Kritik Anak Buah Prabowo soal Kegagalan Pemerintah Cegah Resesi dan Utang Superjumbo

Kamis, 12 November 2020 – 16:50 WIB
Anggota Komisi XI DPR Fraksi Gerindra Heri Gunawan. Foto: dok for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menilai pemerintah gagal menghindarkan perekonomian nasional dari ancaman resesi sebagaimana diprediksi banyak pihak.

Selain resesi, secara kumulatif selama 2020, dari kuartal I, kuartal II, dan kuartal III, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,03 persen.

BACA JUGA: Resesi Ekonomi, Menurut Anis Masalah Ini yang Harus jadi Fokus Pemerintah

"Jadi ada dua pukulan telak, yaitu resesi dan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif yang masih negatif selama 2020," ucap Heri Gunawan dalam keterangan yang diterima jpnn.com, Kamis (12/11).

Menurut Hergun -panggilan Heri Gunawan, kondisi perekonomian Indonesia saat ini mirip krisis ekonomi 1998 yang diawali resesi, serta sikap pemerintah kala itu yang terlalu percaya diri atas fundamental ekonomi.

BACA JUGA: Saran Misbakhun untuk Pemerintah setelah RI Masuki Resesi Ekonomi

Hergun menuding pemerintah memproduksi alibi bahwa perekonomian masih lebih baik dari negara lain. Faktor eksternal selalu dijadikan tameng menutupi kelemahan fundamental ekonomi domestik.

"Fundamental ekonomi yang keropos ditutupi dengan memproduksi utang secara berlebihan. Pemerintah pun tidak segan-segan menawarkan kupon setinggi langit. Akibatnya, utang Indonesia membengkak. Namun target pertumbuhan ekonomi tidak tercapai," tutur legislator Partai Gerindra ini.

BACA JUGA: Jenderal Idham Segera Pensiun, Bisa Jadi 2 Irjen Bakal Dikerek Jadi Calon Kapolri

Padahal, kata Hergun, tidak sedikit ongkos yang dikeluarkan pemerintah untuk mengadang terjadinya resesi, hingga berujung membengkaknya defisit anggaran.

Menurut catatan Kementerian Keuangan, sepanjang Januari-September 2020 defisit APBN mencapai Rp 687,5 triliun atau setara dengan 4,16 persen PDB. Angka itu naik 170,2 persen dari defisit di periode sama tahun 2019 senilai Rp 252,41 triliun.

"Meskipun pemerintah telah menggelontorkan ongkos besar, namun resesi tetap tak terhindarkan," ucap wakil ketua Fraksi Gerindra DPR RI ini.

Dia juga menyebut bahwa utang yang berlebihan ikut memicu terjadinya resesi. Posisi utang pemerintah telah mencapai Rp 5.756,87 triliun per September 2020.

Rasio utang terhadap PDB mencapai 36,4 persen dari PDB. Sekitar 85 persen utang tersebut berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 4.892,57 triliun.

Pada Desember 2019 utang pemerintah hanya Rp 4.778 triliun. Namun, sampai dengan 2020 angkanya bertambah menjadi Rp 5.756,87 triliun. Dengan demikian utang pemerintah telah meningkat senilai Rp 978 triliun.

"Utang dalam jumlah superjumbo ternyata tidak menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi," ujarnya.(fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler