cingkrang

"Demi Tuhan, demi Allah, seluruh ulama yang saya datangi beberapa waktu lalu bicaranya sama, Indonesia target dari radikalisme internasional, untuk dihabisi, setelah itu masuklah mereka," ucapnya.

Kondisi tersebut harus diantisipasi sedini mungkin oleh semua pihak yang cinta NKRI. Jika tidak, Indonesia akan hancur lebur.

BACA JUGA: Berita Duka, Bayu Santoso Meninggal Dunia, Dadanya Tembus Diterjang Peluru

"Jadi, konsepnya Indonesia dibuat berantakan. Kemudian ada pihak tertentu yang masuk berdalih menyelamatkan. Polanya sama persis di Syria," pungkas Haidar.(gir/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler