KPR Subsidi Indonesia Timur Makin Tumbuh Pesat, Ini Datanya

Senin, 19 Oktober 2015 – 01:35 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - SURABAYA - Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi di Indonesia Timur (Intim) terbilang sangat pesat. Salah satu di antaranya ialah yang terlihat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Padahal, di provinsi lain, seperti Jatim, penyaluran KPR dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tidak mudah karena masih terkendala persediaan lahan.

BACA JUGA: Lima Startups Masuk Program Akselerasi Indosat Ideabox

 ''Di NTT, kebutuhan lahan masih ter-cover. Jadi, di sana KPR-nya tumbuh tinggi,'' kata Adi Suharto Atmadja, kepala wilayah 2 PT BTN Tbk Jateng, Jatim, Bali, NTT, NTB kemarin (18/10). Selain lahannya tersedia, masyarakat di sana masih mengalami backlog. Karena itu, penawaran KPR FLPP akan lebih mudah diterima.

Secara keseluruhan, penyaluran KPR BTN pada Agustus 2015 tumbuh 22 persen. Di NTT, KPR tumbuh 56 persen. Penyaluran KPR subsidi tumbuh 81 persen, sedankan KPR nonsubsidi 63 persen. BTN baru-baru ini meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Pemprov NTT.

BACA JUGA: Kadin Dorong Produk UMKM Berorientasi Ekspor

 ''Dari situ kami menargetkan bisa menyalurkan KPR untuk 4 ribu PNS yang berada di bawah pemprov. Bukan harus KPR subsidi. Tetapi, REI di sana kelihatannya sangat siap untuk proyek rumah subsidi,'' jelas Adi. Kesiapan REI dalam pengembangan rumah bisa jadi sejalan dengan tren pembelian rumah oleh nasabah.

Dari rumah subsidi saja, kata dia, potensinya sangat besar. Jika harga rumah subsidi di NTT Rp 128 juta, potensi kredit yang tersalurkan sekitar Rp 512 miliar. Belum termasuk biaya-biaya tambahan yang lain. ''Kami juga bakal menyasar Pemkot Kupang. Dari situ potensinya besar. Soalnya, sekitar 2 ribu PNS belum punya rumah,'' kata dia.

BACA JUGA: Pabrik Sagu Perhutani di Sorong Masuk Tahap Akhir

 Provinsi lain, misalnya Jatim, Jateng, dan DI Jogjakarta, serta Bali dan NTB, punya tren pertumbuhan KPR yang berbeda. KPR subsidi di Bali justru turun 13,58 persen (yoy), sedangkan KPR nonsubsidi masih tumbuh 19,25 persen. Di NTB, secara keseluruhan, KPR turun 10 persen. Bali, Jateng, dan DI Jogjakarta, serta Jatim masih tumbuh positif. Masing-masing di angka 18,63 persen, 32,06 persen, dan 20,76 persen. (rin/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... E-commerce Asli Indonesia Mampu Tandingi Pemain Global


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler