Komitmen Kemendag Jaga Stabilitas Tahu dan Tempe

Senin, 01 Maret 2021 – 21:04 WIB
Olahan dari kedelai.

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah menyatakan akan menjaga kestabilan bahan baku tahu dan tempe di pasaran.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Syailendra menegaskan, pemerintah bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan berkomitmen menjaga harga kedelai impor.

BACA JUGA: Tempe Langka, LaNyalla Minta Pemerintah Stabilkan Harga Kedelai

Terutama, menurut dia kestabilan di tingkat pengrajin tahu dan tempe, yakni berkisar harga Rp 9.500 per kilogram.


“Meskipun saat ini terjadi sedikit kenaikan harga kedelai dunia, Kementerian Perdagangan menjamin stok kedelai penyediaan Maret 2021 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengrajin tahu dan tempe nasional dengan harga yang stabil dan terjangkau,” kata Syailendra dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Senin (1/3).

BACA JUGA: Tempe dan Tahu sedang Langka, Ini yang Dilakukan Kementan

Dia menyebutkan, kestabilan harga bahan baku akan berdampak pada produk. Ditargetkan harga tahu stabil di kisaran Rp 650 per potong dan harga tempe di kisaran Rp 16 ribu per kilogram.

Dikutip sumber Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai dunia untuk penyediaan Februari 2021 masih berada di kisaran USD 13,71 per bushels dan untuk penyediaan Maret, terdapat kenaikan harga di kisaran +0,8 persen menjadi USD 13,82 per bushels.

Meski demikian, diharapkan harga kedelai dunia dapat segera terkoreksi menurun pada periode selanjutnya.

“Tingginya harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe tersebut merupakan dampak pergerakan harga kedelai dunia sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang,” jelas Syailendra.

Lebih lanjut, Syailendra menyampaikan, sejak paruh kedua tahun lalu harga kedelai dunia mulai merangkak naik hingga hampir 30 persen.

Hal tersebut berdampak pada penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar yang naik menjadi rata-rata 20 persen.

Penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar merupakan dampak dari adanya kenaikan harga kedelai dunia. Karena, kata dia, mayoritas kebutuhan kedelai di Indonesia masih dipenuhi oleh impor.

"Sehingga fluktuasi perkembangan harga komoditi kedelai dunia akan berdampak secara langsung pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia,” ujar Syailendra.

Selanjutnya, Kemendag akan terus memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia.

Hal ini berlaku saat terjadi penurunan ataupun kenaikan harga, guna memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe serta harga tahu dan tempe di pasar berada di tingkat yang wajar.

Syailendra juga mengimbau para importir yang memiliki stok kedelai untuk terus memasok kedelai secara rutin kepada seluruh pengrajin tahu dan tempe.

Termasuk anggota Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), baik di Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Provinsi maupun di Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

“Kami berharap produksi tahu dan tempe dapat terus berjalan dan masyarakat masih tetap mendapatkan tahu dan tempe dengan harga terjangkau,” pungkas Syailendra. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler