Kreatif, Fatayat NU Luncurkan Film Pendek Perihal Cegah Perkawinan Anak

Kamis, 07 April 2022 – 20:21 WIB
Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini. Foto: Dok. Fatayat NU

jpnn.com, JAKARTA - Perkawinan anak masih banyak ditemui di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Hal ini berdampak pada risiko tingginya angka kematian ibu dan anak, penularan infeksi menular seksual, dan kekerasan makin meningkat bila dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia di atas 21 tahun.

BACA JUGA: Wahid Foundation Gaet 10 Kreator Konten Bikin Film Pendek Bertema Toleransi dan Anti-Radikalisme

Fakta itu membuat Pengurus Pusat (PP) Fatayat NU terus mengampanyekan bahaya perkawinan anak di Indonesia.

Terbaru, Fatayat NU melaunching sebuah film pendek berjudul "KECELE" yang mengisahkan bahaya perkawinan anak.

BACA JUGA: 10 Proposal Film Pendek Siap Diproduksi Kemendikbudristek

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini dalam sambutannya menyatakan film pendek bedurasi sekira 13 menit itu tergarap berkat kerja sama Fatayat NU dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

“Kita terus menerus mengampanyekan bahaya perkawinan anak. Salah satunya lewat film pendek berjudul KECELE ini. Mudah-mudahan film ini disenangi dan menginspirasi film-film selanjutnya,” kata Anggia di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis, 7 April 2022.

BACA JUGA: Gus Menteri Minta Fatayat NU Bantu Pembangunan Desa di Maluku

Anggia yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu mengaku miris banyaknya kasus perkawinan anak yang masih tetap terjadi dan terekspose di media sosial.

“Kami melihat di Medsos di desa di sejumlah wilayah kasus mengajak nikah muda banyak sekali beredar. Nah, film ini adalah salah satu counter,” ujar Anggia.

Anggia juga menepis banyaknya asumsi yang beredar di tengah masyarakat bahwa perkawinan anak adalah solusi terbaik untuk menjauhi praktik zina.

Dia dengan tegas menyatakan zina memang tidak boleh, tetapi menikah saat masih anak-anak punya dampak negatif yang sangat besar.

“Banyak yang bilang perkawinan anak lebih baik daripada terjerembab ke dalam perzinahan, ini saya nyatakan tidak sepenuhnya benar. Oke, berzina memang tidak boleh, titik, tetapi bukan berarti kerkawinan anak jadi solusi karena memang bahayanya juga sangat besar,” kata Anggia.

Menurut Anggia, menikah bukan hanya menghalalkan hubungan laki-laki dan perempuan, tetapi lebih pada kemampuan membangun nilai yang bisa diterima oleh anak-anaknya sebagai pondasi menatap masa depan.

“Di Mataram ada satu pesantren yang diasuh mbak Baiq, di sana angka pernikahan anak sangat tinggi. Beliau sebagai bu nyai berusaha sekuat tenaga menahan santri-santrinya saat ingin dinikahkan dini oleh keluarganya,” urai Anggia.

Di lokasi yang sama, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengapresiasi cara Fatayat NU mengampanyekan bahaya perkawinan anak dengan berbagai cara kreatif, termasuk di antaranya melalui film pendek berjudul KECELE.

“Filmnya sangat mengena, saya terenyuh, terkejut juga saya setelah melihat film KECELE ini pesan-pesan bisa disampaikan dengan bahasa yang simple, lugas dan alami," kata Hasto.

“BKKBN berterimakasih sekali untuk ibu Anggia dan Fatayat yang sudah lebih kreatif. Mungkin suatu saat bisa dimasukkan pesan biologis tetapi dengan gaya bahasa yang jenaka dan ringan. Misalnya kenapa nikah muda nggak boleh? Ya karena pinggul anak-anak kurang dari 10 cm, padahal lingkar kepala bayi itu lebih dari 10 cm.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Bidang Anak, Ulfah Mawardi juga mengapresiasi karya Fatayat NU tersebut.

Menurutnya, film pendek KECELE sudah sesuai dengan program KPPPA.

“Kita apresiasi ya teman-teman Fatayat tadi filmnya sangat menarik. Pesan bagaimana anak menjadi pelopor dan juga pelapor ini sesuai dengan program KPPA, masuk semua dalam film ini. Film ini sangat interaktif dan edukatif,” kata Ulfah.

Launching film pendek KECELE ini juga diikuti seluruh Pengurus Wilayah Fatayat NU seluruh Indonesia secara virtual.

Tampak pula sebagai pembedah film jurnalis Kompas Sonya Hellen Sinombor, Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Nurul Hidayatul Ummah, Sekum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah serta sejumlah pengurus PP Fatayat NU.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler