Kronologi Tragedi Metro Mini vs KRL di Muara Angke (Ada Video)

Minggu, 06 Desember 2015 – 22:09 WIB
Ilustrasi. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Insiden kecelakaan Metro Mini vs KRL di Muara Angke berawal dari kecerobohan sang sopir, Asmadi (35). Dia tetap melajukan busnya kendati palang pintu kereta sudah tertutup. 

Tabrakan dengan kereta rel listrik (KRL) di Angke, Tambora, Jakarta, pada Minggu (6/12) pagi pun tak dapat dihindari.

BACA JUGA: Pemilik Nomor Ini Menjadi Korban Kecelakaan

Sebanyak 24 penumpang metro mini harus jadi tumbalnya, 18 di antaranya dinyatakan meninggal dunia. 

Menurut Penjaga Pos Perlintasan Kereta Api Angke, Endang S, sopir metro mini menghiraukan bunyi peringatan serta palang pintu yang tertutup. "Saat itu padahal sudah terdengar suara sirine," terangnya.

BACA JUGA: Seperti Biasa..Hujan Deras, Jakarta Dikepung

Ketika itu, sopir sudah menaikkan sebanyak empat penumpang terlebih dahalu. Lalu, jelas Endang, Metro mini B80 jurusan Kota-Kalideres nomor polisi B 7060 FD itu langsung memacu kendaraannya tanpa menghiraukan suara peringatan.

Memang, papar Endang, palang pintu perlintasan KRL tak cukup panjang. Sehingga sopir metro mini memiliki peluang untuk zig-zag membanting setir ke arah kanan dan membalasnya ke kiri guna melewati palang pintu. 

BACA JUGA: Wanita Penumpang Metro Mini Itu Sempat Beli Gorengan, Sebelum KRL Menghantam

Namun nahas, rencana sang sopir tak begitu matang. Busnya kalah cepat dibandingkan dengan laju KRL yang akhirnya menyeret metro mini dan penumpang 200 meter jauhnya. (mg4/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tragedi di Muara Angke: Cium Anak sebelum Kerja, Mujimin Pergi Selamanya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler